Keputusan Lamborghini untuk tidak buru-buru masuk ke mobil listrik penuh kini terlihat lebih masuk akal di tengah sambutan keras terhadap Ferrari Luce. Reaksi yang muncul terhadap mobil listrik pertama Ferrari itu menunjukkan bahwa pasar supercar masih sangat sensitif ketika identitas merek berubah terlalu jauh sekaligus.
Sorotan terbesar terhadap Luce datang bukan hanya dari penggemar, tetapi juga dari investor. Banyak yang menilai Ferrari bergerak terlalu radikal karena mengubah desain, konfigurasi, dan sumber tenaga dalam satu langkah besar.
Bukan sekadar Ferrari listrik pertama
Luce memang menjadi mobil listrik pertama Ferrari, tetapi posisinya jauh lebih kontroversial dari sekadar debut EV. Model ini hadir sebagai mobil lima pintu dengan konfigurasi lima penumpang, sesuatu yang membuatnya berbeda tajam dari citra Ferrari yang biasa dikenal lewat bentuk sport yang lebih ketat.
Ferrari juga membawa bangku belakang untuk tiga penumpang pada model produksi ini. Bagi sebagian penggemar, format seperti itu terasa terlalu jauh dari karakter khas Ferrari dan membuat hubungan dengan DNA merek terasa makin renggang.
Perubahan tersebut memicu penolakan karena dianggap menyentuh terlalu banyak elemen sekaligus. Desainnya dinilai jauh dari pakem Ferrari, harganya dianggap terlalu tinggi, dan hilangnya mesin pembakaran internal semakin memperbesar kekecewaan.
Ferrari tetap menonjolkan performa
Di tengah kontroversi itu, Ferrari tetap menekankan bahwa Luce bukan mobil listrik biasa. Mobil ini dibekali empat motor listrik independen dengan tenaga gabungan 1.050 hp dan torsi 990 Nm.
Ferrari juga menggunakan penggerak all-wheel drive dan torque vectoring di masing-masing roda. Kombinasi ini menunjukkan bahwa pabrikan asal Maranello itu tetap berusaha menjaga karakter dinamis meski seluruh tenaga datang dari listrik.
Namun, angka performa saja belum cukup meredakan kritik. Di segmen seperti ini, pelanggan tidak hanya membeli spesifikasi, tetapi juga identitas yang sudah terbentuk lama.
Lamborghini memilih langkah yang lebih hati-hati
Berbeda dengan Ferrari, Lamborghini justru mengambil jalur yang lebih konservatif. CEO Lamborghini Stephan Winkelmann menegaskan bahwa strategi elektrifikasi perusahaan tidak akan bertumpu pada EV murni untuk saat ini.
Winkelmann menyebut transisi dari mesin pembakaran internal ke plug-in hybrid sebagai langkah yang sangat penting dan berhasil bagi Lamborghini. Ia juga mengatakan hasil pemantauan pasar belum menunjukkan peningkatan penerimaan terhadap mobil listrik di kalangan pelanggan Lamborghini.
Karena itu, Lamborghini memilih fokus pada Plug-in Hybrid Vehicle ketimbang memaksakan mobil listrik penuh. Pendekatan ini terlihat lebih terukur untuk merek yang sangat bergantung pada loyalitas pembeli supercar.
Proyek Lanzador ikut berubah arah
Keputusan itu juga berkaitan dengan proyek EV Lamborghini bernama Lanzador. Proyek tersebut sempat dikembangkan, tetapi kemudian dinyatakan batal diproduksi.
Situasi tersebut membuat strategi Lamborghini tampak lebih aman dibanding memaksa masuk ke pasar yang belum sepenuhnya siap menerima perubahan ekstrem. Dalam segmen ultra-premium, risiko kehilangan karakter merek sering kali lebih berat daripada sekadar mengejar teknologi baru.
Reaksi terhadap Ferrari Luce menjadi contoh bagaimana lompatan ke mobil listrik penuh dapat memicu resistensi ketika dianggap memutus terlalu banyak unsur inti merek. Saat desain, format kabin, dan sumber tenaga berubah sekaligus, pasar pun memberi respons yang jauh lebih keras.
Di titik inilah keputusan Lamborghini terlihat mendapat pembenaran. Untuk sementara, memilih plug-in hybrid tampak lebih sejalan dengan suara pelanggan mobil performa kelas atas yang masih berhati-hati terhadap mobil listrik penuh.
Source: otodriver.com




