Bagi peternak kambing, pakan fermentasi sering dipilih bukan semata karena lebih murah, tetapi karena cara ini membantu kerja kandang jadi lebih ringan. Pakan dapat disiapkan lebih dulu, lalu disimpan dalam kondisi yang tepat supaya tidak cepat rusak.
Dampaknya bukan hanya pada efisiensi harian. Pakan yang sudah difermentasi juga membuat kambing lebih mudah mencerna makanan, sehingga nafsu makan dan penyerapan nutrisi ikut terdorong.
Di balik manfaat itu, fermentasi bekerja dengan bantuan mikroorganisme seperti bakteri, ragi, dan jamur. Proses ini menguraikan struktur kimia bahan pakan sehingga zat gizi di dalamnya lebih mudah dimanfaatkan ternak.
Perubahan yang terjadi juga menyentuh kualitas nutrisi. Kandungan protein dapat menjadi lebih baik karena ada tambahan asam amino esensial, sementara vitamin dan mineral menjadi lebih tersedia untuk tubuh kambing.
Pada beberapa bahan mentah, fermentasi ikut menekan zat antinutrisi. Daun singkong menjadi salah satu contoh yang sering disebut karena memiliki sianida, tetapi setelah difermentasi bahan ini bisa berubah menjadi lebih aman dan lebih mudah dicerna.
Lebih lunak, lebih mudah masuk ke sistem cerna
Tekstur pakan fermentasi umumnya lebih lunak dibanding bahan asalnya. Kondisi ini membantu kambing mengunyah dengan lebih mudah dan membuat proses pencernaan berjalan lebih efisien.
Serat kasar yang berkurang juga memberi pengaruh penting. Sistem cerna tidak perlu bekerja seberat saat menghadapi pakan konvensional, sehingga penyerapan nutrisi bisa berlangsung lebih optimal.
Pakan fermentasi bahkan disebut mengandung probiotik alami yang membantu menjaga keseimbangan flora usus. Saat kondisi usus lebih stabil, kambing cenderung lebih tahan terhadap penyakit dan pertumbuhannya dapat berlangsung lebih cepat.
Dalam salah satu keterangan, kambing dengan pakan yang lebih baik dan pencernaan yang sehat bisa mencapai pertumbuhan dalam 3 bulan. Dengan pakan konvensional, waktu yang dibutuhkan disebut bisa mencapai 6 bulan.
Membantu peternak dari sisi waktu dan kebersihan
Keuntungan lain yang membuat pakan fermentasi diminati adalah kemudahan pengelolaan. Peternak tidak harus selalu mencari hijauan segar setiap hari karena pakan bisa disiapkan sebelumnya.
Proses ini juga memberi efek tambahan pada kandang. Fermentasi dapat mengurangi bau kotoran ternak, sehingga lingkungan kandang terasa lebih bersih dan lebih nyaman bagi peternak maupun area sekitar.
Untuk bahan bakunya, peternak biasanya memanfaatkan hijauan atau limbah pertanian yang mudah ditemukan. Jerami padi, rumput gajah, daun singkong, tongkol jagung, dan gedebog pisang termasuk bahan yang umum dipakai.
Bahan tersebut biasanya dicacah lebih dulu agar mudah dicampur dan difermentasi. Pada skala kecil, pencacahan bisa memakai golok, sedangkan skala lebih besar sering menggunakan mesin chopper agar hasilnya seragam dan pekerjaan lebih cepat.
Campuran bahan dan tahap yang perlu dijaga
Setelah bahan siap, peternak mencampurkannya dengan sumber energi dan protein. Dedak padi atau bekatul kerap digunakan sebagai sumber karbohidrat, sedangkan ampas tahu sering ditambahkan karena kandungan proteinnya tinggi.
Molase atau larutan gula merah berperan sebagai sumber energi bagi mikroorganisme. Bahan lain yang penting adalah starter fermentasi seperti EM4 peternakan atau probiotik sejenis, serta garam untuk membantu melengkapi mineral dan mendukung proses fermentasi.
Larutan starter biasanya dibuat dari EM4 peternakan, molase atau gula merah yang dilarutkan, dan air. Setelah dicampur, larutan itu didiamkan sekitar 15 hingga 20 menit sebelum digunakan.
Campuran bahan lalu disemprot sedikit demi sedikit sampai basah merata, tetapi tidak berlebihan. Kadar air yang terlalu tinggi bisa memicu kegagalan fermentasi, sehingga keseimbangan bahan harus benar-benar dijaga.
Setelah itu, bahan dimasukkan ke drum plastik bekas atau kantong plastik tebal. Campuran perlu dipadatkan agar rongga udara hilang, lalu wadah ditutup rapat supaya kondisi anaerobik terbentuk.
Pemeraman biasanya berlangsung antara 3 hari hingga 21 hari, tergantung bahan dan metode yang digunakan. Selama proses ini, wadah harus tetap kedap udara agar fermentasi berjalan baik.
Ciri berhasil dan cara menyimpannya
Pakan fermentasi yang berhasil umumnya memiliki aroma harum seperti tape atau asam segar. Warnanya boleh sedikit berubah, tetapi tidak drastis, dan teksturnya menjadi lebih remah serta mudah hancur.
Sebaliknya, tanda kegagalan terlihat dari bau busuk yang menyengat, munculnya jamur atau kapang, serta tekstur yang berlendir atau terlalu basah. Pakan dengan ciri seperti itu tidak layak diberikan kepada ternak karena berisiko bagi kesehatan.
Penyimpanan juga perlu diperhatikan agar kualitas pakan tetap terjaga. Wadah harus kedap udara dan diletakkan di tempat teduh, sementara setiap kali pakan diambil, wadah perlu segera ditutup kembali.
Dalam kondisi yang tepat, fermentasi hijauan dalam silo tertutup rapat bisa bertahan 1 sampai 2 tahun. Sementara itu, fermentasi dedak padi dapat disimpan hingga 3 bulan dalam keadaan kering.
Meski punya banyak keunggulan, pakan fermentasi lebih tepat dipakai sebagai suplemen atau pakan tambahan. Komposisinya tetap perlu disesuaikan dengan kebutuhan ternak agar manfaatnya optimal dan tidak menggantikan pakan utama sepenuhnya.