Bagi peternak bebek, cara menekan biaya pakan sering menjadi perhatian utama. Salah satu pilihan yang mulai menarik perhatian adalah mengolah limbah dapur organik menjadi pakan fermentasi yang lebih awet dan lebih mudah dicerna.
Bahan yang sebelumnya hanya berakhir di tempat sampah itu bisa dimanfaatkan kembali selama dipilah dengan benar. Sisa sayuran, nasi, kulit buah, hingga sisa lauk pauk dapat masuk ke campuran pakan, asalkan tidak tercampur plastik, staples, tulang besar yang keras, atau benda lain yang tidak layak.
Kunci utamanya ada pada proses fermentasi. Dengan bantuan bakteri baik, serat kasar pada bahan organik dapat diurai, kadar protein dapat meningkat, dan bakteri patogen yang tidak diinginkan bisa ditekan.
Hasil proses ini bukan hanya soal penghematan. Pakan yang sudah difermentasi biasanya menjadi lebih lunak, punya aroma khas yang disukai ternak, dan lebih mudah diserap nutrisinya oleh bebek.
Bahan yang perlu disiapkan
Untuk membuatnya, peternak tidak memerlukan alat yang rumit. Pisau atau parang, talenan, ember plastik besar atau tong bertutup rapat, serta gelas atau wadah kecil untuk melarutkan bahan fermentasi sudah cukup.
Selain limbah dapur organik, dibutuhkan dedak padi atau jagung giling. Bahan ini berfungsi sebagai tambahan karbohidrat, penyerap kelembapan, dan sumber energi dalam campuran pakan.
Starter fermentasi yang dipakai adalah EM4 Peternakan dan molase. Jika tidak ada, molase dapat diganti dengan gula merah atau gula pasir, sedangkan air bersih tetap diperlukan.
Air yang mengandung kaporit sebaiknya dihindari agar proses fermentasi berjalan baik. Karena itu, bahan cair yang dipakai perlu benar-benar mendukung pertumbuhan bakteri baik.
Langkah pengolahan yang perlu diperhatikan
Limbah dapur yang sudah dipilih bisa dibilas singkat bila terlihat sangat kotor. Setelah itu, bahan dicacah kecil-kecil sekitar 0,5 sampai 1 sentimeter supaya bakteri bekerja lebih cepat dan pakan lebih mudah dimakan bebek.
Larutan dekomposer dibuat dengan mencampurkan 2 tutup botol EM4 Peternakan dan 2 tutup botol molase atau air gula ke dalam satu gayung air bersih. Campuran itu diaduk rata lalu didiamkan 15 hingga 20 menit agar bakteri aktif.
Setelah larutan siap, limbah dapur yang sudah dicacah dicampur dengan dedak padi dengan perbandingan sekitar 3:1. Larutan EM4 aktif kemudian disiramkan sedikit demi sedikit sambil bahan terus diaduk hingga merata.
Kadar air menjadi bagian penting dalam tahap ini. Adonan yang ideal tidak terlalu basah dan tidak terlalu kering, sehingga uji sederhana dengan metode kekepalan bisa dilakukan.
Jika diremas, adonan yang pas akan menggumpal, tidak meneteskan air, dan tidak buyar saat kepalan dibuka. Bila terlalu basah, dedak bisa ditambahkan, sedangkan jika terlalu kering, percikan air secukupnya dapat diberikan.
Pemeraman dan tanda hasil yang baik
Adonan yang sudah selesai dicampur lalu dimasukkan ke ember atau tong dan dipadatkan sekuat mungkin. Tujuannya untuk mengurangi ruang udara, lalu wadah ditutup rapat agar kondisi tetap kedap.
Proses pemeraman biasanya berlangsung sekitar 4 hingga 5 hari, meski secara umum fermentasi bisa memakan waktu 3 hingga 7 hari tergantung suhu dan jenis bahan. Selama proses ini, wadah sebaiknya tetap tertutup rapat, bahkan bisa dilapisi kantong plastik agar lebih kedap udara.
Pakan yang berhasil umumnya mengeluarkan aroma mirip tape atau ragi dengan kesan asam manis segar. Jamur putih tipis di permukaan masih dianggap wajar dan menandakan proses berjalan benar.
Sebaliknya, jamur hitam atau hijau, bau busuk, dan tekstur yang tampak membusuk menjadi tanda pakan tidak layak digunakan. Saat akan diberikan, pakan sebaiknya diambil secukupnya lalu diangin-anginkan sekitar 10 menit agar sisa gas alkohol menguap.
Setelah itu, tong harus segera ditutup kembali rapat supaya pakan tetap awet. Dalam kondisi kedap udara, pakan bisa bertahan 2 hingga 3 minggu, bahkan disebut dapat awet berbulan-bulan.
Penyimpanan juga perlu dilakukan di tempat teduh, kering, dan tidak terkena sinar matahari langsung. Dengan cara itu, kualitas pakan lebih terjaga sebelum diberikan ke ternak.
Pemberian ke bebek dilakukan bertahap
Pakan fermentasi ini umumnya siap diberikan pada bebek berusia 20 hari atau lebih. Jika ternak belum terbiasa, porsi awal sebaiknya dimulai dari 20 persen pakan fermentasi yang dicampur dengan pakan biasa.
Porsi tersebut bisa dinaikkan bertahap setiap hari hingga mencapai 100 persen. Di sisi lain, peternak tetap perlu menghindari limbah berminyak berlebihan, makanan basi berjamur, dan bahan pedas karena dapat mengganggu kesehatan bebek.