Peringatan Hari Lahir Pancasila di Plaza Balai Kota Bandung menjadi ruang bagi Wali Kota Bandung Muhammad Farhan untuk menyoroti satu hal yang menurutnya paling mendesak: menjaga persatuan di tengah masyarakat yang terus berubah. Ia menempatkan Pancasila sebagai pegangan bersama yang tidak boleh berhenti di level seremonial.
Farhan menilai nilai-nilai Pancasila tetap relevan ketika dunia dipenuhi ketidakpastian, konflik antarnegara, dan dinamika global yang bergerak cepat. Karena itu, ia meminta warga Bandung tidak memandang Pancasila hanya sebagai dasar negara, melainkan sebagai ideologi hidup yang bekerja dalam sikap dan tindakan sehari-hari.
Dalam pandangannya, Pancasila lahir dari nilai yang sudah lama tumbuh dalam kehidupan bangsa Indonesia. Ia menyebutnya sebagai fondasi yang menjaga arah perjalanan Indonesia, sekaligus jangkar moral agar bangsa tidak kehilangan pegangan saat menghadapi perubahan.
Tema peringatan kali ini, “Pancasila Pemersatu Bangsa, Fondasi Perdamaian Dunia”, juga dianggap Farhan sejalan dengan kebutuhan masyarakat majemuk seperti Bandung. Ia menilai semangat itu penting untuk terus dirawat karena persatuan tidak bisa dipisahkan dari keberagaman yang hidup di kota besar.
Farhan juga mengaitkan pesan itu dengan peran Indonesia dalam menjaga stabilitas dan perdamaian kawasan. Menurutnya, semangat tersebut mencerminkan sila kedua Pancasila, yakni Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, yang menuntut perdamaian berjalan bersama penghormatan terhadap manusia.
Bagi Farhan, perdamaian tidak cukup diartikan sebagai berhentinya konflik bersenjata. Ia menegaskan bahwa perdamaian juga harus hadir dalam bentuk keadilan yang dirasakan seluruh umat manusia, termasuk dalam kehidupan di tingkat daerah.
Ia menyoroti bahwa pemerataan manfaat pembangunan, pertumbuhan ekonomi, dan perkembangan teknologi harus bisa dirasakan secara adil oleh semua warga. Tanpa arah moral dari Pancasila, kemajuan justru berisiko memunculkan kesenjangan sosial dan penyimpangan dalam kehidupan berbangsa.
“Kemajuan ekonomi dan kemajuan teknologi harus bisa dirasakan secara adil dan merata oleh seluruh warga Kota Bandung,” ujarnya. Pernyataan itu menegaskan bahwa pembangunan tidak hanya diukur dari laju kemajuan, tetapi juga dari seberapa merata manfaatnya.
Farhan kemudian memberi perhatian khusus kepada generasi muda. Ia meminta mereka menjadikan Pancasila sebagai living ideology atau ideologi yang hidup dalam pikiran dan tindakan, bukan sekadar hafalan yang berhenti di ruang formal.
Ia juga mengingatkan warga agar nilai luhur Pancasila tidak jatuh menjadi slogan kosong. Pesan itu ia sampaikan untuk memperkuat kembali komitmen kebangsaan dan memastikan toleransi tetap terjaga di tengah dinamika sosial yang terus bergerak.
Upacara tersebut dihadiri jajaran Forkopimda, pimpinan dan anggota DPRD Kota Bandung, unsur TNI-Polri, instansi vertikal, organisasi kemasyarakatan, organisasi keagamaan, tokoh masyarakat, Legiun Veteran, Gerakan Pramuka, serta perangkat daerah di lingkungan Pemkot Bandung. Kehadiran lintas unsur itu memperlihatkan bahwa ajakan menjaga persatuan mendapat tempat dalam forum resmi kenegaraan di ibu kota provinsi tersebut.
Source: mediaindonesia.com




