Dorongan menuju kendaraan listrik di Indonesia belum bisa berjalan dengan pola yang seragam di semua daerah. Di tengah kondisi itu, INDEF menilai biofuel justru punya peran penting sebagai penopang transisi, bukan sebagai lawan bagi EV.
Biodiesel dan bioetanol dipandang bisa menjaga kebutuhan energi transportasi tetap terpenuhi saat infrastruktur pengisian kendaraan listrik belum tersedia merata. Karena itu, biofuel disebut lebih tepat ditempatkan sebagai jembatan menuju elektrifikasi transportasi.
Biofuel dipandang sebagai solusi transisi
Kepala Center of Industry, Trade, and Investment INDEF Andry Satrio Nugroho menyebut biofuel dapat berfungsi sebagai bahan bakar penghubung menuju EV. Pandangan ini muncul dari kesadaran bahwa perubahan sistem transportasi tidak cukup hanya dengan mengganti jenis kendaraan.
Menurut Andry, transisi energi juga menuntut kesiapan ekosistem pendukung yang memadai. Selama fasilitas untuk EV belum terbentuk secara luas, kebutuhan mobilitas harian masyarakat tetap membutuhkan sumber energi yang mudah diakses.
Karena itu, pendekatan yang dianggap paling realistis adalah mendorong EV tanpa mengabaikan biofuel. Dua jalur itu dinilai bisa berjalan bersamaan agar proses transisi tidak tersendat oleh persoalan kesiapan infrastruktur.
Wilayah 3T masih jadi tantangan besar
INDEF menyoroti bahwa kebutuhan energi transportasi di Indonesia sangat beragam antarwilayah. Kondisi ini membuat penerapan solusi tunggal sulit dilakukan, terutama di daerah yang akses infrastrukturnya masih terbatas.
Perhatian khusus diberikan pada wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar atau 3T. Di kawasan seperti ini, fasilitas pendukung untuk kendaraan listrik masih belum tersebar luas, sehingga masyarakat berpotensi kesulitan jika transisi dipaksakan terlalu cepat.
Dalam situasi tersebut, biodiesel dan bioetanol dinilai tetap relevan sebagai opsi yang lebih praktis. Biofuel memungkinkan kebutuhan perjalanan masyarakat tetap terpenuhi sambil menunggu ekosistem EV berkembang di daerah tersebut.
Andry menegaskan, “Di beberapa wilayah masih dibutuhkan (BBM), sembari kita bisa menunggu infrastruktur dari EV-nya tercipta di wilayah tersebut.” Pernyataan itu menegaskan bahwa transisi energi tidak bisa diberlakukan dengan pendekatan yang sama untuk semua daerah.
Kebijakan biodiesel terus diperkuat
Di sisi lain, pemerintah juga terus memperkuat penggunaan biodiesel dalam bauran energi nasional. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menyampaikan mandatori biodiesel 50 persen atau B50 akan diterapkan serentak untuk seluruh sektor mulai 1 Juli 2026.
Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi ESDM Eniya Listiani Dewi mengatakan B50 masih menjalani uji jalan untuk sektor otomotif. Pengujian itu dimulai sejak 9 Desember 2025 dan melibatkan 9 unit kendaraan.
Setelah uji jalan selesai, pemerintah akan memeriksa kondisi mesin untuk melihat dampak penggunaan bahan bakar tersebut. Pemeriksaan dan pengujian untuk sektor otomotif ditargetkan rampung pada Juni 2026 sebelum kebijakan diterapkan lebih luas.
Eniya juga menyampaikan bahwa hasil sementara menunjukkan kualitas bahan bakar B50 sudah memenuhi spesifikasi yang dipersyaratkan. Temuan ini menjadi sinyal bahwa campuran biodiesel yang lebih tinggi masih memungkinkan untuk diadopsi.
Bioetanol masih bergerak dalam skala terbatas
Selain biodiesel, bioetanol juga masuk dalam strategi transisi energi transportasi. Namun, pemanfaatannya pada mesin bensin masih terbatas pada standar E5 atau campuran etanol 5 persen.
Produk tersebut sudah tersedia di SPBU Pertamina dengan nama Pertamax Green. Kehadiran produk ini menunjukkan bahwa bioetanol sudah masuk pasar, meski penggunaannya belum besar dibanding kebutuhan energi transportasi nasional.
Dengan kondisi itu, bioetanol dan biodiesel belum ditempatkan sebagai pengganti penuh EV. Keduanya masih berfungsi sebagai penopang sementara di tengah keterbatasan infrastruktur pengisian kendaraan listrik.
Transisi bertahap dianggap paling masuk akal
Bagi INDEF, perkembangan EV tetap penting untuk masa depan transportasi rendah emisi. Namun, proses menuju ke sana perlu disusun bertahap agar kebutuhan transportasi dan logistik tetap aman selama perubahan berlangsung.
Biofuel memberi ruang bagi Indonesia untuk menjaga ketersediaan energi sekaligus mengurangi ketergantungan pada BBM fosil secara perlahan. Sementara itu, pembangunan infrastruktur EV tetap harus terus dipacu agar jangkauannya makin luas.
Dalam kerangka seperti ini, biodiesel dan bioetanol tidak hanya berperan sebagai pelengkap. Keduanya juga menjadi alat untuk menjaga stabilitas pasokan energi transportasi sampai ekosistem kendaraan listrik benar-benar siap di seluruh wilayah.
Source: www.cnnindonesia.com