Di Massachusetts, Piala Dunia justru memunculkan dua rasa yang berjalan bersamaan di banyak komunitas imigran: semangat untuk merayakan dan kekhawatiran soal ongkos yang tidak kecil. Turnamen yang biasanya menjadi ajang kebanggaan dan kebersamaan itu kini terasa lebih jauh bagi sebagian penggemar karena tiket, perjalanan, dan keterbatasan ruang berkumpul membuat akses ke pesta sepak bola tidak semudah yang dibayangkan.
Di sejumlah komunitas, obrolan tentang turnamen ini tidak hanya berkisar pada tim favorit atau jadwal pertandingan. Banyak warga juga memikirkan apakah mereka sanggup hadir langsung, di mana bisa menonton bersama, dan seaman apa suasana perayaannya di tengah bayang-bayang kebijakan imigrasi Amerika Serikat.
Bagi Humayun Morshed di Medford, kenangan tentang Piala Dunia tetap kuat. Warga asal Bangladesh itu masih menyimpan antusiasme terhadap turnamen, tetapi biaya yang terus naik membuatnya sulit mengajak putranya, Ariq, yang duduk di kelas sembilan, untuk menyaksikan pertandingan langsung.
Keluhan serupa terdengar luas di kalangan penggemar sepak bola imigran di negara bagian itu. Bruno Contreras, direktur organisasi nirlaba Soccer Without Borders di Massachusetts, melihat minat dari pemain muda dan orang tua mereka memang tumbuh, namun harga tiket membuat banyak orang merasa sepak bola semakin jauh dari pendukung yang paling setia.
Untuk laga Skotlandia melawan Haiti, tiket termurah di Ticketmaster pada akhir pekan lalu berada di kisaran 800 dolar. Biaya itu belum termasuk sekitar 80 dolar untuk perjalanan pulang-pergi dengan kereta komuter ke stadion pada hari pertandingan.
Rachid Chakri, asisten dokter asal Maroko yang tinggal di Malden, merasakan langsung perubahan itu. Empat tahun lalu ia terbang ke Qatar dan menonton dua laga tim favoritnya, Atlas Lions, tetapi kali ini harga yang tinggi membuat kehadirannya di Foxborough saat Maroko melawan Skotlandia pada 19 Juni menjadi sulit diwujudkan.
Komunitas besar, ruang meriah yang terbatas
Meski banyak yang terhalang biaya, Massachusetts tetap menjadi rumah bagi komunitas imigran yang punya ikatan kuat dengan negara-negara peserta. Sekitar 45.000 warga Haiti tinggal di negara bagian ini, dan mereka diperkirakan akan hadir saat Haiti menghadapi Skotlandia pada laga pertama turnamen di Gillette pada 13 Juni.
Inggris, Prancis, Ghana, Irak, Maroko, dan Norwegia juga masuk dalam grup Boston. Dengan latar itu, Piala Dunia berpeluang menjadi momen penting untuk mendukung negara asal sekaligus merayakan keberagaman yang sudah lama membentuk kawasan ini.
Namun, bagi penggemar yang ingin berkumpul di ruang publik, pilihannya tidak banyak. Kota-kota dan wilayah setempat kesulitan memperoleh izin dari FIFA untuk menggelar watch party resmi di lingkungan mereka.
Di Lowell, Vaal Thawnghmung yang keluarganya berasal dari Myanmar mencoba mengisi kekosongan itu. Ia mengorganisasi turnamen sepak bola di University of Massachusetts Lowell yang menurutnya ingin meniru semangat Piala Dunia.
Bayang-bayang kebijakan imigrasi
Sejumlah tokoh komunitas menilai suasana turnamen juga tidak bisa dilepaskan dari kebijakan imigrasi AS. Contreras menyebut kebijakan yang keras dapat merusak sifat global dan identitas multikultural Piala Dunia, apalagi komunitas imigran dalam beberapa tahun terakhir telah menjadi sasaran.
Mohanad Mossalam, warga Malden asal Mesir yang melatih sepak bola usia muda, merasakan kekhawatiran yang sejalan. Ia tumbuh besar di Mesir sambil menonton Piala Dunia bersama ayahnya, lalu mencoba meneruskan tradisi itu kepada anak-anaknya yang sangat menyukai sepak bola.
Bagi Mossalam, pengalaman menjadi warga Amerika dengan akar dari negara lain justru memberi makna tambahan. Ia melihat seseorang bisa mendukung Mesir lewat Mohamed Salah dan tetap bersorak untuk Amerika Serikat tanpa merasa harus memilih salah satu.
Euforia yang belum sepenuhnya meledak
Di kawasan Boston, suasana khas Piala Dunia belum dirasakan semua orang dengan intensitas yang sama. Olf Mouyaka, guru dan pelatih sepak bola di Cambridge yang mendirikan Football Leadership Opportunity, berharap bisa melihat warna-warna suporter, mendengar drum, dan menyaksikan nyanyian di tribun.
Menurutnya, atmosfer seperti itu belum terasa kuat di New England, terutama di Boston. Karena itu, sebagian pelaku komunitas berharap gelombang semangat akan menguat ketika pertandingan benar-benar dimulai.
Contreras juga menaruh harapan pada cerita-cerita di balik laga yang sering memberi makna lebih besar daripada skor. Ia menyinggung kemenangan Senegal atas juara bertahan Prancis pada 2002 sebagai contoh pertandingan yang membawa lapisan sejarah di luar lapangan karena latar kolonial kedua negara.
Ia berharap Massachusetts memiliki momen serupa lewat aktivitas yang lebih terbuka. Rencananya mencakup street soccer, turnamen, dan watch party yang dibuat inklusif serta mudah diakses, bukan hanya untuk segelintir orang.
Source: www.bostonglobe.com




