Pasar kendaraan niaga listrik di Indonesia mulai bergerak ke arah yang lebih serius ketika kebutuhan efisiensi operasional semakin sulit diabaikan. Di tengah dorongan itu, Foton Indomobil menampilkan dua model yang punya karakter sangat berbeda, yaitu eTunland dan eView Connect, sebagai jawaban untuk dua kebutuhan logistik yang sama-sama menuntut ketahanan kerja tinggi.
Perbedaan keduanya terlihat jelas sejak awal. eTunland disiapkan untuk pekerjaan berat dan medan yang lebih menantang, sedangkan eView Connect ditujukan untuk distribusi perkotaan serta pengantaran jarak dekat yang menuntut kelincahan. Kehadiran dua model ini menunjukkan bahwa elektrifikasi di segmen komersial tidak lagi sekadar wacana, melainkan mulai diarahkan menjadi pilihan bisnis yang bisa dihitung secara konkret.
eTunland dibangun untuk tugas yang lebih berat
Sebagai double cabin listrik dengan penggerak 4×4, eTunland masuk ke kategori kendaraan yang disiapkan untuk operasional semi-industri. Sektor ini biasanya membutuhkan kendaraan yang bukan hanya hemat energi, tetapi juga sanggup bekerja di kondisi yang lebih sulit dari rutinitas perkotaan biasa.
Foton membekali model ini dengan motor listrik bertenaga hingga 114 hp dan torsi 290 Nm. Di atas kertas, angka tersebut memberi gambaran bahwa eTunland tidak sekadar hadir sebagai kendaraan listrik, tetapi benar-benar diarahkan untuk kebutuhan kerja yang menuntut daya dorong besar dan kestabilan saat membawa beban.
Dukungan lain datang dari baterai LFP berkapasitas 88 kWh yang memakai sistem pendingin cairan. Kombinasi ini penting untuk menjaga performa tetap stabil saat kendaraan dipakai dalam durasi panjang, terutama ketika operasi lapangan tidak memberi banyak ruang untuk berhenti.
Dari sisi jarak tempuh, eTunland diklaim mampu mencapai hingga 400 km dalam penggunaan riil. Selain itu, pengisian daya cepat DC disebut hanya memerlukan sekitar 42 menit untuk mengisi dari 20 persen ke 80 persen, sebuah angka yang relevan bagi pelaku usaha yang membutuhkan waktu henti sesingkat mungkin.
Secara dimensi, eTunland juga menunjukkan bahwa kendaraan ini memang disiapkan untuk kebutuhan niaga yang serius. Wheelbase-nya 3.110 mm dengan gross vehicle weight 3.200 kg, sementara harga indikasinya berada di kisaran Rp780 juta OTR Jakarta.
eView Connect menyasar distribusi kota yang padat
Jika eTunland bergerak di wilayah kerja yang lebih berat, eView Connect mengambil posisi sebaliknya. Van listrik kompak ini difokuskan untuk distribusi urban dan last-mile delivery, yaitu skema pengiriman yang menuntut ukuran kendaraan lebih mudah dikendalikan di jalan padat.
Foton menyebut model ini menawarkan ruang kargo yang luas tanpa membuat bodinya sulit bermanuver. Hal itu menjadi penting di lingkungan perkotaan yang sering memaksa pengemudi berhenti, berbelok, dan masuk ke area sempit berulang kali sepanjang hari.
Untuk sumber tenaga, eView Connect dibekali baterai sekitar 50 kWh. Jarak tempuhnya diklaim dapat mencapai hingga 300 km berdasarkan standar WLTC, sedangkan pengisian DC fast charging disebut membutuhkan sekitar 35 menit untuk mengisi dari 20 persen ke 80 persen.
Kebutuhan operasional harian juga terlihat dari fitur yang dibawa. Kendaraan ini dilengkapi konektivitas telematika, sistem bantuan pengemudi, dan monitoring kendaraan yang membantu pengelolaan armada. Bagi distribusi dengan pola stop-and-go, fitur seperti ini dapat mendukung efisiensi pemantauan sekaligus menjaga ritme kerja tetap terjaga.
Strategi Foton tidak berhenti pada dua model
Di GIICOMVEC 2026, Foton tidak hanya menampilkan eTunland dan eView Connect. Merek ini juga memperlihatkan lini lain seperti eTruckmate, eMiler, dan eAumark 14 Ton, yang menunjukkan bahwa pengembangan kendaraan niaga listrik tidak diposisikan sebagai proyek tunggal.
Seluruh kendaraan tersebut dikembangkan melalui kolaborasi dengan karoseri lokal Indonesia. Langkah ini penting karena kebutuhan logistik di lapangan kerap menuntut penyesuaian khusus, mulai dari bentuk bak hingga fungsi operasional yang berbeda-beda antar pelaku usaha.
Pendekatan tersebut juga memperlihatkan bahwa Foton ingin membangun ekosistem, bukan hanya menjual produk. Fokusnya mencakup layanan purna jual dan kemitraan yang bisa memperkuat pemakaian kendaraan di lapangan, terutama untuk pasar yang masih membutuhkan kepastian sebelum beralih penuh ke listrik.
Masih ada tantangan, tetapi peluangnya terbuka
Meski menawarkan efisiensi operasional, kendaraan niaga listrik tetap menghadapi hambatan yang tidak kecil. Infrastruktur pengisian daya, ketersediaan suku cadang, dan edukasi pengguna masih menjadi pekerjaan bersama yang perlu dibenahi agar transisi berjalan lebih mulus.
Di sisi lain, kombinasi antara performa yang memadai, potensi biaya operasional jangka panjang yang lebih efisien, dan dukungan ekosistem lokal memberi ruang bagi model seperti eTunland dan eView Connect untuk diterima lebih luas. Di tengah kebutuhan logistik yang terus tumbuh, keduanya mulai terlihat sebagai pilihan yang makin masuk akal bagi pelaku usaha yang ingin berhitung lebih cermat soal efisiensi.





