Perubahan arah Indosat Ooredoo Hutchison semakin terlihat ketika perusahaan menempatkan kecerdasan buatan sebagai inti strategi bisnis. Namun, langkah itu tidak berdiri sendiri karena ISAT juga menjadikan ESG sebagai kerangka yang menjaga agar transformasi digital tetap berada dalam jalur yang bertanggung jawab.
Kombinasi dua agenda tersebut menunjukkan bahwa Indosat tidak sekadar ingin memperkuat layanan digital. Perusahaan juga berupaya membangun model bisnis baru sebagai perusahaan telekomunikasi digital berorientasi tujuan atau AI-TechCo.
ESG menjadi penyeimbang dalam transformasi
Dalam laporan keberlanjutan yang terbit pada April, Indosat menegaskan bahwa inovasi berbasis kecerdasan buatan harus berjalan beriringan dengan prinsip lingkungan, sosial, dan tata kelola. Pendekatan ini membuat transformasi perusahaan tidak hanya dinilai dari sisi kecepatan adopsi teknologi, tetapi juga dari dampaknya bagi keberlanjutan.
Kerangka ESG yang dijalankan ISAT tidak diposisikan sebagai pelengkap. Di dalamnya terdapat tiga pilar utama yang saling menopang, yaitu kepedulian terhadap lingkungan, peluang digital untuk pemberdayaan masyarakat, dan bisnis yang bertanggung jawab serta beretika.
AI masuk ke pusat strategi bisnis
Arah menuju AI-TechCo memperlihatkan bahwa Indosat ingin menempatkan artificial intelligence sebagai bagian inti dari bisnis. Pergeseran ini penting karena industri telekomunikasi bergerak semakin cepat ke arah digitalisasi yang lebih dalam.
Meski begitu, pemanfaatan AI tetap diarahkan pada tujuan yang lebih luas. Indosat ingin menghadirkan layanan digital yang relevan sekaligus berkelanjutan, sehingga teknologi tidak berjalan hanya untuk mengejar efisiensi atau pertumbuhan layanan semata.
Dalam konteks itu, ESG berfungsi sebagai penyeimbang. Perusahaan berusaha memastikan bahwa inovasi yang dibangun tetap kuat secara teknologi, tetapi juga konsisten secara sosial dan etis.
Tiga pilar yang memberi arah pada ISAT
Pilar lingkungan menjadi dasar pertama dalam kerangka keberlanjutan Indosat. Fokus ini menggambarkan upaya perusahaan menjaga aspek keberlanjutan ketika pengembangan teknologi digital terus berjalan.
Pilar kedua berkaitan dengan peluang digital bagi pemberdayaan masyarakat. Artinya, transformasi yang ditempuh tidak hanya diarahkan untuk kebutuhan internal perusahaan, tetapi juga diharapkan memberi manfaat yang lebih luas bagi publik.
Pilar ketiga menekankan bisnis yang bertanggung jawab dan beretika. Pada bagian ini, tata kelola memegang peran penting untuk menjaga kepercayaan para pemangku kepentingan di tengah perubahan model bisnis yang makin bergantung pada teknologi.
Menjaga daya saing tanpa lepas dari tanggung jawab
Penguatan identitas sebagai AI-TechCo juga dapat dibaca sebagai strategi Indosat untuk tetap kompetitif di industri telekomunikasi yang ketat. Perusahaan tidak hanya membangun narasi modernisasi teknologi, tetapi juga mengaitkannya dengan keberlanjutan dan tanggung jawab bisnis.
Langkah tersebut memperlihatkan bahwa transformasi IOH tidak diarahkan semata-mata untuk membangun citra sebagai perusahaan teknologi. Di sisi lain, Indosat ingin memastikan pembaruan bisnisnya tetap berada dalam koridor tujuan korporasi yang lebih besar dan tidak terlepas dari tanggung jawab jangka panjang.
Dengan ESG yang menjadi fondasi, Indosat berupaya menyeimbangkan pertumbuhan dan keberlanjutan. Arah itu sekaligus mempertegas posisi ISAT sebagai digital telco yang bergerak dengan tujuan yang lebih terukur di tengah perubahan industri yang cepat.
Source: insight.kontan.co.id