Pemerintah Jawa Timur memilih tidak menunggu sampai ada kasus baru untuk bergerak. Di tengah sorotan global terhadap hantavirus, Pemprov Jatim justru menjaga kewaspadaan tetap tinggi meski hingga kini wilayah itu masih nihil kasus.
Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak menegaskan, kondisi aman tidak boleh membuat pemerintah maupun masyarakat terlena. Ia menyebut kesiagaan harus tetap berada di level siaga satu agar potensi ancaman kesehatan bisa diantisipasi sejak awal.
Menurut Emil, pola kesiapan yang terbentuk sejak pandemi Covid-19 masih relevan untuk dipertahankan. Sikap siaga itu dinilai penting bukan hanya untuk menghadapi hantavirus, tetapi juga ancaman kesehatan lain yang sewaktu-waktu dapat muncul.
Hantavirus sendiri kini menjadi perhatian di banyak tempat karena termasuk virus dari genus Orthohantavirus. Virus ini umumnya dibawa hewan pengerat seperti tikus dan celurut, lalu dapat menular dari hewan ke manusia sebagai penyakit zoonosis.
Di Jawa Timur, hingga saat ini belum ditemukan kasus hantavirus. Emil menegaskan, fakta tersebut harus dijaga dengan pengawasan yang konsisten, bukan dijadikan alasan untuk mengendurkan perhatian.
Ia juga menekankan pentingnya keterbukaan dalam penanganan kesehatan publik. Pemerintah, menurut dia, harus transparan dan tidak menutup-nutupi kejadian apa pun yang muncul di masyarakat.
Emil menyebut sistem pengecekan sudah memiliki metodologi yang dikoordinasikan oleh Kementerian Kesehatan. Karena itu, kecepatan deteksi dan konsistensi pemantauan menjadi faktor penting agar status nihil kasus tetap bertahan.
Selain pengawasan, Pemprov Jatim juga mendorong pencegahan lewat sosialisasi di laman media sosial resmi. Pesan yang ditekankan cukup sederhana, yakni menjaga pola hidup bersih sebagai langkah dasar untuk menekan risiko paparan.
Imbauan pencegahan itu menyasar kebiasaan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Warga diminta menjaga kebersihan tempat tinggal dan tempat kerja, menutup lubang di dinding atau atap agar tikus tidak masuk, serta menyimpan makanan dengan rapat supaya tidak menarik hewan pengerat.
Pengelolaan sampah juga masuk dalam perhatian pemerintah provinsi. Sampah yang tidak ditangani dengan baik berisiko menjadi sarang tikus, sehingga kebersihan lingkungan menjadi bagian penting dari pencegahan.
Untuk situasi yang berpotensi bersentuhan dengan habitat hewan pengerat, Pemprov Jatim mengimbau penggunaan masker dan sarung tangan. Anjuran itu ditujukan agar kemungkinan paparan bisa ditekan saat warga berada di area yang rawan.
Dengan belum adanya kasus yang terdeteksi, fokus Jawa Timur kini tertuju pada pencegahan dini. Pemerintah provinsi berharap kombinasi kesiagaan, deteksi cepat, dan kebiasaan hidup bersih dapat menjaga kondisi nihil kasus tetap bertahan.
Source: jatim.tribunnews.com