Edukasi Kekerasan Tak Cukup Menyasar Perempuan, FKKG Jateng Minta Laki-Laki Lebih Terlibat

Upaya mencegah kekerasan terhadap perempuan dan anak di Jawa Tengah dinilai tidak bisa terus bertumpu pada kelompok perempuan saja. FKKG Jawa Tengah menilai laki-laki harus ikut masuk dalam ruang edukasi agar pencegahan berjalan lebih efektif dan menyentuh kehidupan sehari-hari.

Dorongan itu muncul di tengah masih tingginya jumlah korban kekerasan di wilayah tersebut. Berdasarkan data yang disampaikan FKKG, pada Januari sampai November 2025 tercatat 2.633 korban kekerasan di Jawa Tengah, dengan 1.075 korban perempuan dan 1.558 korban anak.

Laki-laki dinilai belum cukup terlibat

Ketua FKKG Jawa Tengah, Tsaniyatus Solihah, menyoroti bahwa selama ini berbagai upaya pencegahan dan penanganan kekerasan memang banyak melibatkan perempuan. Jalur itu terlihat lewat beragam kelompok dan kegiatan, termasuk yang selama ini dekat dengan organisasi perempuan.

Namun menurut FKKG, pendekatan seperti itu belum cukup jika laki-laki belum mendapat edukasi yang sebanding. Tsaniyatus menilai laki-laki perlu dilibatkan lebih aktif karena masih banyak yang belum memahami bahwa tindakan tertentu sudah masuk kategori kekerasan.

Ia mencontohkan kebiasaan membentak dalam relasi rumah tangga yang kerap dianggap biasa. Padahal, perilaku semacam itu bisa membentuk hubungan yang tidak sehat dan berdampak pada perempuan maupun anak.

Gerakan sudah ada, tetapi pelaksanaannya dinilai belum kuat

Di Jawa Tengah, pemerintah daerah sebenarnya sudah mendorong keterlibatan laki-laki melalui gerakan pria peduli perempuan dan anak atau Garpu Perak. Gerakan ini digerakkan DP3AP2KB melalui FKKG Jateng sejak 2022.

Langkah tersebut kemudian diperkuat dengan surat edaran dari Pemprov Jateng agar kabupaten dan kota membentuk Garpu Perak di daerah masing-masing. Tsaniyatus menyebut Kota Semarang sudah membentuk gerakan itu pada 2023, sementara sejumlah daerah lain termasuk Kabupaten Pati juga disebut telah mengikuti langkah serupa.

Garpu Perak diarahkan untuk mendorong laki-laki ikut mencegah kekerasan, berpartisipasi dalam kontrasepsi, dan mengambil peran dalam pengasuhan anak. Dengan begitu, laki-laki tidak hanya menjadi sasaran imbauan, tetapi juga bagian dari solusi.

Meski sudah ada gerakan tersebut, FKKG menilai pelaksanaannya di lapangan belum berjalan kuat. Tsaniyatus mengatakan program itu masih sering dipahami sebatas agenda resmi, belum menjadi kesadaran yang benar-benar melekat di kalangan organisasi perangkat daerah maupun masyarakat.

Edukasi perlu menyasar kehidupan sehari-hari

FKKG Jawa Tengah menilai pencegahan kekerasan tidak cukup berhenti pada kampanye seremonial. Perubahan perilaku hanya bisa terjadi bila edukasi menjangkau kehidupan sehari-hari dan membuat masyarakat lebih peka terhadap bentuk-bentuk kekerasan yang sering dianggap sepele.

Tsaniyatus menekankan pentingnya memperjelas pemahaman tentang kekerasan verbal dan emosional. Menurut dia, jenis kekerasan semacam itu kerap luput dari perhatian karena tidak selalu tampak secara fisik, padahal dampaknya tetap besar bagi korban.

Ia juga menyebut kekerasan dalam rumah tangga masih tinggi meski sejumlah langkah pencegahan sudah dijalankan di daerah. Situasi itu menunjukkan bahwa kerja pencegahan harus terus diperkuat dari sisi edukasi dan keterlibatan warga.

Tantangan utama ada pada kesadaran publik

Bagi FKKG, tantangan terbesar bukan hanya membentuk program, tetapi memastikan pesan perlindungan perempuan dan anak benar-benar dipahami masyarakat. Tanpa perubahan cara pandang, pencegahan kekerasan berisiko terhenti pada kegiatan formal yang tidak memberi efek luas.

Karena itu, FKKG mendorong edukasi kepada laki-laki dilakukan secara sistematis dan berkelanjutan. Fokusnya adalah membangun pemahaman bahwa upaya mencegah kekerasan bukan hanya urusan perempuan, melainkan tanggung jawab bersama dalam keluarga dan lingkungan sosial.

Tsaniyatus juga menyebut angka kekerasan di Jawa Tengah masih masuk lima besar nasional. Kondisi itu menjadi alasan mengapa pelibatan laki-laki perlu diperkuat agar perlindungan terhadap perempuan dan anak tidak hanya berhenti pada imbauan, tetapi benar-benar hadir dalam praktik sehari-hari.

Source: regional.kompas.com
Exit mobile version