Ebola Mengancam Ituri, 65 Orang Tewas Saat Penularan Dekati Perbatasan Uganda dan Sudan Selatan

Kekhawatiran terbesar dari wabah Ebola terbaru di timur Kongo bukan hanya jumlah korban yang terus bertambah, melainkan lokasi penyebarannya yang berada sangat dekat dengan perbatasan. Saat kasus suspek sudah mencapai sedikitnya 246 dan 65 orang dilaporkan meninggal, perhatian langsung tertuju pada kemungkinan penularan melintasi Uganda dan Sudan Selatan.

Situasi ini membuat penanganan wabah tidak bisa dipandang sebagai urusan satu provinsi saja. Provinsi Ituri, tempat kasus terdeteksi, berada jauh dari Kinshasa dan memiliki mobilitas penduduk yang tinggi, sehingga pengawasan di lapangan menjadi jauh lebih sulit.

Kasus terkonsentrasi di wilayah yang bergerak cepat

Africa Centres for Disease Control and Prevention menyebut wabah ini telah terkonfirmasi di provinsi terpencil di timur Kongo. Dari 20 sampel yang diuji, 13 di antaranya menunjukkan hasil laboratorium awal positif Ebola.

Sebagian besar kasus tercatat di zona kesehatan Mongwalu dan Rwampara. Kasus suspek juga muncul di Bunia, ibu kota provinsi Ituri, yang letaknya dekat dengan perbatasan Uganda.

Dr. Céline Gounder, koresponden medis CBS News, menilai Mongwalu berada dalam posisi berisiko tinggi. Kawasan itu merupakan pusat tambang dengan arus pekerja yang terus keluar masuk, sekaligus wilayah urban yang dikelilingi banyak perbatasan negara.

Keamanan rapuh ikut memperumit respons

Di tengah wabah, kondisi keamanan di Ituri juga belum stabil. Dalam setahun terakhir, serangan kelompok bersenjata di provinsi itu telah menewaskan puluhan orang dan memaksa ribuan warga mengungsi.

Gounder menilai keberadaan militan dapat menghambat tenaga kesehatan saat melakukan pengujian dan pelacakan kontak. Hambatan seperti itu membuat respons wabah menjadi jauh lebih berat di lapangan.

Kekhawatiran bertambah karena kawasan timur Kongo masih dilanda konflik bersenjata. M23 terus menguasai kota-kota kunci setelah melancarkan serangan cepat pada Januari tahun lalu, sementara Ituri juga menghadapi kekerasan dari Allied Democratic Force yang terkait dengan ISIS.

Koordinasi lintas negara mulai disiapkan

Untuk merespons ancaman ini, Africa CDC akan menggelar pertemuan koordinasi tingkat tinggi bersama otoritas kesehatan dari Kongo, Uganda, dan Sudan Selatan. Sejumlah mitra lain, termasuk badan-badan PBB dan negara lain, juga akan dilibatkan.

Agenda yang disiapkan mencakup prioritas respons segera, koordinasi lintas batas, dukungan laboratorium, pencegahan dan pengendalian infeksi, komunikasi risiko, pemakaman yang aman dan bermartabat, serta mobilisasi sumber daya. Fokusnya adalah mencegah penularan meluas lebih jauh sebelum situasi makin sulit dikendalikan.

Strain langka tanpa vaksin khusus

Wabah ini disebabkan Bundibugyo ebolavirus, strain yang menurut Gounder baru diketahui memicu dua wabah sebelumnya. Kedua wabah itu terjadi di Uganda pada 2007 dengan 56 kasus dan di Kongo pada 2012 dengan 57 kasus.

Untuk strain ini, belum ada vaksin atau pengobatan yang disetujui. Vaksin yang tersedia saat ini hanya ditujukan untuk strain Zaire, sedangkan perlindungan untuk strain lain belum tersedia.

Gounder menyebut tingkat fatalitas Bundibugyo secara historis berada di kisaran 36–40 persen. Angka itu memang lebih rendah dibanding Zaire yang berada di kisaran 60–90 persen, tetapi strain ini tetap sangat mematikan dan datanya masih terbatas.

Kongo kembali menghadapi tekanan berlapis

Wabah terbaru ini muncul sekitar lima bulan setelah wabah Ebola terakhir di Kongo dinyatakan berakhir. Wabah sebelumnya menewaskan 43 orang, dan yang kini terjadi menjadi wabah ke-17 di negara itu sejak Ebola pertama kali muncul pada 1976.

Kongo juga punya riwayat kesulitan logistik saat menangani wabah penyakit. Saat wabah tahun lalu yang berlangsung tiga bulan, Organisasi Kesehatan Dunia sempat kesulitan mengirim vaksin karena akses terbatas dan dana yang langka.

Dengan kasus yang sudah menembus wilayah perbatasan, keamanan yang belum pulih, dan strain yang belum punya vaksin khusus, respons cepat menjadi sangat penting. Pemerintah dan mitra kesehatan kini menghadapi tekanan untuk bergerak sebelum penularan mencapai wilayah yang lebih luas.

Exit mobile version