Kematian tiga penumpang di atas kapal pesiar MV Hondius kini menjadi perhatian karena kasus itu tidak hanya menyangkut dugaan hantavirus, tetapi juga menyoroti bagaimana penyakit yang dibawa hewan pengerat dapat ikut bergeser mengikuti perubahan lingkungan. Dalam ruang tertutup seperti kapal, sumber paparan menjadi lebih sulit ditelusuri dan setiap temuan harus diperiksa dengan sangat hati-hati.
Kap al berbendera Belanda itu tengah berlayar dari Argentina menuju Cape Verde sebelum akhirnya bersandar di Praia. Di tengah perjalanan itu, seorang pria lanjut usia dilaporkan meninggal di atas kapal, lalu istrinya juga meninggal setelah sempat mendapat perawatan medis di Afrika Selatan.
Satu pasien lain dilaporkan masih menjalani perawatan intensif dalam kondisi kritis. World Health Organization atau WHO menyebut penyelidikan epidemiologi dan pengujian laboratorium masih terus berlangsung untuk memastikan bagaimana virus itu menyebar.
Perhatian besar muncul karena hantavirus umumnya menular melalui kontak dengan urine, air liur, atau kotoran hewan pengerat yang terkontaminasi. Infeksi ini dapat memicu Hantavirus Pulmonary Syndrome, yaitu penyakit pernapasan serius dengan tingkat kematian tinggi, terutama di wilayah Amerika.
Dalam situasi kapal pesiar, perhatian tertuju pada kemungkinan paparan di lingkungan yang tertutup. Gejala hantavirus juga bisa muncul setelah masa inkubasi hingga dua minggu, sehingga pelacakan asal infeksi menjadi jauh lebih rumit.
WHO menilai penularan antarmanusia memang jarang terjadi, tetapi tetap perlu diawasi. Kekhawatiran itu ikut menguat karena para ilmuwan juga mencermati meningkatnya kasus penularan antarmanusia pada varian Andes hantavirus di Argentina dan Chile.
Risiko yang ikut berubah bersama iklim
Sejumlah penelitian yang dikutip CFR.org menunjukkan perubahan iklim berkaitan dengan naiknya risiko penyebaran hantavirus. Perubahan pola cuaca, termasuk curah hujan yang meningkat, kekeringan, dan kenaikan suhu, dapat memengaruhi populasi hewan pengerat pembawa virus.
Curah hujan tinggi dapat membuat populasi tikus bertambah karena pasokan makanan ikut melimpah. Sebaliknya, kekeringan dapat mendorong hewan pengerat masuk ke permukiman manusia untuk mencari pangan, sehingga peluang kontak dengan manusia meningkat.
Penelitian di São Paulo juga menunjukkan kenaikan suhu akibat emisi dapat meningkatkan jumlah populasi berisiko terkena HPS hingga 30 persen. Temuan ini memperkuat kekhawatiran bahwa penyakit yang dibawa hewan pengerat bisa lebih mudah meluas ketika kondisi lingkungan berubah.
Pelacakan sumber infeksi menjadi kunci
Dalam kasus seperti yang terjadi di MV Hondius, pemeriksaan laboratorium dan investigasi epidemiologi memegang peran utama. Keduanya dibutuhkan untuk memastikan apakah penularan berasal dari hewan ke manusia, antarmanusia, atau kombinasi keduanya.
Hingga kini belum ada obat khusus untuk menyembuhkan infeksi hantavirus. Perawatan medis umumnya difokuskan pada dukungan intensif agar fungsi pernapasan pasien tetap terbantu dan komplikasi bisa dicegah.
Kasus di kapal pesiar itu memperlihatkan bahwa ancaman penyakit menular tidak selalu berhenti pada wilayah tertentu di daratan. Saat iklim berubah dan populasi hewan pengerat ikut terdorong naik, risiko dapat merambah ke ruang-ruang yang sebelumnya dianggap lebih aman, termasuk kapal pesiar.
Source: www.suara.com