Domba Lebih Fleksibel Untuk Kurban, Tapi Kualitas Fisik Tetap Penentu Utama

Saat berburu hewan kurban, banyak orang langsung membandingkan kambing dan domba dari sisi harga atau penampilan. Padahal, penilaian yang paling menentukan justru ada pada usia, kondisi fisik, dan apakah hewan itu benar-benar memenuhi syarat sah kurban.

Dari sisi syariat, kambing dan domba sama-sama boleh dijadikan hewan kurban. Keduanya termasuk al-ghanam, yaitu hewan ternak kecil yang sah untuk kurban, sehingga pilihan tidak ditentukan oleh jenis semata, melainkan oleh kualitas hewan yang dibeli.

Yang paling membedakan adalah usia

Perbedaan penting antara kambing dan domba terletak pada batas usia. Kambing biasa atau al-ma’z harus sudah masuk tahun kedua atau lebih dari satu tahun penuh ketika disembelih sebagai kurban.

Domba memiliki kelonggaran yang tidak dimiliki kambing. Domba boleh dikurbankan sejak usia enam bulan, selama bentuk fisiknya sudah menyerupai domba dewasa dan sulit mendapatkan domba yang usianya lebih dari satu tahun.

Aturan itu membuat domba terasa lebih praktis bagi sebagian pembeli. Namun, kelonggaran tersebut tidak bisa diterapkan pada kambing, sehingga kambing yang belum genap satu tahun tetap tidak sah dijadikan kurban meski kondisinya tampak baik.

Kualitas fisik tetap jadi penentu nilai

Setelah usia terpenuhi, perhatian berikutnya tertuju pada kondisi fisik hewan. Ulama menilai hewan yang lebih gemuk, lebih banyak dagingnya, dan lebih sehat memiliki nilai yang lebih baik dibanding hewan yang lemah atau kurus.

Hewan kurban yang ideal adalah yang tubuhnya berisi, sehat, dan bebas cacat. Sebaliknya, hewan yang buta sebelah, pincang parah, sangat kurus sampai tulangnya tampak, atau sedang sakit tidak sah dijadikan kurban.

Ketentuan itu bersandar pada hadis riwayat al-Barra’ bin ‘Azib yang diriwayatkan Imam Ahmad dan dishahihkan Imam at-Tirmidzi. Dalam praktiknya, satu ekor kambing atau domba juga hanya sah untuk satu orang, sehingga tidak bisa dipakai patungan seperti sapi.

Nilai tidak melekat pada label kambing atau domba

Dalam mazhab Syafi’i, nilai kurban tidak otomatis ditentukan oleh apakah hewannya kambing atau domba. Imam an-Nawawi dalam al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdhab menjelaskan bahwa domba yang gemuk dan baik bisa lebih bernilai daripada kambing yang kurus, dan sebaliknya.

Karena itu, pilihan yang lebih tepat adalah membandingkan kualitas masing-masing hewan. Domba yang tampak lebih sehat dan lebih berisi bisa menjadi pilihan yang lebih baik daripada kambing yang kualitasnya di bawahnya.

Di lapangan, kambing juga lebih mudah ditemui karena populasinya di Indonesia lebih besar daripada domba. Data Badan Pusat Statistik tahun 2023 mencatat populasi kambing nasional sekitar 18,8 juta ekor, sedangkan domba sekitar 12,5 juta ekor dan banyak terkonsentrasi di Jawa Barat.

Mana yang lebih aman dipilih

Bagi sebagian orang, domba sering dianggap lebih aman karena ada kelonggaran usia enam bulan selama fisiknya sudah menyerupai domba dewasa. Situasi ini membantu ketika pembeli perlu segera mendapatkan hewan kurban yang tersedia.

Meski begitu, kambing tidak kalah bernilai bila sudah memenuhi umur dan kondisi fisiknya lebih baik. Kambing Boer atau Peranakan Etawah yang dipelihara dengan pakan berkualitas juga bisa melampaui bobot domba biasa.

Pada kelompok domba, ras unggul seperti Garut, Texel, atau Merino yang diternakkan secara intensif sering memiliki bobot lebih besar dan daging lebih banyak dibanding kambing lokal pada kisaran harga yang sama. Karena itu, pilihan paling aman bukan terletak pada nama jenis hewannya, melainkan pada usia yang cukup, tubuh yang sehat, dan kualitas terbaik yang bisa dijangkau sesuai kemampuan.

Source: www.idntimes.com

Baca Juga

Back to top button