Dolar AS Tetap Tahan Di Rp 17.500, Rupiah Terbuka Dalam Tekanan Pagi Ini

Pergerakan dolar AS pada pagi perdagangan Rabu, 13 Mei 2026, menunjukkan tekanan yang belum sepenuhnya mereda di pasar rupiah. Mata uang Amerika Serikat naik ke Rp 17.537 dan tetap bertahan di kisaran Rp 17.500, sehingga posisi rupiah kembali berada dalam situasi yang sensitif sejak pembukaan.

Data Bloomberg mencatat dolar AS menguat 0,05 persen pada awal perdagangan. Angka itu memperlihatkan bahwa selisih terhadap penutupan sebelumnya memang tipis, tetapi cukup untuk menjaga tekanan terhadap mata uang Garuda.

Sebelumnya, pada Selasa, 12 Mei 2026, dolar AS ditutup di Rp 17.528. Dengan pembukaan pagi ini di level yang lebih tinggi, pasar melihat rupiah belum mendapat dorongan yang kuat untuk bergerak naik pada awal sesi.

Tekanan rupiah belum mendapat penopang kuat

Kondisi pembukaan tersebut menjadi sinyal bahwa sentimen terhadap rupiah belum banyak berubah. Pasar masih mencari arah yang lebih jelas, sementara dolar AS tetap kokoh di area Rp 17.500.

Pergerakan awal ini juga menandakan bahwa perhatian pelaku pasar masih tertuju pada kekuatan dolar sepanjang sesi. Selama pijakan rupiah belum terbentuk, setiap penguatan kecil dolar dapat kembali menekan mata uang domestik.

Penguatan dolar tidak seragam di pasar global

Meski menguat terhadap rupiah, laju dolar AS di pasar internasional bergerak dengan pola yang berbeda-beda. Terhadap euro, dolar AS justru turun tipis 0,01 persen, menunjukkan penguatan yang tidak berlangsung merata.

Pelemahan serupa terlihat saat dolar AS diperdagangkan melawan poundsterling Inggris. Dalam pasangan GBP, dolar AS terkoreksi 0,01 persen dan ikut menegaskan bahwa arah penguatan belum solid di seluruh pasar utama.

Tekanan yang lebih jelas muncul ketika dolar AS berhadapan dengan dolar Kanada. Mata uang Negeri Paman Sam turun 0,07 persen terhadap CAD, menjadi salah satu pelemahan yang paling menonjol di antara mata uang utama lainnya.

Terhadap franc Swiss, dolar AS juga tercatat melemah 0,03 persen. Rangkaian pergerakan itu memperlihatkan bahwa kekuatan dolar masih bersifat selektif, bukan penguatan yang menyebar luas di pasar global.

Masih bertahan di beberapa mata uang Asia-Pasifik

Di kawasan Asia-Pasifik, dolar AS masih menunjukkan tenaga yang cukup stabil. Terhadap yen Jepang, dolar AS menguat tipis 0,04 persen dan mempertahankan keunggulannya di pasangan tersebut.

Penguatan serupa juga terlihat terhadap dolar Australia. Dalam pasangan AUD, dolar AS naik 0,03 persen, sehingga posisinya tetap relatif dominan di sejumlah mata uang regional.

Bagi rupiah, kondisi ini berarti tekanan eksternal belum bisa diabaikan. Selama dolar AS masih bertahan kuat di zona Rp 17.500 dan bergerak dengan dukungan yang berbeda-beda di pasar global, arah perdagangan rupiah tetap sangat bergantung pada sentimen sepanjang hari.

Baca Juga

Back to top button