Cara makan ternyata menjadi salah satu titik yang paling disorot dokter Gia Pratama saat membahas obesitas. Menurutnya, tubuh tidak hanya dipengaruhi oleh seberapa banyak makanan yang masuk, tetapi juga oleh bagaimana makanan itu dikonsumsi setiap hari.
Ia menilai kebiasaan makan yang terlalu cepat, tidak terkontrol, dan kurang diperhatikan bisa membuat tubuh bekerja lebih berat. Dalam pandangannya, pengendalian berat badan tidak cukup hanya bergantung pada porsi, karena proses makan sendiri ikut menentukan apakah tubuh tetap mudah dijaga atau justru makin sulit dikendalikan.
Pandangan itu lahir dari pengalaman pribadi yang cukup mengubah cara berpikirnya. Gia mengaku pernah memiliki berat badan 100 kilogram sebelum akhirnya memperbaiki pola hidup dan pola makannya.
Kesadaran tersebut makin kuat setelah ia menangani seorang pasien serangan jantung di IGD. Saat itu, ia melihat kedekatan usia dan tanggal lahir dengan pasien yang sedang ditolong, sehingga ia mulai membayangkan kemungkinan yang sama bisa terjadi pada dirinya.
Dalam sebuah talkshow memperingati Hari Obesitas Sedunia di Kemenkes, momen itu disebut Gia sebagai titik balik. Sejak saat itu, ia memutuskan menjalani komitmen diet selama enam bulan dan mulai mengubah kebiasaan makan yang selama ini dijalani.
Perubahan yang ia lakukan tidak berhenti pada pengurangan porsi. Gia juga menekankan pentingnya memperbaiki cara tubuh menerima makanan agar beban kerja organ tidak terus meningkat.
Makan terlalu cepat membuat tubuh mudah kehilangan kontrol
Gia menjelaskan bahwa lambung memiliki sensor kenyang di bagian kubahnya. Jika seseorang makan terus-menerus tanpa kendali, lambung dapat terdorong memanjang ke bawah dan menjauh dari sensor tersebut.
Kondisi itu membuat rasa kenyang lebih sulit terasa dan rasa lapar lebih cepat kembali. Karena itu, ia menyarankan makan dilakukan pelan-pelan agar tubuh punya waktu merespons sebelum asupan berlebihan masuk.
Ia juga menyoroti kebiasaan menelan makanan tanpa dikunyah dengan baik. Menurutnya, kebiasaan itu membuat lambung bekerja lebih keras dan sinyal kenyang datang terlambat.
Obesitas tidak berdiri sendiri
Bagi Gia, obesitas bukan hanya soal tampilan fisik. Kondisi itu dapat membuka jalan ke diabetes, stroke, hingga serangan jantung, sehingga pencegahannya perlu dimulai dari kebiasaan harian yang paling sederhana.
Ia menegaskan bahwa tubuh juga dipengaruhi faktor lain di luar makanan, termasuk hormon. Dalam penjelasannya, hormon tiroid yang berlebih dapat membuat tubuh sulit gemuk karena metabolisme berjalan lebih cepat.
Sebaliknya, hipotiroid dapat membuat berat badan lebih mudah naik karena pembakaran energi melambat. Karena itu, pemeriksaan kadar hormon tiroid dinilai penting agar penyebab berat badan berlebih bisa dipahami lebih jelas.
Diet yang dijalankan tidak ekstrem
Saat membenahi berat badan, Gia memilih pendekatan defisit kalori. Ia mengurangi asupan kalori berlebih tanpa menghilangkan nutrisi penting bagi tubuh.
Ia juga tidak menjalani diet yang rumit atau instan. Dalam proses itu, ia mengurangi makanan tinggi kalori yang minim nutrisi seperti gorengan dan seblak, sambil tetap menjaga pola makan agar tetap seimbang.
Pendekatan itu menunjukkan bahwa pengendalian berat badan tidak selalu bergantung pada langkah ekstrem. Dengan makan lebih sadar, memperlambat kebiasaan makan, dan menjaga asupan tetap masuk akal, tubuh dinilai lebih mudah dijaga dalam jangka panjang.
Source: lifestyle.bisnis.com




