Lonjakan kasus Diabetes Melitus dan Hipertensi pada usia muda menjadi sorotan serius BPJS Kesehatan. Dua penyakit kronis yang dulu kerap dikaitkan dengan usia lanjut itu kini semakin banyak muncul pada kelompok produktif dan peserta JKN di bawah usia 45 tahun.
Peringatan itu mengemuka dalam gelaran BPJS Kesehatan Fun Run 2026 di Lapangan Sepak Bola Universitas Pendidikan Ganesha, Buleleng. Kegiatan yang diikuti ribuan peserta ini digelar bersama Universitas Pendidikan Ganesha dan Komunitas Lari Early Miles, sekaligus menjadi ajakan agar masyarakat mulai membangun kebiasaan hidup sehat sejak sekarang.
Direktur Utama BPJS Kesehatan, Prihati Pujowaskito, menilai langkah sederhana seperti lari dapat menjadi pintu masuk untuk menjaga kebugaran tubuh. Aktivitas fisik disebut memberi manfaat besar karena membantu menjaga kesehatan jantung, mengontrol gula darah, dan menekan risiko penyakit kronis.
BPJS Kesehatan juga menekankan bahwa pencegahan tidak cukup hanya lewat olahraga. Masyarakat diminta rutin bergerak, menjaga pola makan, memperhatikan kesehatan mental, dan melakukan skrining kesehatan sejak dini agar faktor risiko bisa diketahui sebelum berkembang lebih jauh.
Kasus terus naik pada peserta JKN
Data BPJS Kesehatan menunjukkan peningkatan kasus DM dan hipertensi dalam beberapa tahun terakhir. Pada periode 2021–2025, jumlah peserta JKN yang terdiagnosis DM naik dari 240 ribu kasus menjadi lebih dari 401 ribu kasus, atau meningkat sekitar 67,4 persen.
Kenaikan pada hipertensi juga terlihat jelas. Dalam periode yang sama, jumlah kasus melonjak dari 706 ribu menjadi lebih dari 1 juta kasus, setara kenaikan sekitar 43,9 persen.
Tren itu ikut memengaruhi pembiayaan layanan kesehatan. BPJS Kesehatan mencatat pembiayaan DM naik dari Rp 3,9 triliun pada 2021 menjadi Rp 8,7 triliun pada 2025, sedangkan pembiayaan hipertensi bertambah dari Rp6,2 triliun menjadi Rp15,1 triliun pada periode yang sama.
Secara kumulatif, sejak 2014 hingga 2025, BPJS Kesehatan telah mengeluarkan sekitar Rp 151,4 triliun untuk pembiayaan DM dan hipertensi. Angka ini menunjukkan bahwa beban penyakit kronis tersebut bukan hanya soal kesehatan, tetapi juga berdampak besar pada pembiayaan jaminan layanan.
Skrining dini dibuat lebih mudah dijangkau
Di tengah peningkatan kasus itu, BPJS Kesehatan mendorong peserta memanfaatkan layanan skrining kesehatan. Pemeriksaan dapat dilakukan di fasilitas kesehatan maupun melalui Aplikasi Mobile JKN.
Prihati menjelaskan bahwa layanan digital tersebut membantu peserta mengakses berbagai fitur kesehatan dengan lebih mudah. Fitur yang tersedia mencakup antrean online, informasi peserta, dan skrining riwayat kesehatan untuk mendukung deteksi dini risiko penyakit.
Pemeriksaan sejak awal dinilai penting karena penyakit kronis kerap berkembang tanpa gejala yang jelas pada fase awal. Dengan skrining rutin, peserta bisa lebih cepat mengetahui kondisi kesehatannya dan mengambil langkah pencegahan yang diperlukan.
Generasi muda jadi sasaran edukasi
Kehadiran ribuan peserta di Fun Run 2026 juga menjadi ruang edukasi yang menyasar generasi muda. Acara tersebut dihadiri Sekretaris Daerah Buleleng Gede Suyasa, jajaran Forkopimda, stakeholder, mitra BPJS Kesehatan, mahasiswa, komunitas lari, tenaga kesehatan, dan masyarakat umum.
Gede Suyasa mengapresiasi kegiatan itu karena dinilai tidak hanya mengajak masyarakat berolahraga, tetapi juga memperkuat kolaborasi lintas sektor dalam meningkatkan kualitas kesehatan. Di sisi lain, Wakil Rektor 3 Universitas Pendidikan Ganesha, I Ketut Sudiana, menilai keterlibatan generasi muda penting untuk menumbuhkan kesadaran kesehatan sejak usia produktif.
Kombinasi olahraga massal dan pesan pencegahan membuat Fun Run menjadi medium yang efektif untuk mengingatkan bahwa DM dan hipertensi tidak lagi bisa dipandang sebagai penyakit yang hanya menyerang usia tua. Di tengah kenaikan kasus pada kelompok muda, kebiasaan sehat justru perlu dibangun lebih awal dan dijaga secara konsisten.
Source: www.beritasatu.com