Distribusi masih menjadi perhatian utama Badan Pangan Nasional dalam menjaga harga pangan tetap stabil usai Iduladha. Lembaga itu menilai tekanan harga belum bergeser menjadi gejolak besar karena pemerintah bergerak lebih cepat dalam mengatur pasokan dan jalur penyaluran di berbagai wilayah.
Pemantauan Bapanas per 29 Mei 2026, atau dua hari setelah Iduladha, menunjukkan sejumlah komoditas strategis masih berada di kisaran yang relatif aman. Beras medium nasional tercatat Rp 13.456 per kilogram, turun tipis 0,19% dibandingkan sepekan sebelumnya, sedangkan daging ayam ras berada di level Rp 38.385 per kilogram dan telur ayam ras Rp 29.469 per kilogram.
Meski begitu, tidak semua bahan pangan bergerak seragam. Bawang merah tercatat Rp 47.185 per kilogram, lebih tinggi dari harga acuan penjualan tertinggi Rp 41.500 per kilogram, sementara cabai merah keriting berada di level Rp 60.638 per kilogram, melewati batas harga acuan maksimal Rp 55.000 per kilogram.
Direktur Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan Bapanas Maino Dwi Hartono menegaskan bahwa kondisi pasar saja tidak cukup untuk menjaga harga tetap tenang. Menurut dia, langkah cepat pemerintah dalam menjaga distribusi dan ketersediaan barang menjadi penentu agar gejolak tidak mudah merambat ke daerah.
Bapanas melihat tantangan terbesar justru muncul dari ketimpangan pasokan antarwilayah. Sentra produksi pangan belum merata di semua daerah, dan waktu panen juga berbeda-beda, sehingga tekanan harga bisa muncul di tingkat lokal meski angka nasional terlihat terkendali.
Karena itu, pengawasan harga tidak hanya bertumpu pada data nasional. Maino menilai keterbatasan pasokan lokal di daerah tertentu dapat memicu lonjakan harga meski stok secara umum masih cukup.
Menjelang dan sesudah Iduladha, pemerintah mempercepat sejumlah intervensi untuk menjaga keterjangkauan pangan. Salah satu langkahnya adalah penyerapan gabah dan beras petani dengan harga Rp 6.500 per kilogram di tingkat produsen.
Di saat yang sama, pemerintah juga menyalurkan beras Program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan atau SPHP kepada masyarakat. Sepanjang Januari hingga Mei 2026, realisasi penyaluran beras SPHP mencapai sekitar 507.000 ton.
Dari total itu, 221.000 ton disalurkan pada Januari-Februari sebagai perpanjangan program tahun sebelumnya. Sebanyak 286.000 ton lainnya disalurkan selama Maret hingga Mei 2026.
Pemerintah juga menjalankan SPHP jagung untuk membantu peternak menghadapi tingginya harga pakan ternak. Langkah ini menjadi bagian dari upaya menjaga kestabilan rantai pasok pangan dari hulu ke hilir.
Selain lewat SPHP, bantuan pangan berupa beras dan minyak goreng juga terus disalurkan. Hingga akhir Mei 2026, Perum Bulog telah menyalurkan bantuan kepada 15,4 juta keluarga penerima manfaat dari target nasional 33,2 juta KPM.
Gerakan Pangan Murah pun masih digelar di berbagai daerah untuk menahan harga agar tetap terjangkau di tingkat konsumen. Hingga akhir Mei 2026, kegiatan itu sudah berlangsung 5.037 kali di 417 kabupaten dan kota di seluruh Indonesia.
Capaian tersebut lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu, ketika Gerakan Pangan Murah tercatat sebanyak 3.482 kegiatan. Pemerintah menilai langkah ini menjadi salah satu instrumen penting untuk meredam gejolak harga di lapangan.
Kepala Bapanas yang juga Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyebut ketahanan pangan nasional terus menguat. Ia mengatakan sekitar 96% kebutuhan pangan nasional saat ini dipenuhi produksi dalam negeri, sedangkan porsi impor berada di kisaran 4% hingga 5%.
Pemerintah tetap melanjutkan agenda pengurangan impor melalui peningkatan produksi domestik. Setelah menghentikan impor beras umum dan jagung pakan sejak 2025, pemerintah menargetkan pengurangan ketergantungan impor pada komoditas gula konsumsi mulai 2026.
Dengan produksi dalam negeri yang kuat, intervensi pasokan yang berlapis, dan pengawasan distribusi yang lebih ketat, Bapanas menilai harga kebutuhan pokok masih bisa dijaga. Fokus utama kini diarahkan pada wilayah yang paling rawan terganggu pasokannya di tengah tekanan ekonomi dan geopolitik global.
Source: www.beritasatu.com




