Di usia 100 tahun, Mahathir Mohamad tampak tidak tertarik mengubah cara pandangnya sendiri hanya karena cap yang terus dilekatkan kepadanya. Mantan perdana menteri Malaysia itu kembali menegaskan bahwa label “diktator” bukan sesuatu yang ia pedulikan, selama ia merasa berada di jalur yang benar.
Sikap itu kembali mencuat lewat dokumenter berjudul My Name is Mahathir, yang menempatkan dirinya sebagai pusat cerita tentang kekuasaan, ingatan politik, dan warisan yang masih diperdebatkan. Dalam film berdurasi 65 menit itu, Mahathir tampil sebagai sosok yang tetap teguh pada keyakinannya meski kritik terhadapnya tak pernah benar-benar hilang.
Warisan 24 tahun yang masih menimbulkan perdebatan
Nama Mahathir tidak bisa dilepaskan dari masa panjangnya memimpin Malaysia selama lebih dari 24 tahun. Di bawah kepemimpinannya, Malaysia beralih dari ekonomi berbasis agraris menjadi kekuatan manufaktur.
Perubahan besar itulah yang sering disebut sebagai salah satu penanda paling penting dalam warisan politiknya. Namun, bagi Mahathir sendiri, penilaian publik tidak menjadi ukuran utama untuk menilai masa lalunya.
Ia bahkan menganggap soal legacy bukan perkara yang perlu ia hiraukan. Bagi Mahathir, cap diktator pun masuk dalam kategori yang sama selama ia yakin telah melakukan hal yang menurutnya tepat.
Hubungan rumit dengan Anwar Ibrahim
Dokumenter tersebut juga menyoroti sisi lain dari perjalanan politik Mahathir, terutama hubungannya dengan Anwar Ibrahim. Keduanya pernah berada dalam hubungan dekat ketika Anwar masih menjadi anak didik, sebelum akhirnya hubungan itu berubah menjadi pertentangan tajam.
Ketegangan keduanya memuncak pada 1990-an saat isu korupsi menciptakan jarak yang makin lebar. Mahathir mengakui bahwa memberantas korupsi sepenuhnya adalah hal yang mustahil, dan pengakuan itu memberi konteks pada konflik yang berujung pada pemecatan Anwar.
Dari kedekatan politik hingga pertentangan terbuka, kisah mereka menjadi salah satu bagian paling rumit dalam sejarah politik Malaysia modern. Perjalanan itu juga ikut membentuk cara publik memandang kepemimpinan Mahathir sampai sekarang.
Sisi personal di balik sosok yang keras
Selain membahas kekuasaan dan kontroversi, film ini juga membuka ruang untuk melihat kehidupan pribadi Mahathir. Dokumenter itu menyingkap rahasia di balik pernikahannya yang bertahan lama, di tengah reputasinya sebagai salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah modern Malaysia.
Pendekatan tersebut membuat Mahathir terlihat dalam dua lapisan yang berbeda. Di satu sisi, ia hadir sebagai pemimpin yang keras dan penuh keyakinan; di sisi lain, ada kehidupan personal yang jarang mendapat sorotan di balik citra publiknya.
Sorotan dari luar Malaysia
My Name is Mahathir juga membawa perhatian ke luar negeri. Pekan lalu, film itu meraih medali perak untuk kategori dokumenter di sebuah festival media di Jerman.
Pengakuan itu menambah sorotan terhadap sosok Mahathir di usia senjanya. Saat warisannya terus diperdebatkan, ia tetap tampil dengan sikap yang sama: tidak sibuk mengejar pujian dan tidak terganggu oleh label yang menempel pada namanya.
Source: www.scmp.com