Di tengah sengketa final Piala Afrika 2025 yang masih menyisakan polemik, Raja Mohammed VI memilih membuka ruang kemanusiaan dengan memberikan grasi kepada 18 pendukung Senegal yang sempat dipenjara. Istana menyebut langkah itu sebagai bentuk belas kasih, sekaligus terkait dengan datangnya Idul Adha yang akan diperingati pada Rabu di Maroko.
Keputusan tersebut langsung menarik perhatian karena muncul saat luka final AFCON belum benar-benar sembuh. Selain menyangkut hukum dan sepak bola, grasi ini juga menegaskan hubungan panjang yang disebut istana tetap terjaga antara Maroko dan Senegal.
Para suporter itu sebelumnya ditahan setelah terjadi invasi lapangan saat Maroko mendapat penalti pada masa injury time dalam laga final yang berlangsung pada 18 Januari. Kericuhan membuat pertandingan terhenti selama 14 menit, sementara para pemain dan staf Senegal memilih meninggalkan lapangan sebagai bentuk protes atas keputusan tersebut.
Setelah laga dilanjutkan, Maroko gagal mengeksekusi penalti. Senegal kemudian memastikan kemenangan 1-0 pada injury time, sebelum situasi di stadion berujung pada proses hukum terhadap 18 pendukung Senegal itu.
Perkembangan kasus ini tidak berhenti di situ. Konfederasi Sepak Bola Afrika atau CAF kemudian membatalkan keputusan awal dan pada 17 Maret menyatakan pertandingan sebagai kemenangan 3-0 untuk Maroko.
Putusan itu sekaligus mengubah status akhir final dan membuat tim Afrika Utara tersebut dinobatkan sebagai juara. CAF menguatkan banding Federasi Sepak Bola Kerajaan Maroko dengan alasan Senegal melanggar aturan turnamen karena meninggalkan lapangan.
Di sisi lain, Senegal juga membawa perkara ini ke Pengadilan Arbitrase Olahraga. Lembaga yang berbasis di Swiss itu disebut dapat memerlukan waktu hingga satu tahun untuk mengeluarkan putusan.
Di tengah jalur hukum yang belum selesai, grasi dari Raja Mohammed VI memberi lapisan baru pada kisah yang sejak awal sudah sarat emosi. Istana menekankan bahwa keputusan itu lahir dari dasar kemanusiaan dan “ikatan persaudaraan yang telah lama terjalin” antara Maroko dan Senegal.





