Ketika dunia bergerak makin cepat dan tekanan geopolitik semakin sulit diprediksi, ASEAN justru kembali mencari pegangan yang paling kuat di dalam tubuhnya sendiri. Dalam situasi itu, Indonesia dinilai masih memegang peran yang paling menentukan dalam menjaga arah kawasan tetap stabil.
Sorotan itu menguat setelah KTT ke-48 di Cebu, Filipina, menempatkan ketahanan pangan dan energi sebagai isu utama pembahasan. Pilihan tema tersebut menunjukkan bahwa ASEAN tidak sedang berbicara soal agenda abstrak, melainkan soal kebutuhan nyata yang langsung berhubungan dengan stabilitas kawasan.
Pengamat Hubungan Internasional Teuku Rezasyah menilai posisi Indonesia dalam forum tersebut tetap sangat besar. Ia melihat Jakarta bukan hanya hadir sebagai anggota biasa, tetapi ikut membentuk sikap bersama ASEAN di tengah perubahan global yang bergerak cepat.
Menurut Rezasyah, ada tiga isu yang menonjol dalam pembahasan strategis ASEAN kali ini. Ketiganya adalah ketahanan energi, pentingnya konsultasi internal yang berkelanjutan, dan kewaspadaan terhadap dinamika global yang berubah cepat.
Dari tiga isu itu, Indonesia dipandang sebagai acuan yang tetap relevan bagi negara-negara anggota. Pandangan Jakarta disebut berpengaruh bukan hanya di ruang pertemuan, tetapi juga dalam cara kawasan membaca risiko dan menyusun langkah bersama.
Rezasyah bahkan menyebut Indonesia masih dipandang sebagai motor utama ASEAN di tengah rivalitas geopolitik dunia. Penilaian itu bertumpu pada gabungan faktor ekonomi, jumlah penduduk, posisi geopolitik, dan kekuatan diplomasi Indonesia di tingkat internasional.
Dalam pandangannya, Indonesia juga bisa disebut primus inter pares di antara anggota ASEAN. Istilah itu menggambarkan negara yang paling didengar ketika kawasan harus mengambil keputusan strategis.
Ukuran ekonomi nasional dan jumlah penduduk terbesar ikut memperkuat posisi tersebut. Kemampuan Indonesia berinteraksi dengan para pemimpin dunia juga membuat pengaruhnya di ASEAN semakin sulit diabaikan.
Di titik ini, Indonesia tidak hanya tampil sebagai anggota besar. Negara ini dipandang mampu memberi arah saat ASEAN menghadapi tekanan eksternal yang makin kompleks dan saling terkait.
Rezasyah menilai KTT ke-48 ASEAN juga menghasilkan modal penting berupa kekompakan antarpemimpin Asia Tenggara. Kekompakan itu dianggap membantu memperkuat sinergi agar visi komunitas ASEAN berjalan lebih terintegrasi.
Namun, ia mengingatkan bahwa tantangan sesudah forum tidak kalah penting. Gagasan yang tertulis dalam ASEAN Community Blue Prints tidak boleh berhenti sebagai wacana, karena kawasan membutuhkan langkah yang lebih nyata.
Karena itu, ASEAN dinilai perlu menyusun rencana aksi agar setiap butir dalam dokumen tersebut bisa dijalankan secara efektif. Dorongan untuk membuat action plan menjadi penting agar kerja sama kawasan tidak berhenti pada pernyataan bersama.
Pembahasan ketahanan pangan dan energi di Cebu memperlihatkan bahwa agenda ASEAN semakin dekat dengan kebutuhan publik. Di tengah tekanan global, Indonesia kembali muncul sebagai negara yang memberi arah sekaligus menjaga keseimbangan kawasan.
Source: mediaindonesia.com