Di Jepang, masalah hikikomori tidak berhenti pada kebiasaan mengurung diri di kamar. Kondisi ini sudah menjadi persoalan sosial yang ikut menekan tenaga kerja, ekonomi, dan bahkan masa depan demografi negara itu.
Yang paling mengkhawatirkan, banyak pelakunya berada di usia produktif. Mereka berhenti sekolah, tidak bekerja, lalu memutus hubungan dengan kehidupan sosial dalam waktu yang sangat lama.
Mengapa kamar bisa menjadi satu-satunya tempat aman
Bagi sebagian orang, hikikomori berawal dari tekanan yang menumpuk dari sekolah, keluarga, dan lingkungan sekitar. Saat standar keberhasilan terasa terlalu tinggi, kegagalan kecil pun bisa berubah menjadi sumber malu yang berat.
Dalam budaya Jepang, rasa malu atau haji punya pengaruh besar. Gagal masuk universitas, kehilangan pekerjaan, atau sulit bertahan di dunia kerja dapat membuat seseorang merasa sangat tertekan hingga memilih menjauh dari penilaian orang lain.
Kamar lalu berubah menjadi tempat berlindung. Dari sana, isolasi yang semula hanya sementara bisa bertahan berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun.
Dari sekolah ke pengasingan diri
Banyak kasus hikikomori mulai terlihat sejak masa sekolah. Salah satu pemicunya adalah penolakan sekolah atau Gakkō Kōfu, yang kerap berkaitan dengan perundungan.
Perundungan itu tidak selalu berbentuk kekerasan fisik. Ia juga bisa hadir sebagai pengucilan sosial, ejekan berulang, tekanan kelompok, atau perlakuan diam yang berlangsung lama.
Situasi seperti itu membuat sekolah terasa seperti ruang yang mengancam. Pada titik tertentu, kamar tidur menjadi tempat yang dianggap paling aman, lalu isolasi pun berkembang menjadi kebiasaan jangka panjang.
Bukan sekadar suka menyendiri
Istilah hikikomori diperkenalkan oleh psikolog Jepang Tamaki Saitō pada akhir 1990-an. Secara harfiah, istilah ini berarti menarik diri, mundur, atau mengurung diri.
Pemerintah Jepang mendefinisikannya sebagai kondisi ketika seseorang mengisolasi diri di rumah setidaknya selama enam bulan berturut-turut. Mereka tidak pergi ke sekolah atau bekerja, dan menghindari interaksi sosial yang bermakna.
Kondisi ini berbeda dari orang yang hanya senang sendiri atau bekerja dari rumah. Pada hikikomori, isolasi berlangsung ekstrem dan terus-menerus, bahkan ada yang hanya keluar kamar untuk makan atau ke kamar mandi.
Tekanan ekonomi ikut memperlebar masalah
Kerentanan hikikomori tidak muncul dari faktor sosial saja. Perubahan ekonomi Jepang juga ikut memperbesar risiko itu, terutama setelah pecahnya gelembung ekonomi pada awal 1990-an.
Masa itu dikenal sebagai lost decade, saat pertumbuhan ekonomi melambat berkepanjangan dan pasar tenaga kerja berubah. Jaminan pekerjaan seumur hidup yang dulu dianggap aman mulai goyah.
Di sisi lain, pekerjaan kontrak, paruh waktu, dan status kerja tidak tetap semakin banyak. Generasi muda pun tumbuh dalam situasi yang jauh lebih tidak pasti dibandingkan generasi sebelumnya.
Bagi sebagian orang, tekanan untuk bersaing di tengah masa depan yang kabur terasa terlalu berat. Sebagian akhirnya memilih keluar dari sistem sepenuhnya dan menghilang dari rutinitas sosial.
Keluarga sering menjadi penyangga terakhir
Fenomena ini juga bertahan karena struktur dukungan di dalam keluarga. Di Jepang, ada konsep Amae, yaitu ketergantungan emosional yang diterima secara sosial antara anak dan orang tua.
Banyak orang tua tetap merasa bertanggung jawab atas anak mereka meski sudah dewasa. Karena itu, saat anak menjadi hikikomori, keluarga sering tetap menyediakan tempat tinggal, makanan, dan kebutuhan harian lainnya.
Dukungan itu lahir dari kasih sayang dan tanggung jawab. Namun, bantuan yang terus berjalan juga membuat pola hidup hikikomori dapat bertahan sangat lama, termasuk dalam kasus yang berlangsung puluhan tahun.
Saat masalah pribadi berubah menjadi isu nasional
Kini Jepang menghadapi tantangan yang dikenal sebagai Problem 8050. Istilah ini menggambarkan situasi ketika pelaku hikikomori sudah berusia 50-an tahun, sementara orang tua yang menopangnya berusia 80-an.
Masalah ini menunjukkan bahwa hikikomori bukan lagi soal remaja yang menarik diri sesaat. Banyak orang yang memulai isolasi sejak muda ternyata tetap bertahan hingga dewasa dan menua dalam kondisi yang sama.
Risikonya muncul ketika orang tua meninggal atau tidak lagi mampu mendukung secara finansial. Pada tahap itu, sebagian hikikomori bisa kehilangan sumber penghidupan, jatuh ke kemiskinan ekstrem, atau tetap terperangkap dalam isolasi tanpa bantuan.
Dampaknya juga menyentuh kepentingan negara yang lebih luas. Jutaan orang usia produktif tidak aktif di dunia kerja, sementara Jepang menghadapi populasi yang menua dan angka kelahiran yang terus menurun.
Pendekatan penanganan yang mulai bergeser
Pemerintah Jepang kini memandang hikikomori sebagai isu nasional, bukan semata persoalan kesehatan mental individu. Karena itu, penanganannya mulai diarahkan ke pendekatan yang lebih lunak dan bertahap.
Sejumlah pusat konsultasi khusus dibentuk untuk membantu para pelaku hikikomori dan keluarga mereka. Selain itu, organisasi nirlaba juga menyediakan ruang aman agar mantan hikikomori bisa kembali bersosialisasi secara perlahan.
Pendekatan baru ini tidak mengandalkan paksaan. Sasaran utamanya adalah reintegrasi bertahap, mulai dari interaksi kecil seperti berbicara dengan konselor, lalu perlahan bergabung dalam komunitas kecil, sebelum kembali ke aktivitas sosial yang lebih luas.
Cara pandang itu lahir dari pemahaman bahwa hikikomori tidak selalu berasal dari satu gangguan mental tertentu. Dalam banyak kasus, ini adalah respons terhadap tekanan sosial yang terlalu besar dan berlangsung terlalu lama.
Source: www.beritasatu.com