Kenaikan harga komponen dan perubahan arah produksi chip membuat pembeli laptop serta perakit PC semakin berhitung ulang. Di saat pasar AI menyedot perhatian industri semikonduktor, perangkat komputer konsumen justru menghadapi biaya yang lebih tinggi dan dorongan upgrade yang makin lemah.
Tekanan itu terasa karena harga RAM, SSD, dan prosesor sudah naik dalam enam bulan terakhir. Sementara itu, inovasi produk baru belum cukup kuat untuk membuat banyak pengguna merasa perlu segera mengganti perangkat lama.
Pasokan chip bergeser ke AI
Kelangkaan chip global ikut memperparah situasi ini. Nvidia, Intel, dan AMD disebut lebih memprioritaskan chip untuk server AI ketimbang chip untuk komputer konsumen.
Perubahan fokus tersebut membuat pasar laptop dan PC tradisional kehilangan tenaga. Bagi banyak pengguna, membeli perangkat baru kini terasa kurang mendesak karena manfaat dari produk terbaru belum cukup besar dibanding biaya yang harus dikeluarkan.
Di sisi prosesor, AMD masih mempertahankan platform AM5. Intel juga belum membawa penyegaran besar karena prosesor generasi terbaru Nova Lake baru akan dirilis akhir tahun ini.
Sementara itu, di sisi grafis, Nvidia belum meluncurkan seri RTX 50 Super. Rumor yang beredar juga menyebut seri RTX 60 baru akan hadir pada 2028.
Pembeli menahan belanja lebih lama
Minimnya pembaruan besar membuat banyak konsumen memilih menunda pembelian. Bagi pengguna dengan anggaran terbatas, bertahan lebih lama dengan perangkat yang ada dianggap sebagai pilihan paling masuk akal.
Perilaku ini langsung menekan permintaan motherboard global. Saat upgrade PC tidak lagi terasa mendesak, komponen inti untuk rakitan baru ikut kehilangan daya tarik di tengah harga yang makin tinggi.
Situasi di ritel juga tidak sederhana. Di satu sisi, harga komponen PC terus naik akibat demam AI, tetapi di sisi lain sejumlah peritel mulai memberi diskon motherboard untuk menghabiskan stok yang menumpuk.
Produsen motherboard ikut mengoreksi target
Dampak penurunan minat beli sudah terlihat pada proyeksi para produsen besar. Digitimes melaporkan empat pemain utama motherboard dunia sama-sama memangkas target penjualan tahun ini.
Asus diperkirakan hanya mampu menjual sekitar 10 juta motherboard pada 2026, turun 33% dibanding tahun sebelumnya yang mencapai 15 juta unit. Gigabyte juga menurunkan target penjualannya menjadi 9 juta unit dari sebelumnya 11,5 juta unit.
MSI ikut mengoreksi proyeksi menjadi 8,4 juta unit dari 11 juta unit pada tahun lalu. Kondisi paling berat dialami ASRock, yang diprediksi mengalami penurunan pengiriman hingga 37% dari 4,3 juta unit menjadi hanya 2,7 juta unit sepanjang tahun ini.
Secara keseluruhan, pasar motherboard global diperkirakan menyusut hingga 28% pada 2026. Angka itu menunjukkan bahwa ledakan AI tidak hanya membuka peluang baru, tetapi juga menekan pasar perangkat komputer konvensional.
Arah bisnis mulai bergeser
Tekanan pada pasar konsumen membuat sebagian produsen mencari jalur lain. Asus, Gigabyte, dan ASRock mulai mengalihkan bisnis ke server AI untuk menangkap peluang dari pembangunan pusat data raksasa oleh perusahaan hyperscaler global.
Langkah itu memperlihatkan perubahan besar dalam industri komputer. Saat permintaan chip untuk AI terus menyerap pasokan, pasar laptop dan PC konsumen harus bertahan di tengah harga komponen yang lebih mahal dan minat beli yang makin rendah.
Source: www.cnbcindonesia.com




