Bagi ASEAN, kesepakatan ekonomi digital regional kini tidak lagi berhenti sebagai wacana panjang. Pembahasan Digital Economy Framework Agreement atau DEFA sudah masuk fase akhir dan ditargetkan rampung pada Mei 2026 di Cebu, Filipina.
Dorongan itu datang saat kawasan ingin punya kerangka bersama yang lebih rapi untuk menghubungkan pasar digital lintas negara. Indonesia juga menaruh perhatian besar karena penandatanganan perjanjian ditargetkan berlangsung pada KTT ASEAN bulan November 2026.
Tekanan untuk menyelesaikan naskah
Pembahasan DEFA menjadi salah satu sorotan utama dalam ASEAN Economic Community Council atau AECC Meeting ke-27 yang digelar pada 6-7 Mei 2026 di Cebu. Forum tingkat menteri ekonomi ASEAN itu dihadiri pejabat ekonomi dari seluruh negara anggota, termasuk Filipina, Singapura, dan Timor-Leste.
Di pertemuan tersebut, negara-negara ASEAN menunjukkan dorongan bersama untuk mempercepat lahirnya kerangka ekonomi digital regional yang lebih solid. DEFA diposisikan sebagai instrumen penting untuk memperkuat integrasi ekonomi digital di kawasan dan memperluas kerja sama antaranggota.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan naskah DEFA tetap harus segera diselesaikan meski belum sepenuhnya final. “Walaupun DEFA text belum sempurna, namun harus segera diselesaikan sambil dilakukan review berkala sesuai dengan perkembangan dinamika ekonomi digital,” ujarnya dalam siaran pers, Jumat (8/5/2026).
Jalan setelah penandatanganan
Setelah penandatanganan pada November 2026, ASEAN menargetkan proses ratifikasi di masing-masing negara anggota selesai dalam 180 hari. Tahap ini akan menentukan seberapa cepat kesepakatan tersebut bisa mulai diterapkan di tingkat kawasan.
Indonesia menilai jadwal itu sejalan dengan Strategi Nasional Ekonomi Digital 2030. DEFA juga disebut mendukung aksesi OECD lewat penguatan infrastruktur digital, pengembangan sumber daya manusia digital, transformasi UMKM, dan penguatan regulasi keamanan siber.
Peluang pasar digital yang lebih besar
Sejak awal, DEFA dirancang sebagai kerangka ekonomi digital regional komprehensif pertama di dunia. Inisiatif ini diluncurkan saat Indonesia memegang keketuaan ASEAN pada 2023, dengan tujuan menjadikan Asia Tenggara sebagai pusat digital yang lebih kuat dan saling terhubung.
Besarnya peluang itu juga terlihat dari proyeksi nilai ekonomi digital ASEAN. Berdasarkan studi BCG, kesepakatan DEFA yang komprehensif berpotensi mendorong nilai ekonomi digital kawasan dari USD1 triliun pada 2030 menjadi USD2 triliun.
Dampak yang diincar Indonesia
Bagi Indonesia, manfaat DEFA tidak hanya berada di level kerja sama antarnegara. Airlangga menyebut perjanjian ini dapat membantu menyelaraskan kebijakan dengan praktik internasional sekaligus menarik investasi di sektor teknologi tinggi.
DEFA juga dinilai dapat memperkuat kedaulatan data nasional dan membangun ekosistem digital yang lebih inklusif. Pada saat yang sama, peluang bagi UMKM untuk masuk ke pasar digital regional yang lebih kompetitif dan terhubung juga diperkirakan makin terbuka.
Dengan pembahasan yang sudah mendekati tahap akhir, DEFA kini menjadi salah satu agenda paling strategis ASEAN dalam beberapa tahun ke depan. Kesepakatan ini berpotensi menjadi pintu menuju pasar digital yang lebih besar, lebih terintegrasi, dan lebih siap menghadapi persaingan global.
Source: www.suara.com




