Reaksi Joyskim Dawa di Stadion Arcul de Triumf justru membuat perhatian publik tertuju lebih lama ke insiden yang terjadi di tribune. Bek FCSB asal Kamerun itu tidak memilih emosi berlebihan saat menjadi sasaran hinaan bernuansa rasial, melainkan menanggapi dengan gestur ironis yang langsung terlihat oleh para penonton.
Momen tersebut muncul ketika Dawa mendekati area Tribuna a II-a saat sebuah lemparan ke dalam berlangsung. Dari sektor suporter Dinamo, terdengar suara yang meniru kera dan diarahkan kepadanya, sehingga suasana pertandingan yang sudah panas ikut terseret ke ranah di luar sepak bola.
Yang menarik, Dawa sebenarnya sedang menjalani pertandingan yang penting bagi timnya. Ia lebih dulu membuka skor untuk FCSB pada menit ke-10 melalui situasi bola mati, sehingga kontribusinya di laga menuju Conference League itu sudah terasa sejak awal sebelum insiden di tribune menyita fokus.
Setelah hinaan itu terdengar, Dawa merespons dengan cara yang tidak biasa. Ia mengirim gestur “beze” atau kecupan tangan ke arah para suporter sebelum kembali memusatkan perhatian pada permainan.
Peristiwa tersebut memperlihatkan bagaimana tekanan tribun masih menjadi masalah yang mengganggu jalannya pertandingan di Rumania. Meskipun laga tetap berlanjut, momen itu segera menjadi sorotan karena terjadi di tengah pertandingan yang sudah memiliki tensi tinggi.
Kasus di Arcul de Triumf juga bukan kejadian yang berdiri sendiri. Kurang dari dua pekan sebelumnya, laga Dinamo melawan CFR Cluj yang berakhir 0-0 juga diwarnai perilaku serupa dari Tribuna 2.
Dalam pertandingan itu, suara tiruan kera terdengar berkali-kali saat Christopher Braun, Tidiane Keita, dan Sheriff Sinyan menguasai bola. Braun sempat memberi teguran kepada penonton lewat gestur menepuk atau menegaskan keberatannya, tetapi respons dari tribune saat itu belum langsung berhenti.
Rangkaian kejadian tersebut kembali menempatkan isu nyanyian rasial sebagai masalah yang belum tuntas di sepak bola Rumania. Situasi seperti ini kerap muncul dalam pertandingan dengan tekanan tinggi, lalu mengganggu fokus pemain di lapangan dan memicu reaksi dari tribun maupun pemain yang menjadi sasaran.
Bagi FCSB, laga tetap berjalan setelah momen itu, sementara Dawa menjaga konsentrasinya sampai akhir. Namun, insiden di tribune sudah terlanjur menjadi bagian paling mencolok dari pertandingan tersebut dan menambah daftar kasus yang mencoreng suasana kompetisi.
Source: golazo.ro