Di North Pole, Alaska, sebuah surat kabar sekolah yang dikerjakan murid justru berubah menjadi pemantik ketegangan politik. Di balik kegaduhan itu, nama Elstun W. Lauesen II ikut menempel karena ia masih remaja ketika ikut berada di pusat peristiwa yang menyeret sekolah, guru, dewan, dan warga ke dalam pertarungan terbuka.
Kisah itu bermula dari suasana sekolah yang serba sederhana dan tidak lama setelah keluarga Lauesen kehilangan rumah mereka akibat kebakaran di dekat North Pole. Saat itu, Butch, sapaan untuk Elstun kecil, baru masuk kelas delapan di sekolah umum North Pole yang masih menumpang di dua ruangan sementara milik First Baptist Church of North Pole.
Di lingkungan belajar yang terbatas itulah Dave Ray, pendeta Baptis dari King Cove, mulai memberi pengaruh besar. Ray tidak hanya mengajar, tetapi juga mendorong siswa untuk aktif dengan membentuk student council, literary society, dan surat kabar sekolah yang ia anggap sama pentingnya dengan tambahan guru.
Butch kemudian dipercaya menjadi editor-in-chief saat usianya baru 13 tahun. Pat Carter, sahabatnya seumur hidup, menjadi asisten editor dan ikut terlibat dalam proyek yang kelak membuat nama Lauesen dikenang dalam sejarah kecil sekolah itu.
Perhatian publik meledak setelah edisi kedua “The Long Look” terbit pada 17 Oktober 1958. Di dalamnya ada materi ringan seperti karnaval Halloween, pelajaran angka untuk murid kelas satu, rencana pentas sekolah, dan turnamen dam, tetapi satu bagian lain mengubah surat kabar itu menjadi isu politik.
Edisi tersebut memuat iklan dan tulisan yang mendukung kandidat Senat AS dari Partai Demokrat, Ernest Gruening, sekaligus menyerang lawannya, Mike Stepovich dari Fairbanks. Partai Demokrat sebenarnya hanya membayar 10 dolar untuk iklan yang seharusnya berbunyi “Vote Straight Democratic. November 25, 1958. Paid political adv.”, tetapi isi yang terbit meluas jauh dari bentuk iklan resmi itu.
Sekitar seperempat halaman bagian dalam juga berisi seruan agar pembaca tidak “membuang hak kelahiran” dengan mengirim seorang Republik ke Washington untuk bekerja dengan Bartlett. Nama Bartlett yang dimaksud adalah E.L. “Bob” Bartlett, Demokrat yang memiliki dukungan luas dari kedua partai, sehingga isi publikasi itu makin menonjol di tengah suhu kampanye yang sudah memanas.
Waktu penerbitannya membuat suasana semakin sensitif karena muncul sekitar sebulan sebelum pemilihan pertama di Alaska untuk memilih senator AS. Dari ruang redaksi kecil di sekolah, perdebatan politik negara bagian baru itu ikut merembet ke North Pole dan memicu reaksi keras dari warga serta tokoh lokal.
Wali kota North Pole, Con Miller, mengecam isi surat kabar itu. Ketua dewan sekolah Jack Jenkins dan Daily News-Miner juga turut mengkritiknya, sementara editorial surat kabar lokal menyebut publikasi tersebut sebagai propaganda yang tak layak muncul di surat kabar sekolah.
Tekanan kemudian mengarah pada Dave Ray, dan sebagian pendukung Stepovich meminta agar ia dipecat. Mereka meragukan bahwa siswa berusia 13 tahun bisa benar-benar memiliki pandangan sendiri dan menduga Ray telah mengarahkan mereka.
Namun para siswa justru bergerak membela guru mereka. Sekitar 25 dari 80-an murid sekolah itu berparade di area bisnis sambil membawa poster bertuliskan “Unfair school board,” “We want Mr. Ray,” dan permintaan agar Ray tetap mengajar di North Pole.
Mereka juga menyebarkan selebaran yang menjelaskan bahwa Ray dibutuhkan untuk surat kabar, student council, dan literatur public speaking mereka. Lauesen termasuk di antara siswa yang membela Ray, meski pemberitaan surat kabar sempat salah mengidentifikasinya sebagai “Butch Carter”.
Dewan sekolah akhirnya memecat Ray, tetapi keputusan itu tidak meredam situasi. Pengacara Warren A. Taylor kemudian menyebut pemecatan tersebut ilegal karena Ray tidak mendapat pemberitahuan yang layak dan dewan bisa diwajibkan membayar gajinya jika keputusan itu tidak dibatalkan.
Pada akhirnya, dewan sekolah mengalah dan Ray kembali mengajar. Meski begitu, suasana belum juga tenang karena rapat-rapat berikutnya berubah menjadi adu emosi, dengan teriakan, saling tuding, dan kekacauan terbuka.
Dalam salah satu rapat yang ricuh, seorang pria di kerumunan yang keliru diidentifikasi sebagai “Elton Lauesen” memperingatkan Walter Durham agar tidak menyentuh Ford. Saat keadaan makin panas, Lauesen berdiri dan meminta semua pihak berhenti bersikap kekanak-kanakan, lalu mengajak mereka menurunkan ketegangan dan melanjutkan dari sana.
Bertahun-tahun kemudian, Elstun menulis bahwa masa bersama Ray membuat hidupnya lebih baik daripada jika pengalaman itu tidak pernah terjadi. Ia juga mengenang bagaimana sang guru menilai dirinya bukan anak keras seperti yang selama ini ia bayangkan, serta mengingat pelajaran pada hari pertama kelas delapan tentang baris Tennyson yang menyebut “beauty, Good, and Knowledge” hidup bersama di bawah satu atap dan tak bisa dipisahkan tanpa air mata.
Source: www.dermotcole.com




