Layar lebar kerap menjadi tempat aman untuk membicarakan hal yang sering sulit diucapkan langsung: kesehatan mental. Lima film ini memperlihatkan bagaimana skizofrenia, depresi, kecemasan, hingga tekanan sosial dapat membentuk hidup para tokohnya dengan cara yang berbeda.
Daya tariknya bukan hanya pada konflik yang berat, tetapi juga pada cara film membuka ruang untuk melihat gejala, perawatan, dan pentingnya dukungan. Di tengah stigma yang masih kuat, kisah-kisah seperti ini bisa membantu penonton memahami bahwa penyintas gangguan mental perlu dipahami, bukan dijauhi.
Jenius di balik skizofrenia paranoid
Salah satu judul yang paling dikenal adalah A Beautiful Mind, yang tayang pada 2001 dan diangkat dari novel Sylvia Nasar dengan judul sama. Film ini mengikuti John Forbes Nash, ekonom dan matematikawan peraih Hadiah Nobel yang dikenal jenius dalam matematika, tetapi hidup dengan skizofrenia paranoid.
Cerita Nash menampilkan pemisahan dari kenyataan dan paranoia delusi yang mengganggu hidupnya. Film ini juga memperlihatkan perjuangannya menghadapi keterbatasan penanganan pada masa itu.
Pengalaman di rumah sakit jiwa dan perubahan pandangan
Girl, Interrupted hadir pada 1999 dan diadaptasi dari memoar Susanna Kaysen. Latar ceritanya berada di akhir 60-an, ketika Susanna menjalani pengalaman sebagai penyintas di rumah sakit jiwa Amerika.
Tokoh Susanna digambarkan hidup dengan borderline personality disorder dan bertemu pasien lain seperti Polly Clark serta Janet Webber di bangsal perempuan. Film ini turut menunjukkan perubahan cara pandang terhadap kesehatan mental dari era 1960-an hingga 1999.
Tekanan peran perempuan yang jarang dibicarakan
Kim Ji Young Born 1982 diangkat dari novel laris karya Cho Nam-joo dan tayang pada 2019. Tokoh utamanya adalah ibu rumah tangga berusia 30-an yang tiba-tiba menunjukkan tanda-tanda seolah dirinya adalah orang lain.
Kisah ini berangkat dari perdebatan yang sempat muncul di Korea Selatan setelah novelnya terbit. Film tersebut menyoroti patriarki, hak perempuan, dan beban peran yang kerap menumpuk pada perempuan sebagai pekerja, ibu, dan pengurus rumah tangga.
Depresi remaja dan ruang aman yang belum tentu mudah dicapai
It’s Kind of a Funny Story diadaptasi dari novel karya Vizzini yang terinspirasi dari pengalamannya melawan depresi. Film ini mengikuti Craig, siswa SMA berusia 16 tahun yang masuk rumah sakit jiwa setelah berpikir untuk bunuh diri.
Craig digambarkan cerdas, tetapi juga mengalami stres sangat tinggi dan tekanan dari harapan orang tua. Selama berada di rumah sakit, ia berinteraksi dengan pasien lain dan mulai melihat hidupnya dari perspektif baru, termasuk soal hak istimewa yang selama ini ia terima begitu saja.
Kecemasan, pertemanan, dan lapisan isu lain yang berat
The Perks of Being a Wallflower diangkat dari novel coming-of-age karya Stephen Chbosky. Film ini berpusat pada Charlie, siswa yang introvert, pemalu, dan rentan terhadap kecemasan.
Perjalanan Charlie berubah saat ia berteman dengan Sam dan Patrick, lalu mulai menemukan kenyamanan dalam hubungan sosial yang baru. Selain isu mental illness, film ini juga memuat sexual abuse, obat-obatan, dan alkohol, sehingga lebih tepat ditonton dengan kesiapan menghadapi trigger tertentu.
Kelima film tersebut menunjukkan bahwa kesehatan mental hadir dalam banyak bentuk, dari skizofrenia hingga depresi, dari kecemasan hingga tekanan sosial yang menekan perempuan. Di saat yang sama, kisah-kisah itu menegaskan bahwa penyintas perlu dipahami, bukan dijauhi, terutama ketika stigma masih membuat banyak orang ragu mencari pertolongan.
Source: www.beautynesia.id