Dari Sepatu Kosong Hingga Rekor Nasional, Perjalanan Yad Dan Irma Menembus Batas Lari

Latihan panjang, tekanan kompetisi, dan kebutuhan menjaga ritme menjadi bagian penting dari perjalanan dua pelari Indonesia, Yad Hapizudin dan Irma Handayani. Keduanya menunjukkan bahwa prestasi di lintasan lahir dari proses yang berulang, bukan dari satu hasil lomba saja.

Di balik capaian yang mereka raih, ada disiplin harian yang terus dibangun. Dukungan PUMA ikut hadir dalam perjalanan itu, sementara setiap ajang diperlakukan sebagai ruang untuk menguatkan kualitas dan konsistensi.

Berlari dari titik yang berbeda

Yad Hapizudin datang dari Lombok Timur dan dikenal sebagai spesialis nomor 1.500 meter. Perjalanannya menuju atletik justru berawal dari kegiatan ekstrakurikuler sekolah, ketika ia sempat mencoba silat dan lari sebelum akhirnya memilih cabang yang paling serius ia jalani.

Satu kemenangan di kompetisi pelajar menjadi penanda penting dalam kariernya. Sejak titik itu, lari tidak lagi sekadar aktivitas tambahan, melainkan jalur prestasi yang menuntut target dan ketekunan.

Perkembangan Yad terlihat dari hasil yang terus membaik di sejumlah ajang. Ia baru saja menjadi juara di Singapore Open Track and Field Championships 2026 sekaligus memegang rekor nasional U-20.

Kemampuannya juga terlihat tidak hanya di nomor khasnya. Pada nomor 5 km di Adhyaksa International Run 2026, Yad mencatat waktu 15:08 dan memperlihatkan bahwa kapasitasnya cukup fleksibel untuk menghadapi lintasan yang berbeda.

Maraton, ketahanan, dan penyesuaian hidup

Berbeda dengan Yad, Irma Handayani menekuni maraton dan datang dari Kalimantan Timur. Namanya ikut dikenal lewat performa di berbagai ajang bergengsi, termasuk Daegu Marathon 2026 di Korea Selatan dengan catatan 2 jam 56 menit 1 detik.

Perjalanan Irma tidak dimulai dari kondisi yang ideal. Ia pernah mengikuti lomba tanpa sepatu, pengalaman yang kemudian menjadi dorongan untuk berkembang dan mencari performa yang lebih baik.

Lari lalu berubah menjadi komitmen penuh yang ikut memengaruhi keseharian. Untuk tetap kompetitif, Irma perlu menata ulang banyak hal, termasuk waktu istirahat dan kebersamaan dengan orang-orang terdekat.

Meski sudah pernah meraih pencapaian di ajang Pekan Olahraga Nasional, Irma tetap menempatkan proses sebagai perhatian utama. Sikap itu membuat fokusnya lebih tertuju pada perkembangan jangka panjang ketimbang hanya hasil dari satu perlombaan.

Latihan yang membentuk fisik dan mental

Di luar hasil lomba, keduanya menjalani latihan yang menuntut fisik dan mental. Sesi seperti interval dan long run menjadi bagian penting untuk membangun daya tahan sekaligus kesiapan menghadapi tekanan saat bertanding.

Yad menilai fase akhir lomba sering menjadi penentu. Ia menyebut, “Di 2 km terakhir itu biasanya sudah adu speed,” sehingga kesiapan tubuh dan respons terhadap perlengkapan ikut menjadi faktor yang tidak bisa diabaikan.

Irma memandang maraton sebagai perlombaan ritme. Menurutnya, dukungan yang membantu performa tetap stabil dari awal sampai akhir menjadi penting karena maraton menuntut konsistensi di setiap fase.

Dalam konteks itu, perlengkapan dengan konsep “speed for everyday” menjadi bagian dari dukungan yang mendampingi latihan maupun hari pertandingan. Bagi atlet, aspek seperti ini bukan hanya soal rasa nyaman, tetapi juga efisiensi gerak dan keyakinan saat turun ke lintasan.

Prestasi yang lahir dari proses panjang

Kisah Yad dan Irma memperlihatkan bahwa jalan atlet tidak pernah benar-benar lurus. Keduanya sama-sama melewati jenuh, tekanan latihan, dan pengorbanan waktu bersama keluarga maupun lingkungan terdekat.

Dari proses itulah karakter mereka terbentuk. Yad kini membidik rekor 1.500 meter di kategori senior, sementara Irma terus menjaga prinsip untuk menikmati proses tanpa kehilangan arah pada hasil.

Dua perjalanan ini menegaskan bahwa langkah yang panjang kerap lebih penting daripada sorotan sesaat di garis finis. Dengan latihan disiplin, mental yang terjaga, dan dukungan yang tepat, Yad Hapizudin dan Irma Handayani terus bergerak menuju versi terbaik dari diri mereka sendiri.

Source: www.viva.co.id
Exit mobile version