Kembalinya Afrika Selatan ke Piala Dunia 2026 membawa pesan yang lebih besar daripada sekadar tiket lolos. Bafana Bafana datang dengan beban sejarah yang panjang, sekaligus dorongan untuk menembus fase yang belum pernah mereka capai di panggung terbesar sepak bola dunia.
Kelolosan ini juga menutup penantian 16 tahun yang terasa sangat panjang bagi publik Afrika Selatan. Mereka bahkan absen pada tiga edisi sebelumnya, sehingga kehadiran di putaran final kali ini menjadi tanda bahwa fondasi tim mulai kembali terbentuk dengan lebih stabil.
Di bawah Hugo Broos, Afrika Selatan membangun ulang skuad secara bertahap. Proses itu terlihat dari keberanian memberi ruang kepada pemain muda, tanpa sepenuhnya meninggalkan pemain berpengalaman yang dibutuhkan untuk menjaga keseimbangan tim.
Perubahan itu memberi hasil nyata saat kualifikasi CAF berlangsung ketat. Afrika Selatan akhirnya finis sebagai pemuncak Grup C dengan catatan lima kemenangan, tiga imbang, dan dua kekalahan, lalu memastikan langkah ke putaran final lewat kemenangan 3-0 atas Rwanda.
Kemenangan atas Rwanda terasa penting karena persaingan grup berlangsung rapat sampai akhir. Nigeria dan Benin memberi tekanan besar, tetapi Bafana Bafana tetap menjaga posisi teratas dan mengamankan tiket dengan cara yang meyakinkan.
Bagi Afrika Selatan, lolos ke Piala Dunia 2026 juga punya makna historis. Ini adalah kali pertama mereka meraih tiket melalui jalur kualifikasi sejak 2002, sehingga keberhasilan ini menandai hadirnya konsistensi yang lama dicari.
Identitas dan jejak tim
Afrika Selatan berada di bawah naungan South African Football Association atau SAFA dan bermarkas di Johannesburg. Tim ini memakai warna kuning dan hijau, berdiri pada 1991, dan memainkan laga kandang di FNB Stadium atau Soccer City yang berkapasitas sekitar 94.736 penonton.
Perjalanan modern Bafana Bafana dimulai setelah era isolasi olahraga akibat apartheid berakhir. Laga internasional pertama mereka digelar pada 7 Juli 1992 melawan Kamerun, dan Afrika Selatan menang 1-0 lewat gol Doctor Khumalo.
Dalam pembaruan terbaru, tim ini menempati peringkat FIFA ke-60. Hugo Broos memimpin dari kursi pelatih, sementara Ronwen Williams dipercaya sebagai kapten.
Modal dari masa lalu
Afrika Selatan pernah memberi kejutan besar di benua Afrika saat menjuarai Piala Afrika 1996 di kandang sendiri. Setelah itu mereka finis runner-up pada 1998 dan menutup turnamen 2000 di posisi ketiga.
Di Piala Dunia, Bafana Bafana sudah tampil pada 1998, 2002, dan 2010 sebelum kembali memastikan tempat pada 2026. Dari empat keikutsertaan itu, mereka belum pernah menembus fase gugur, tetapi pengalaman mereka di level global tetap tergolong panjang.
Secara keseluruhan, Afrika Selatan telah memainkan sembilan laga Piala Dunia. Hasilnya terdiri dari dua kemenangan, empat imbang, dan tiga kekalahan, dengan torehan 11 gol dan 16 kali kebobolan.
Pencapaian terbaik mereka terjadi pada Piala Dunia 2002 saat finis di posisi ke-17. Saat itu Afrika Selatan bermain imbang 2-2 dengan Paraguay, menang 1-0 atas Slovenia, lalu kalah 2-3 dari Spanyol dan tersingkir karena selisih gol.
Kenangan yang masih hidup
Piala Dunia 2010 masih menyimpan banyak momen penting bagi publik Afrika Selatan. Siphiwe Tshabalala mencetak gol pembuka melawan Meksiko, yang menjadi gol pertama tuan rumah di turnamen tersebut.
Pada edisi yang sama, Afrika Selatan juga mencatat kemenangan terbesar mereka di Piala Dunia saat menundukkan Prancis 2-1 pada fase grup. Bongani Khumalo dan Katlego Mphela menjadi penentu kemenangan yang memperkuat citra mereka sebagai tim yang mampu mengejutkan lawan.
Sejumlah nama juga tercatat kuat dalam sejarah Afrika Selatan di turnamen itu. Quinton Fortune, Benni McCarthy, Lucas Radebe, dan Aaron Mokoena sama-sama memegang rekor enam penampilan untuk tim ini di Piala Dunia.
Di sisi produktivitas gol, Shaun Bartlett dan Benni McCarthy sama-sama mengoleksi dua gol. McCarthy bahkan menjadi satu-satunya pemain Afrika Selatan yang mencetak gol pada dua edisi Piala Dunia berbeda.
Skuad baru, target baru
Hugo Broos mulai membentuk ulang tim sejak ditunjuk pada Mei 2021. Ia memberi porsi lebih besar kepada pemain muda dan membangun skuad yang lebih kompetitif untuk jangka panjang.
Nama-nama seperti Thalente Mbatha, Oswin Appollis, dan Evidence Makgopa ikut tumbuh dalam proses itu. Mereka kemudian memainkan peran penting saat Afrika Selatan melewati kualifikasi yang padat tekanan.
Broos juga tetap menjaga keseimbangan dengan pemain senior. Kombinasi itu membuat Bafana Bafana tampil lebih stabil ketika menghadapi laga-laga penentuan.
Untuk Piala Dunia 2026, Afrika Selatan membawa perpaduan pemain muda dan berpengalaman. Ronwen Williams tetap menjadi kapten, sementara skuad diisi oleh pemain yang tampil menonjol di level klub maupun tim nasional.
Kiper yang dibawa adalah Ronwen Williams, Ricardo Goss, dan Sipho Chaine. Lini belakang dihuni Aubrey Modiba, Khuliso Mudau, Nkosinathi Sibisi, Mbekezeli Mbokazi, Ime Okon, Samukele Kabini, Khulumani Ndamane, Thabang Matuludi, Bradley Cross, dan Olwethu Makhanya.
Di lini tengah, Broos memasukkan Teboho Mokoena, Sphephelo “Yaya” Sithole, Thalente Mbatha, dan Jayden Adams. Sementara itu, lini depan diisi Themba Zwane, Lyle Foster, Evidence Makgopa, Oswin Appollis, Iqraam Rayners, Tshepang Moremi, dan Thapelo Maseko.
Grup yang menuntut konsentrasi penuh
Di fase grup, Afrika Selatan akan berhadapan dengan Meksiko, Republik Korea, dan Republik Ceko. Susunan ini membuat setiap pertandingan punya bobot besar karena sedikit celah bisa langsung mengubah posisi di klasemen.
Laga pertama mereka adalah melawan Meksiko pada 12 Juni 2026 pukul 02.00 WIB di Mexico City Stadium. Setelah itu, Afrika Selatan menghadapi Republik Ceko pada 18 Juni 2026 pukul 23.00 WIB di Atlanta Stadium, lalu menutup fase grup melawan Republik Korea pada 25 Juni 2026 pukul 08.00 WIB di Estadio Monterrey.
Grup ini akan menguji kedalaman skuad, disiplin taktik, dan mental para pemain. Namun, tren positif yang dibangun dalam beberapa tahun terakhir membuat Bafana Bafana hadir bukan hanya sebagai peserta, melainkan sebagai tim yang ingin mengubah batas yang selama ini menahan mereka.
Source: www.beritasatu.com




