Dari Larangan hingga Tuduhan Politik, Mengapa Masha and the Bear Tetap Disorot Banyak Negara

Di balik popularitas besar Masha and the Bear, serial animasi ini justru berulang kali memunculkan penolakan di berbagai negara. Kontroversinya tidak hanya soal hiburan anak, tetapi juga menyentuh nilai pengasuhan, sensitivitas budaya, hingga tudingan politik.

Daya tarik Masha yang ceria, aktif, dan berani memang mudah melekat di ingatan. Namun karakter yang sama juga sering dinilai terlalu bebas, sulit diatur, dan kerap menantang orang dewasa, sehingga sebagian pihak melihatnya sebagai contoh yang kurang tepat untuk anak-anak.

Salah satu reaksi paling keras datang dari Iran. Pemerintah setempat melarang penayangan Masha and the Bear di televisi negara karena tokoh utamanya dianggap tidak mencerminkan perilaku yang pantas bagi anak-anak.

Di negara yang menekankan kesopanan dan kepatuhan, sosok Masha dipandang bermasalah karena terlalu sulit dikendalikan. Penolakan itu menunjukkan bahwa karakter yang dianggap lucu di satu tempat bisa dipandang berisiko di tempat lain.

Kritik serupa juga muncul di Amerika Serikat, meski tidak berujung pada larangan resmi. Sejumlah orang tua mempersoalkan gaya Masha yang dinilai kurang mendidik bagi penonton usia dini.

Persoalan berbeda muncul di Kanada setelah sebuah adegan dalam episode Distant Relative pada 2015 memicu keberatan. Adegan dukun atau shaman itu dianggap menampilkan stereotipe terhadap penduduk asli setempat.

Kontroversi tersebut membuat serial ini sempat ditarik sementara dari Netflix. Pihak kreator kemudian menjelaskan bahwa adegan itu dimaksudkan sebagai parodi dari cerita rakyat Rusia, bukan untuk menyinggung komunitas penduduk asli Amerika.

Kasus di Kanada memperlihatkan betapa satu adegan bisa dibaca secara berbeda ketika beredar lintas negara. Dalam animasi anak yang menjangkau audiens global, sensitivitas budaya dapat mengubah penerimaan publik secara drastis.

Di Ukraina, penolakan bergerak ke ranah politik. Serial ini menghadapi keberatan dari otoritas setempat karena dianggap sebagai propaganda Kremlin.

Penolakan itu tidak lepas dari besarnya jangkauan serial ini di sana. Kanal YouTube versi bahasa Ukraina disebut memiliki 18 juta pelanggan dan meraih lebih dari 800 juta tayangan dalam satu tahun.

Anggota parlemen Verkhovna Rada, Yaroslav Yurchyshyn, bahkan meminta sanksi terhadap kartun tersebut. Melalui Telegram pribadinya, ia menyebut proyek Masha and the Bear sebagai konten pro-Kremlin dan mendorong pembatasan pada produk Rusia lain serta penetapan batas usia untuk penggunaan jejaring sosial.

Menariknya, larangan dan kecaman justru tidak selalu membuat minat publik meredup. Dalam beberapa kasus, perhatian terhadap serial ini malah meningkat karena rasa penasaran terhadap konten yang dipersoalkan.

Setelah larangan di Iran, jumlah pengikut serial ini di media sosial dilaporkan naik hingga 30 persen. Fenomena itu memperkuat kesan bahwa kontroversi dapat berubah menjadi promosi tidak langsung.

Popularitas globalnya juga sudah tercatat melalui pencapaian besar. Pada 2018, Guinness World Records menobatkan episode ke-17 berjudul Recipe for Disaster (Masha + Kasha) sebagai video kartun atau animasi paling banyak ditonton di YouTube, dengan jumlah tayangan yang kini menembus 4,6 miliar.

Dengan reputasi sebesar itu, wajar jika Masha and the Bear terus menjadi bahan perdebatan. Serial ini tetap disukai banyak penonton, tetapi di saat yang sama juga terus memicu diskusi soal batas budaya, pendidikan, dan politik di berbagai negara.

Source: mediaindonesia.com
Exit mobile version