Dari Iklan ke Pendapatan, AI Kini Menjadi Mesin Operasional Bisnis

Perubahan terbesar di industri advertising dan teknologi bukan lagi soal seberapa banyak orang melihat iklan, melainkan seberapa cepat perhatian itu berubah menjadi transaksi. Di titik itu, AI mulai diposisikan sebagai lapisan operasional yang langsung terhubung dengan pendapatan, bukan sekadar alat tambahan untuk kampanye.

Pandangan tersebut juga mengubah cara bisnis membaca pertumbuhan. Ukurannya kini tidak cukup berhenti pada reach, karena yang lebih penting adalah kemampuan merespons interaksi secara tepat dan real-time sebelum peluang konversi hilang.

Dari exposure ke revenue

Chief Growth Officer Cekat.AI, Laode Hartanto, menilai masih banyak bisnis yang memisahkan advertising sebagai pendorong demand dari sistem operasional yang seharusnya menangkap permintaan itu. Pemisahan ini, menurutnya, membuat sebagian potensi revenue menguap di tengah perjalanan customer journey.

Laode melihat fokus utama bisnis sudah bergeser. Pertanyaan yang relevan bukan lagi seberapa luas audiens dijangkau, tetapi bagaimana setiap interaksi bisa diolah menjadi revenue.

Dalam pandangannya, advertising tetap penting sebagai mesin pembangkit demand. Namun AI berperan menjaga agar demand tersebut tidak berhenti sebagai perhatian sesaat, melainkan bergerak menuju konversi yang lebih optimal.

Customer journey yang menuntut respons lebih cepat

Perjalanan pelanggan yang makin kompleks membuat pendekatan tradisional dianggap tidak lagi memadai. Brand kini membutuhkan sistem yang mampu memahami konteks pelanggan, merespons instan, dan mendorong konversi di setiap titik interaksi.

Di sisi lain, banyak brand masih menjalankan advertising secara terpisah dari sistem operasional. Kondisi itu membuat alur customer journey tidak utuh dan peluang transaksi bisa terlewat sebelum benar-benar masuk ke tahap pembelian.

Karena itu, Laode menekankan pentingnya pengelolaan interaksi yang cepat dan tepat. Baginya, nilai pertumbuhan sekarang ditentukan oleh seberapa efektif bisnis mengubah percakapan menjadi hasil nyata.

AI, data, dan advertising makin saling terhubung

Laode memandang konvergensi advertising, data, dan AI sebagai fondasi untuk membangun keunggulan kompetitif. Dalam era pertumbuhan yang digerakkan AI, revenue tidak lagi lahir dari exposure semata, tetapi dari kemampuan teknologi mengubah interaksi menjadi nilai yang bisa diukur.

Dari sudut pandang itu, AI mulai naik kelas menjadi bagian dari cara bisnis beroperasi setiap hari. Teknologi ini tidak lagi ditempatkan hanya sebagai pendukung, melainkan sebagai infrastruktur yang menghubungkan demand, engagement, dan conversion dalam satu alur kerja.

Cekat.AI menargetkan percepatan adopsi AI pada brand dan advertiser dengan fokus pada integrasi aktivitas advertising dan sistem operasional berbasis AI. Arah ini ditujukan agar proses bisnis menjadi lebih terhubung dan tidak terputus di tengah perjalanan pelanggan.

Platform yang bekerja lintas kanal

Salah satu pendekatan yang ditawarkan Cekat.AI adalah platform AI Agent untuk mengotomatisasi dan mengelola interaksi pelanggan secara omnichannel. Kanal yang disebut mencakup WhatsApp, Instagram, TikTok, dan Telegram, dengan respons yang kontekstual, adaptif, dan aktif 24/7.

Laode menyebut platform itu lebih dari sekadar automation. Ia menjelaskan bahwa Cekat.AI dirancang sebagai revenue engine, yakni lapisan baru dalam operasional bisnis yang menghubungkan aktivitas advertising, customer engagement, hingga conversion dalam satu sistem terintegrasi.

Fungsi tersebut juga diarahkan untuk membantu bisnis mengubah leads menjadi revenue secara lebih efektif. Pemanfaatannya mencakup customer service, upselling, serta pengelolaan leads agar sistem lebih siap merespons kebutuhan pelanggan secara langsung.

Latar belakang eksekusi dan arah pengembangan

Laode sendiri baru bergabung dengan Cekat.AI, tetapi membawa pengalaman lebih dari satu dekade di perusahaan global seperti Gojek, Emtek Group, Facebook, dan dentsu Indonesia. Pengalamannya mencakup strategi pertumbuhan berbasis advertising, media, data, dan teknologi.

Di tempat-tempat itu, ia terlibat dalam optimasi performa marketing, pengelolaan skala distribusi, sampai perancangan transformasi digital untuk brand besar. Latar belakang tersebut dinilai relevan dengan kebutuhan bisnis yang kini menghadapi customer journey yang jauh lebih rumit.

Cekat.AI didirikan oleh dua anak muda Indonesia, Matthew Sebastian dan Nicholas Alden Liem, yang melakukan riset AI di AS. Berangkat dari riset mendalam tentang AI Agent, platform ini kemudian berkembang untuk membantu bisnis mengotomatisasi customer engagement dan mempercepat conversion.

Di tengah pergeseran ini, posisi AI dalam bisnis terlihat semakin jelas. Teknologi tersebut kini bergerak masuk ke inti operasional, tempat keputusan apakah demand berhenti di interaksi atau benar-benar berubah menjadi pendapatan ditentukan.

Source: mediaindonesia.com

Baca Juga

Back to top button