Gerakan perbaikan pendidikan kini tidak lagi berhenti pada ruang diskusi, melainkan mulai diarahkan ke tindakan yang lebih konkret di sekolah. Salah satu dorongan terbarunya datang lewat peluncuran Segmen STA: Gerakan Benerin 1000 Sekolah yang menempatkan perbaikan fasilitas, literasi, kapasitas pendidik, dan budaya belajar sebagai sasaran utama.
Langkah itu muncul dalam forum Gerakan Pendidikan Kembali ke Akar di Ganara Art FX Sudirman, Jakarta, yang menjadi ruang temu berbagai komunitas untuk membahas masalah pendidikan dari sisi yang lebih dasar. Forum ini hadir di momentum Hari Raya Pendidikan 2026 dan memperlihatkan bahwa pembenahan sekolah kini dipahami sebagai kerja bersama, bukan beban satu pihak saja.
Isu pendidikan dibaca sebagai persoalan lintas sektor
Lebih dari 350 peserta hadir dalam forum tersebut. Mereka berasal dari berbagai latar, mulai dari pelajar, mahasiswa, pendidik, pegiat komunitas, akademisi, kreator muda, hingga masyarakat umum.
Komposisi itu memberi gambaran bahwa pendidikan semakin dipandang sebagai urusan bersama. Persoalan sekolah tidak hanya dibahas dari sudut kelas, tetapi juga dari peran komunitas, teknologi, kebudayaan, dan gerakan sosial yang berada di luar tembok sekolah.
Forum ini mempertemukan Gekrafs, Sekolah Tanah Air, Bepro, Cemas.co, dan Distrik Berisik dalam satu agenda. Sejumlah narasumber juga ikut mengisi diskusi, termasuk M. Andy Zaky dari Orbit Edutech, Galih Sulistyaningra dari Smartick Indonesia, Nada Aprianita sebagai kreator dan guru sejarah, Reza Erfit dari Rumus Muda, serta perwakilan kementerian dan pendidik lain.
Masalah dasar sekolah jadi titik bahas utama
Sesi awal bertema Peta Pendidikan Indonesia membuka pembahasan yang menyoroti masalah-masalah yang masih melekat di sekolah. Diskusi itu mengangkat ketimpangan akses pendidikan, kualitas pembelajaran, kesenjangan fasilitas sekolah, dan tantangan menjaga relevansi sistem pendidikan di tengah perubahan sosial dan teknologi.
Dari pembahasan tersebut, sekolah ditempatkan sebagai bagian dari ekosistem yang saling terhubung. Kondisi sekolah, kapasitas guru, dan akses belajar yang belum merata dipandang saling memengaruhi, sehingga perbaikannya juga harus dilakukan secara serentak.
Pendekatan itu menegaskan bahwa pembenahan pendidikan tidak cukup berhenti pada wacana. Perubahan perlu menyentuh akar persoalan yang dialami murid dan guru di lapangan, termasuk hal-hal mendasar yang selama ini sering tertinggal dalam pembahasan publik.
Gerakan 1000 sekolah diarahkan ke aksi nyata
Peluncuran Gerakan Benerin 1000 Sekolah menjadi penanda arah baru dari forum tersebut. Program ini dirancang untuk mendorong perubahan langsung di lingkungan sekolah melalui penguatan fasilitas belajar, literasi, kapasitas pendidik, dan budaya belajar yang lebih sehat.
Founder Sekolah Tanah Air, Rian Fahardhi, menekankan bahwa perubahan pendidikan tidak boleh berhenti di forum diskusi. Ia melihat gerakan kolektif ini sebagai upaya agar perbaikan benar-benar terasa sampai ke sekolah-sekolah, baik di kota besar maupun di wilayah pelosok.
Arah gerakan tersebut juga menunjukkan bahwa kebutuhan paling dasar di sekolah harus menjadi prioritas. Dengan begitu, dampaknya diharapkan lebih nyata bagi murid dan guru yang setiap hari berhadapan langsung dengan kondisi pendidikan di lapangan.
Anak muda didorong menjadi penggerak
Antusiasme peserta juga dibaca sebagai tanda meningkatnya kesadaran publik terhadap isu pendidikan. Ketua Umum Bepro, Luthfi Dipa, menilai anak muda perlu hadir sebagai penggerak, bukan sekadar penonton, dalam upaya pembenahan pendidikan.
Melalui program sosial BeCare, Bepro berencana mengaktifkan jaringan relawan di 20 provinsi untuk mengawal Gerakan Benerin 1000 Sekolah sampai ke tingkat akar rumput. Jangkauan itu membentang dari Aceh hingga Papua Barat, sejalan dengan posisi Bepro sebagai penghubung aspirasi anak muda lintas daerah.
Gerakan tersebut juga ditempatkan dalam visi Indonesia Emas 2045, dengan pendidikan merata sebagai salah satu fondasi utamanya. Dari forum ini terlihat bahwa pembahasan pendidikan mulai bergerak dari ide ke kerja bersama yang lebih terukur, dengan komunitas kreatif, organisasi masyarakat, dan anak muda sebagai bagian penting di dalamnya.
Source: www.medcom.id