Di tengah ketatnya persaingan kendaraan energi baru di Tiongkok, Mazda mulai menunjukkan bahwa jalur yang dipilih bersama Changan bukan sekadar kerja sama biasa. Langkah ini memberi ruang bagi Mazda untuk tampil lebih relevan di pasar NEV yang bergerak cepat, terutama setelah dua merek itu mengandalkan platform yang lebih sesuai dengan kebutuhan konsumen lokal.
Arah baru tersebut terlihat dari cara Mazda memanfaatkan kolaborasi panjang yang sudah terbangun selama dua dekade dengan Changan. Hubungan yang sebelumnya berjalan sebagai kemitraan industri kini menjadi fondasi penting bagi Mazda untuk menghadirkan model yang lebih kompetitif di pasar Tiongkok.
Strategi yang kian terarah
Mazda tidak langsung menemukan formula yang kuat di segmen kendaraan listrik. Sebelum lebih serius memanfaatkan Changan, pabrikan Jepang itu sudah lebih dulu mencoba peruntungan lewat MX-30 pada 2019, tetapi respons pasar belum cukup besar.
Upaya berikutnya melalui CX-30 EV juga belum memberi dorongan berarti. Dua pengalaman tersebut tampaknya membuat Mazda mengubah pendekatan, dari bergerak sendiri menjadi mengandalkan sinergi yang lebih dekat dengan mitra yang memahami karakter pasar lokal.
Toru Nakajima, Direktur Eksekutif Senior Mazda, menyebut perusahaan kini telah menemukan ritme yang tepat untuk menghadapi pasar kendaraan listrik di Tiongkok. Pernyataan itu memperlihatkan bahwa kerja sama dengan Changan sudah naik kelas, dari sekadar langkah uji coba menjadi strategi bisnis yang lebih matang.
Platform Changan jadi landasan model baru
Salah satu hasil paling nyata dari kolaborasi ini datang dari pemanfaatan arsitektur EPA milik Changan. Dari platform tersebut, Mazda melahirkan sedan 6e yang di pasar domestik dikenal sebagai EZ-6, serta SUV menengah CX-6e atau EZ-60.
Keduanya tidak hanya ditawarkan sebagai kendaraan listrik murni. Mazda juga menyediakan opsi Range Extended EV atau REEV, sehingga konsumen memiliki pilihan yang lebih fleksibel sesuai kebutuhan harian dan preferensi pasar yang berbeda.
Langkah ini penting karena menunjukkan bahwa Mazda tidak hanya mengejar elektrifikasi, tetapi juga menyesuaikan produk dengan pola penggunaan di Tiongkok. Dalam pasar yang sangat cepat berubah, fleksibilitas produk menjadi salah satu pembeda utama.
Dampak mulai terlihat pada penjualan
Perubahan strategi tersebut mulai tercermin pada angka pengiriman kendaraan. Berdasarkan data China EV DataTracker, Mazda mencatat pengiriman 91.061 unit dalam periode April 2025 hingga Maret 2026.
Capaian itu melampaui target internal yang sebelumnya dipasang sebanyak 76.000 unit. Artinya, realisasi Mazda berada hampir 20 persen di atas sasaran awal dan menunjukkan bahwa momentum pertumbuhan mulai terbentuk.
Kontribusi model baru juga cukup besar. Penjualan gabungan EZ-6 dan EZ-60 menyumbang lebih dari 40 persen terhadap total penjualan bulanan Mazda pada kuartal pertama 2026.
Peluang lebih besar di pasar NEV Tiongkok
Bagi Mazda, kenaikan kinerja ini bukan hanya soal angka. Kemitraan yang makin solid dengan Changan membuka peluang bagi lahirnya lebih banyak model NEV yang bisa lebih dekat dengan kebutuhan konsumen Tiongkok.
Ada peluang yang lebih menarik lagi jika tren ini terus bertahan. Mazda berpotensi menjadi perusahaan patungan pertama di Tiongkok yang menjual lebih banyak NEV dibandingkan kendaraan konvensional berbahan bakar bensin atau ICE.
Jika itu terjadi, posisi Mazda dan Changan dapat menjadi contoh bagaimana pabrikan mobil konvensional beralih ke kendaraan energi baru secara lebih efektif. Dalam persaingan otomotif modern, arah seperti ini bisa sangat menentukan masa depan bisnis merek Jepang tersebut.
Di luar Tiongkok, Mazda 6e disebut akan segera hadir di Indonesia dan bahkan sudah sempat terlihat menjalani tes jalan dengan balutan kamuflase. SUV CX-6e juga tidak menutup kemungkinan masuk ke pasar Indonesia, terutama karena segmen SUV listrik dinilai memiliki potensi yang besar.
Source: otomotif.kompas.com




