Daratan Jakarta Terus Amblas, Tekanannya Kini Lebih Cepat Daripada Kenaikan Air Laut

Bagi kota pesisir padat penduduk, ancaman paling serius sering kali tidak terlihat dari permukaan. Jakarta kini menjadi salah satu contoh paling jelas, karena daratannya turun lebih cepat dibanding laju kenaikan permukaan laut.

Kajian yang dipimpin Julius Oelsmann dari German Geodetic Research Institute (DGFI-TUM) mencatat penurunan tanah rata-rata Jakarta sebesar 1,3 cm per tahun. Angka itu menempatkan ibu kota Indonesia di kelompok wilayah dengan penurunan daratan paling parah di Bumi, sejajar dengan Tianjin di China dan Bangkok di Thailand.

Tekanan ganda di pesisir

Masalah Jakarta tidak berdiri sendiri. Di banyak kawasan pesisir dunia, permukaan laut naik rata-rata sekitar 0,64 cm per tahun dan menekan wilayah yang sudah rentan. Sekitar 71 persen populasi pesisir global tinggal di area yang terdampak kondisi semacam ini.

Di sejumlah pesisir lain, laju kenaikan laut bahkan tercatat sekitar 0,76 cm per tahun. Situasi itu ditemukan di Bangladesh, Thailand, Mesir, dan Nigeria, sehingga ancaman banjir dan kerusakan wilayah pesisir tidak lagi terbatas pada satu kota atau satu negara.

Jakarta tidak turun dengan pola yang sama

Penurunan tanah di Jakarta juga tidak merata. Di sebagian wilayah, tanah ambles lebih dari 3,8 cm per tahun, sementara area lain justru menunjukkan kenaikan permukaan tanah.

Pola yang tidak seragam ini membuat pemantauan dan penanganan menjadi lebih rumit. Kondisi serupa juga terlihat di banyak kawasan pesisir lain, sehingga risiko yang muncul tidak selalu sama dari satu titik ke titik lain.

Penyebab utama dari bawah permukaan

Pengambilan air tanah menjadi penyebab utama penurunan permukaan tanah. Saat air dipompa dari akuifer di bawah tanah, lapisan tanah di atasnya memadat perlahan dan permukaan ikut turun dari tahun ke tahun.

Selain itu, produksi minyak dan gas juga dapat memicu efek serupa. Beban dari gedung, pencakar langit, jalan raya, dan infrastruktur lain ikut menambah tekanan pada tanah, terutama di kota yang terus berkembang.

Di kota-kota delta, sedimen sungai yang lepas juga bisa memadat secara alami. Ada pula proses geologis yang bergerak sangat lambat dan masih berlangsung di sejumlah pantai sampai sekarang.

Tidak semua pesisir mengalami hal yang sama

Meski banyak wilayah mengalami penurunan, ada juga daerah pesisir yang justru naik. Fenomena itu terlihat di Eropa Utara, termasuk sebagian Swedia dan Finlandia, yang masih menyesuaikan diri dengan gletser yang menghilang sejak Zaman Es.

Namun, wilayah seperti itu tergolong langka. Jumlah penduduk pesisir yang tinggal di area dengan kenaikan permukaan tanah bahkan kurang dari 10 persen, sehingga sebagian besar masyarakat pesisir tetap menghadapi tekanan dari dua arah sekaligus.

Gabungan antara daratan yang turun dan laut yang naik membuat risiko banjir rob, kerusakan infrastruktur, dan gangguan ruang hidup semakin sulit dihindari. Bagi Jakarta, situasi ini menjadi sinyal bahwa amblesnya tanah bukan persoalan kecil, melainkan ancaman nyata yang membutuhkan perhatian lebih besar.

Source: www.cnbcindonesia.com
Exit mobile version