Dadan Hindayana Tersingkir Setelah Deret Polemik MBG, Dari Ulat Sagu Sampai Motor Listrik Rp1 Triliun

Pergantian pucuk pimpinan Badan Gizi Nasional terjadi di tengah sorotan yang belum mereda terhadap pelaksanaan Makan Bergizi Gratis. Setelah evaluasi pemerintah menyoroti tata kelola, disiplin terhadap SOP, dan mutu makanan, Dadan Hindayana resmi dicopot dari jabatan Kepala BGN dan digantikan Nanik Sudaryati Deyang.

Keputusan itu membuat deretan polemik yang mengiringi masa kepemimpinan Dadan kembali jadi perhatian. Dari persoalan keamanan pangan, menu yang diperdebatkan, hingga belanja penunjang yang nilainya besar, BGN berkali-kali berada di pusat kritik publik.

Masalah paling berat datang dari kasus keracunan

Salah satu tekanan terbesar muncul dari dugaan keracunan makanan dalam program MBG. Dalam rapat bersama DPR pada November 2025, Dadan menyebut ada 11.640 penerima manfaat yang terdampak, dengan rincian 636 orang rawat inap dan 11.004 orang rawat jalan.

Angka itu memperkuat keraguan terhadap pengawasan keamanan pangan di lapangan. Setelahnya, BGN menyatakan sudah memperketat SOP, meningkatkan pengawasan dapur MBG, memberi sanksi kepada mitra yang melanggar, serta menghentikan operasional sejumlah SPPG yang terkait kasus keracunan.

Menu dan mekanisme distribusi juga menuai kritik

Di luar soal keamanan pangan, cara program dijalankan ikut memunculkan perdebatan. Saat Ramadan 2025, MBG tetap berjalan di tengah banyak siswa berpuasa, lalu mekanisme distribusinya diubah agar makanan bisa dibawa pulang untuk berbuka.

Namun, kritik tetap muncul karena isi paket di lapangan disebut tidak selalu sesuai dengan gambaran awal. Jika semula disebut akan berisi susu, telur rebus, kurma, buah-buahan, dan makanan tahan lama lainnya, sebagian penerima justru mendapat sereal instan, roti, serta dua butir kurma.

Perbedaan antara rencana dan realisasi itu membuat standar mutu layanan kembali dipertanyakan. Situasi tersebut ikut memperkuat anggapan bahwa pengawasan distribusi MBG belum berjalan seragam.

Pernyataan pribadi yang ikut memantik reaksi

Sorotan terhadap Dadan tidak hanya datang dari kebijakan program, tetapi juga dari pernyataannya di ruang publik. Pada 25 Mei 2025, dalam acara di Pondok Pesantren Syaichona Muhammad Cholil, Bangkalan, Jawa Timur, ia bercerita tentang kebiasaannya minum sekitar dua liter susu per hari.

Ia mengaitkan kebiasaan itu dengan tinggi badan kedua anaknya yang disebut lebih dari 180 sentimeter. Pernyataan tersebut dikritik karena dinilai kurang peka terhadap kondisi ekonomi banyak keluarga yang masih kesulitan memenuhi kebutuhan pangan harian, meski Dadan kemudian menjelaskan bahwa cerita itu hanya pengalaman pribadi, bukan kebijakan resmi MBG.

Usulan ulat sagu hingga serangga memicu pro dan kontra

Polemik lain muncul lebih awal ketika Dadan mengusulkan serangga dan ulat sagu sebagai alternatif sumber protein dalam MBG. Usulan itu ia kaitkan dengan keragaman pangan lokal di Indonesia, terutama di wilayah Indonesia Timur yang sejak lama mengenal konsumsi ulat sagu dan beberapa jenis serangga.

Gagasan tersebut memunculkan reaksi yang beragam. Sebagian pihak melihatnya sebagai bentuk penghargaan terhadap kearifan lokal, tetapi sebagian lain menilai usulan itu kurang sejalan dengan ekspektasi masyarakat terhadap program makan bergizi yang dibiayai negara.

Belanja operasional yang ikut disorot

Selain konten program, anggaran penunjang operasional juga tak lepas dari perhatian publik. Pada April 2026, informasi pengadaan 21.801 unit motor listrik untuk operasional Kepala SPPG beredar luas dan langsung memicu kritik.

Dadan mengakui pengadaan itu merupakan bagian dari anggaran 2025 untuk mendukung mobilitas petugas MBG di lapangan. Realisasinya mencapai 21.801 unit dari rencana awal 25.644 unit, dengan nilai yang ikut jadi sorotan karena harga e-katalog sekitar Rp49,95 juta per unit membuat 25.000 unit diperkirakan bernilai sekitar Rp1,24 triliun dan 21.801 unit sekitar Rp1,08 triliun.

Kritik juga muncul pada pengadaan semir dan sikat sepatu senilai sekitar Rp1,5 miliar. Barang tersebut disebut masuk sebagai perlengkapan pendidikan dan pelatihan peserta Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia.

Wacana MBG ke Arab Saudi menambah tekanan

Menjelang akhir masa jabatannya, Dadan kembali menuai perdebatan saat mewacanakan perluasan MBG ke Arab Saudi. Gagasan itu muncul setelah kunjungannya ke Sekolah Indonesia Jeddah dan disebut mendapat sambutan positif dari para siswa di sana.

Ia bahkan menyebut Sekolah Indonesia Jeddah berpotensi menjadi lokasi percontohan pertama MBG di luar negeri jika mendapat persetujuan Presiden Prabowo Subianto. Wakil Ketua Komisi IX DPR RI Yahya Zaini menilai gagasan itu tidak sejalan dengan tujuan utama MBG yang ditujukan untuk meningkatkan gizi anak-anak di Indonesia.

Kritik terhadap wacana tersebut semakin kuat setelah muncul perhitungan bahwa program itu berpotensi menjangkau sekitar 1.400 siswa Indonesia di Arab Saudi dengan kebutuhan anggaran sekitar Rp132 juta per hari. Di tengah banyaknya persoalan di dalam negeri, usulan itu dinilai lebih tepat diarahkan pada perbaikan kualitas pendidikan atau perluasan program gizi di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar.

Source: www.suara.com

Baca Juga

Back to top button