Cuaca Makkah Tak Bisa Diremehkan, 8 Cara Jaga Jemaah Haji Tetap Aman Dari Dehidrasi dan Heatstroke

Menjalani ibadah haji di tengah cuaca panas menuntut jemaah untuk lebih cermat menjaga kondisi tubuh. Suhu di Arab Saudi dapat melampaui 40 derajat celsius, sehingga risiko dehidrasi, kelelahan, dan heatstroke ikut meningkat bila asupan cairan serta perlindungan tubuh tidak diperhatikan.

Di tengah padatnya aktivitas ibadah, tubuh sering dipaksa bekerja lebih keras dari biasanya. Karena itu, menjaga kesehatan bukan sekadar pelengkap perjalanan, melainkan bagian penting agar jemaah tetap kuat menjalani rangkaian ibadah di Tanah Suci.

Minum sebelum tubuh terasa lelah

Langkah paling dasar untuk mencegah dehidrasi adalah minum secara teratur tanpa menunggu rasa haus datang. Saat haus sudah terasa, tubuh biasanya telah kehilangan cairan lebih dulu.

Air putih atau air zam-zam dapat diminum sedikit demi sedikit tetapi sering, supaya tubuh tetap terhidrasi sepanjang hari. Cara ini lebih efektif dibanding minum banyak sekaligus dalam satu waktu.

Perhatikan cairan yang hilang lewat keringat

Cuaca yang sangat panas tidak hanya menguras air tubuh, tetapi juga mineral dan garam yang ikut keluar melalui keringat. Dalam kondisi seperti ini, minuman elektrolit atau oralit dapat membantu mengganti cairan yang hilang.

Sebaliknya, minuman berkafein tinggi dan minuman yang terlalu manis sebaiknya dibatasi. Keduanya dapat membuat tubuh lebih cepat kekurangan cairan dan terasa makin lemas saat beraktivitas.

Lindungi kepala, mata, wajah, dan kulit

Paparan matahari di Makkah dan Madinah sangat kuat, terutama saat jemaah harus banyak berada di luar ruangan. Payung berwarna cerah bisa membantu memantulkan panas, sementara kacamata hitam berguna untuk mengurangi silau dan debu.

Bagi jemaah pria yang tidak sedang ihram, topi atau sorban juga bisa dipakai sebagai pelindung tambahan. Masker yang dibasahi air dapat membantu menjaga kelembapan saluran napas ketika udara terasa kering dan panas.

Pada saat yang sama, kulit juga perlu dijaga dari sinar ultraviolet yang tinggi. Tabir surya dengan SPF minimal 30 dianjurkan untuk area yang terbuka seperti wajah dan tangan, sedangkan pelembap kulit serta lip balm membantu mencegah kulit dan bibir menjadi kering.

Atur jam keluar agar tidak terlalu lama di bawah matahari

Waktu siang hingga sore merupakan periode paling panas, sehingga aktivitas luar ruangan sebaiknya dikurangi pada jam-jam tersebut. Menghindari paparan matahari langsung antara pukul 11.00 hingga 16.00 dapat membantu tubuh bertahan lebih baik.

Untuk ibadah sunah seperti tawaf atau umrah tambahan, waktu malam atau dini hari cenderung lebih aman karena suhu lebih sejuk. Pengaturan waktu seperti ini memberi ruang bagi tubuh untuk tetap stabil di tengah cuaca ekstrem.

Pilih pakaian dan makanan yang mendukung stamina

Pakaian yang nyaman sangat berpengaruh terhadap daya tahan tubuh saat cuaca panas. Bahan katun atau kain yang mudah menyerap keringat lebih disarankan karena membantu sirkulasi udara tetap baik, sementara pakaian longgar berwarna terang seperti putih terasa lebih sejuk.

Asupan makanan juga perlu dibuat lebih ringan agar tubuh tidak bekerja terlalu berat. Buah-buahan yang banyak mengandung air seperti semangka, jeruk, dan melon dapat membantu menjaga keseimbangan cairan tubuh.

Makanan yang terlalu pedas atau berminyak sebaiknya dihindari karena dapat mengganggu pencernaan. Dengan pilihan makan yang lebih sederhana, tubuh bisa tetap nyaman saat harus banyak bergerak.

Jangan abaikan waktu istirahat

Di tengah rangkaian ibadah yang padat, waktu tidur sering berkurang tanpa disadari. Padahal, tubuh tetap membutuhkan istirahat untuk memulihkan tenaga setelah terpapar panas sepanjang hari.

Beristirahat di tempat yang sejuk atau ber-AC dapat membantu menjaga kondisi tubuh tetap fit. Dengan tubuh yang lebih pulih, jemaah lebih siap menjalani wukuf di Arafah, mabit di Muzdalifah, dan lempar jumrah di Mina tanpa mudah tumbang oleh panas terik.

Source: www.beritasatu.com

Baca Juga

Back to top button