Cookies Gaplek Gunungkidul Tembus China, Dari Camilan Desa Menjadi Oleh-Oleh Modern

Di Gunungkidul, bahan yang dulu lekat dengan tiwul kini justru masuk ke etalase oleh-oleh dan panggung pameran. Cookies gaplek buatan Olya Widowati Putri menunjukkan bahwa pangan desa bisa naik kelas tanpa kehilangan identitas asalnya.

Produk dari Delollie Cake & Cookies itu hadir dalam bentuk cookies dan brownies berbahan tepung gaplek singkong yang diolah tanpa terigu. Dari dapur rumahan di Nglipar, olahan ini bergerak ke pasar yang lebih luas, termasuk tampil di pameran di China dan laris di ajang besar seperti Pekan Raya Jakarta.

Dari bahan pokok ke kudapan modern

Gaplek selama ini dikenal sebagai bahan untuk makanan pokok seperti nasi tiwul. Namun, lewat tangan Olya, bahan yang sama bisa berubah menjadi cookies dan brownies yang dikemas rapi sebagai buah tangan khas Gunungkidul.

Keunikan inilah yang membuat produk tersebut menarik. Satu bahan lokal bisa menjalankan dua fungsi sekaligus, yakni sebagai sumber pangan tradisional dan sebagai kudapan modern yang bernilai jual lebih tinggi.

Berawal dari eksperimen sederhana

Langkah Olya ke cookies gaplek tidak terjadi seketika. Ia lebih dulu membuat cookies red velvet berbahan terigu pada 2021 sebelum akhirnya beralih ke tepung gaplek pada awal 2023.

Gagasan itu tumbuh dari keinginannya mengangkat kearifan lokal dan menghadirkan produk yang tidak musiman. Tepung gaplek yang dipakai berasal dari milik mertuanya dan biasa digunakan untuk membuat tiwul, lalu disaring berulang kali sampai sangat halus sebelum masuk ke adonan kue.

Pada tahap awal, cookies dibuat tanpa isian agar rasa asli tepung singkong lebih terasa. Setelah komposisinya dianggap pas, barulah oatmeal dan beberapa variasi rasa ditambahkan untuk memberi pilihan lebih luas kepada konsumen.

Produk yang dibuat untuk pasar yang lebih tahan lama

Delollie Cake & Cookies dikembangkan Olya dengan tujuan menghadirkan produk yang awet dan cocok dibawa sebagai oleh-oleh. Karena itu, tampilan dan kemasannya digarap serius, mulai dari pouch, kotak box dengan stiker informatif, hingga toples kaca untuk varian tertentu.

Harga cookies dalam kemasan pouch dimulai dari Rp18 ribu. Sementara itu, varian dalam toples kaca dipasarkan di kisaran Rp50 ribu hingga Rp65 ribu.

Daya simpan menjadi salah satu keunggulan penting. Dengan kemasan kedap udara, cookies gaplek bisa bertahan hingga 12 bulan, sehingga cocok untuk wisatawan yang mencari buah tangan dari Gunungkidul.

Mengusung konsep lebih ramah tubuh

Selain membawa identitas lokal, produk ini juga punya pendekatan yang berbeda dari kue pada umumnya. Cookies dan brownies Delollie dibuat dari tepung singkong tanpa campuran terigu, sehingga mengusung konsep bebas gluten.

Kadar gulanya juga dibuat rendah. Setelah mendapat masukan dari ahli kuliner sehat, Olya mengganti gula pasir dengan gula aren atau gula semut dalam adonan.

Meski berbahan dasar tak biasa, hasil akhirnya tetap dijaga agar enak dimakan. Brownies yang dihasilkan disebut tetap lembut, sementara cookies-nya terasa gurih, dan ada pelanggan yang awalnya ragu lalu justru menyukainya.

Bisnis yang bertahan lewat penyesuaian

Jauh sebelum fokus pada cookies gaplek, Olya sudah lebih dulu berjualan burger dan cappuccino cincau di pinggir jalan kawasan Nglipar sejak 2014. Saat itu usahanya tumbuh cepat karena pesaing masih sedikit, lalu gerai sederhana itu berkembang menjadi kafe mini dengan dekorasi lampu yang menarik minat anak muda.

Perubahan lokasi kemudian memunculkan tantangan baru. Lahan lama bukan milik sendiri, dan saat pindah ke tempat yang kurang strategis, omzet turun drastis.

Dalam kondisi itu, Olya beralih membuat kue tart ulang tahun secara kustom untuk menjaga pemasukan. Pesanan tart tetap datang setiap minggu hingga sekarang, ditopang pelanggan yang sudah mengenal rasa produknya.

Dari Gunungkidul ke pasar yang lebih luas

Perluasan jangkauan Delollie Cake & Cookies juga didorong oleh ekosistem BRI. Melalui Rumah BUMN Yogyakarta yang dibina BRI, produk ini mendapat ruang display strategis dan kesempatan tampil di berbagai pameran.

Dukungan itu membuka pintu promosi yang lebih besar untuk produk berbasis gaplek dari Gunungkidul. Salah satu momen penting terjadi ketika cookies gaplek dibawa ke pameran di China karena dinilai mewakili potensi lokal yang unik sekaligus sehat.

Di dalam negeri, produk ini juga hadir di Pekan Raya Jakarta dan disebut hampir selalu habis terjual. Untuk memudahkan transaksi, Olya sudah memakai QRIS BRI di gerai maupun saat pameran agar pembayaran lebih cepat dan tercatat rapi secara real-time.

Baca Juga

Back to top button