Jika dugaan para astronom ini tepat, pusat galaksi Markarian 501 menyimpan dua lubang hitam supermasif yang sedang berada dalam proses saling mendekat. Peristiwa itu bukan hanya menarik karena melibatkan objek kosmik berukuran sangat besar, tetapi juga karena pada akhirnya dapat memunculkan gelombang gravitasi yang berpotensi terdeteksi di Bumi.
Sinyal yang mengarah ke temuan tersebut muncul setelah analisis terhadap puluhan tahun data dari teleskop radio. Selama ini, objek itu sempat dipahami sebagai blazar biasa, yaitu inti galaksi yang sangat terang karena jet partikel berenergi tinggi mengarah tepat ke Bumi.
Pola pancaran yang tidak lazim
Kecurigaan para peneliti bermula saat mereka melihat pola pancaran yang tidak sesuai dengan gambaran blazar pada umumnya. Alih-alih satu sumber aktif di pusat galaksi, data justru menunjukkan sesuatu yang lebih rumit dan sulit dijelaskan dengan model tunggal.
Untuk memeriksa anomali itu, tim menelaah lebih dari 83 kumpulan data dari jaringan teleskop radio internasional. Dari sana, mereka menemukan dua jet energi yang bergerak dengan pola berbeda, sebuah petunjuk yang dinilai tidak biasa untuk objek jenis ini.
Silke Britzen, salah satu peneliti, menyebut munculnya jet kedua sebagai temuan yang sangat mengejutkan. Ia mengatakan tim merasa perlu segera membagikan hasil itu kepada komunitas ilmiah karena datanya membuka kemungkinan baru tentang apa yang sebenarnya terjadi di inti galaksi tersebut.
Dua lubang hitam raksasa yang mengorbit
Berdasarkan hasil pengamatan, kedua objek itu diperkirakan masing-masing memiliki massa antara 100 juta hingga 1 miliar kali massa Matahari. Keduanya diduga tidak berdiri sendiri, melainkan saling mengorbit dalam jarak yang sangat dekat untuk ukuran kosmik.
Para peneliti memperkirakan satu putaran orbit berlangsung sekitar 121 hari. Jarak antarkeduanya pun diperkirakan hanya sekitar 250 hingga 540 kali jarak Bumi ke Matahari, dan jarak itu diyakini akan terus menyusut seiring waktu.
Britzen menggambarkan dinamika itu sebagai sebuah “tarian” kosmik. Dalam skenario yang diperkirakan tim, gerakan tersebut pada akhirnya bisa berakhir dengan penggabungan, lalu hanya tersisa satu lubang hitam di pusat sistem itu.
Petunjuk dari cincin Einstein
Bukti lain yang memperkuat dugaan itu datang dari peristiwa pada Juni 2022, ketika kedua lubang hitam disebut berada dalam posisi sejajar sempurna. Pada momen tersebut, gravitasi salah satunya membelokkan cahaya dari jet yang lain hingga membentuk lingkaran cahaya hampir sempurna.
Fenomena itu dikenal sebagai cincin Einstein, bentuk dari pelensaan gravitasi saat medan gravitasi kuat membelokkan cahaya seperti lensa alami. Menurut Britzen, keberadaan cincin ini menjadi penegasan tambahan bahwa memang ada dua lubang hitam di pusat objek itu.
Dalam pengamatan objek jauh seperti Markarian 501, kecocokan beberapa petunjuk sering menjadi dasar penting untuk menyusun kesimpulan. Karena itu, temuan cincin Einstein dianggap membantu memperkuat pembacaan terhadap data radio yang sebelumnya tampak membingungkan.
Dampak ilmiah jika penggabungan benar terjadi
Jika dua lubang hitam supermasif itu benar-benar bertabrakan, peristiwa tersebut diperkirakan memunculkan gelombang gravitasi. Gelombang ini adalah riak pada ruang-waktu yang muncul dari kejadian kosmik yang sangat ekstrem.
Para peneliti menilai sinyal yang dihasilkan bisa lebih kuat daripada gelombang gravitasi yang pernah terdeteksi sebelumnya. Bila sinyal itu mencapai Bumi, detektor yang tersedia berpeluang menangkapnya dan memberi informasi baru tentang perilaku lubang hitam supermasif.
Meski begitu, para ilmuwan menegaskan bahwa peristiwa itu tidak akan berbahaya bagi Bumi. Nilai terpentingnya justru terletak pada kesempatan langka untuk menyaksikan proses penggabungan dua lubang hitam raksasa dari jarak jauh dan memahaminya dengan lebih baik.
Temuan ini juga memberi peluang untuk meneliti fase yang sangat jarang dalam evolusi galaksi. Dengan pengamatan yang terus berkembang, para peneliti berharap bisa mengikuti perubahan sistem Markarian 501 secara lebih rinci dan melihat apakah jejak pertemuan kosmik itu benar-benar akan terbaca lewat gelombang gravitasi yang sampai ke Bumi.
Source: mediaindonesia.com




