Di tengah perburuan teknologi baru, robot humanoid di China tidak lagi diposisikan sekadar sebagai tontonan pameran. Arah pengembangannya kini mengarah ke kebutuhan yang jauh lebih praktis, dari tugas berat dan berbahaya hingga pekerjaan berulang yang sulit ditangani manusia.
Perubahan itu terlihat jelas di Beijing, tempat sejumlah perusahaan mengembangkan robot dengan wajah bionik, kulit buatan, dan bentuk tubuh yang makin mendekati manusia. Salah satu yang menonjol adalah X-Humanoid, yang menyiapkan robot untuk bergerak di ruang sempit, melintas di medan kasar, dan menjalani perakitan serta pengujian sebelum dipakai di lapangan.
Dorongan industri yang semakin nyata
Bagi pengembang seperti X-Humanoid, kemiripan dengan tubuh manusia bukan sekadar soal tampilan. Nikita Gao, yang menangani pasar luar negeri perusahaan itu, menjelaskan bahwa robot yang lebih mirip manusia bisa melakukan lebih banyak hal seperti manusia.
Gao menegaskan tujuan perusahaan bukan menggantikan tenaga kerja. Fokusnya adalah membantu pekerja keluar dari lingkungan kerja yang keras dan berisiko, termasuk inspeksi kelistrikan.
China melihat humanoid sebagai bagian dari strategi besar
Dorongan terhadap robot humanoid tidak berdiri sendiri. Pemerintah China menempatkan robotik di pusat agenda nasional lewat rencana lima tahunan terbarunya, yang memuat target untuk mendorong “frontiers of science and technology”.
Dalam kerangka itu, humanoid menjadi salah satu bidang yang dipandang penting. Beijing juga melihatnya sebagai bagian dari persaingan jangka panjang dengan Amerika Serikat dan sebagai jalan untuk memperkuat daya saing industrinya.
Pertanyaan lama: seberapa mirip manusia yang benar-benar dibutuhkan
Di balik kemajuan desain, masih ada perdebatan soal efisiensi. Dan Wang dari Hoover Institution di Stanford University menilai tidak semua robot di pabrik harus tampak seperti manusia, karena tidak semuanya membutuhkan kaki.
Pandangan itu menyoroti inti diskusi dalam industri ini: apakah bentuk humanoid memang selalu menjadi pilihan paling efektif. Wang menyebut sebagian upaya ini lebih mirip pertunjukan, meski ia juga melihat pemerintah China punya rencana jelas agar lebih banyak robot humanoid merawat lansia dan anak-anak.
Kebutuhan itu muncul di tengah populasi China yang menua cepat. Karena itu, humanoid dipandang sebagai salah satu jawaban potensial, walau kemampuan fisik dan kemandirian robot saat ini masih jauh dari matang.
Panggung publik yang makin ramai
Kemajuan robot humanoid juga semakin sering ditampilkan ke publik. Pada gala Tahun Baru Imlek di CCTV, robot yang tampil tahun ini disebut jauh lebih canggih dibanding tahun lalu, dengan aksi salto dan gerakan bela diri yang terkoordinasi.
Di jalanan Beijing, lomba maraton robot juga memperlihatkan perubahan skala. Tahun lalu, robot-robot peserta masih banyak yang tersandung dan hanya enam yang berhasil finis dari puluhan peserta.
Tahun ini, lebih dari seratus robot turun ke lintasan yang sama. Pemenangnya menyelesaikan rute 13 mil dalam sedikit di atas 50 menit, bahkan melampaui rekor dunia manusia untuk half-marathon yang dibuat Jacob Kiplimo di Lisbon awal tahun ini.
Mesin yang makin besar, tantangan yang belum selesai
Ambisi China juga terlihat dari langkah Unitree Robotics. Perusahaan itu memperkenalkan humanoid hampir setinggi 9 kaki dengan kokpit yang bisa membawa manusia di dalamnya, sebuah desain yang mengingatkan pada mecha dalam fiksi ilmiah.
Mesin bernama GD01 itu disebut sebagai yang pertama di jenisnya dengan harga $650.000. Robot ini bisa berjalan dengan dua kaki, tetapi juga dapat berubah menjadi mesin berkaki empat, dengan bobot lebih dari 1.100 pon saat ada orang di dalamnya.
Namun, di balik bentuk fisik yang makin mencolok, masalah terbesar masih ada di perangkat lunak. Joanna Stern, chief technology analyst NBC News, mengatakan bagian yang paling perlu ditingkatkan adalah “otak” robot, yaitu sistem yang memungkinkan robot benar-benar menjalankan tugas di rumah maupun industri.
Untuk melatih robot agar bisa mencuci piring atau melipat pakaian, produsen membutuhkan data dunia nyata dalam jumlah besar. Karena itu, sejumlah perusahaan, termasuk perusahaan AS, menawarkan uang kepada orang yang bersedia merekam setiap gerakan tubuh mereka dengan iPhone yang dipasang di badan.
Di ruang produksi, jarak antara ambisi dan kenyataan masih terlihat jelas. Sejumlah humanoid setengah jadi tampak berbaris menunggu pemasangan kepala, tanpa kaki, dan hanya memiliki badan yang mengerucut ke unit beroda.
X-Humanoid juga menegaskan robotnya belum ditujukan untuk militarisasi. Gao menyebut ada nilai nyata untuk tugas darurat atau berbahaya, tetapi perusahaan tetap menolak penggunaan yang mengarah ke fungsi militer.
Bagi Beijing, arah pengembangannya tetap tegas, yakni mempercepat teknologi, membangun kapasitas produksi, dan menyiapkan robot yang suatu hari bisa membantu pekerjaan rumah, layanan publik, hingga perawatan lansia. Gao bahkan menilai bentuk robot itu sendiri masih akan berubah, dan pada masa depan tampilannya diperkirakan akan menjadi lebih lucu.