Charles Dan Camilla Perkuat Solidaritas Inggris-Amerika Saat Meninggalkan Pesan di Memorial 9/11

Kunjungan Raja Charles III dan Ratu Camilla ke New York menempatkan hubungan Amerika Serikat dan Britania Raya kembali dalam sorotan, bukan lewat pidato panjang, melainkan melalui pesan singkat yang mereka tinggalkan di Memorial 9/11. Di atas kartu yang disertakan bersama buket bunga putih, keduanya menyampaikan penghormatan kepada para korban serangan 11 September 2001 dan menegaskan solidaritas yang terus bertahan antara dua negara itu.

Pilihan untuk menuliskan pesan tangan di Ground Zero memberi bobot simbolik pada agenda kerajaan tersebut. Dalam suasana peringatan, Charles dan Camilla menunjukkan bahwa kehadiran mereka bukan sekadar kunjungan seremonial, tetapi juga bentuk dukungan kepada rakyat Amerika yang masih membawa ingatan mendalam atas tragedi itu.

Isyarat solidaritas di Ground Zero

Di lokasi memorial, pasangan kerajaan itu berdiri bersama mantan Wali Kota New York Michael Bloomberg. Bloomberg kini memimpin National September 11 Memorial & Museum, lembaga yang menjadi pusat penghormatan bagi para korban serangan teror tersebut.

Kehadiran mereka di area Ground Zero juga menegaskan bahwa peristiwa 11 September masih memiliki arti besar bagi Inggris. Serangan terhadap World Trade Center menewaskan hampir 2.800 orang, termasuk 67 warga Britania Raya, sehingga memori atas peristiwa itu tetap menjadi bagian dari sejarah bersama kedua negara.

Pesan yang diperkuat dengan latar diplomatik

Isi kartu yang ditinggalkan Charles dan Camilla dipahami sebagai penegasan hubungan transatlantik yang telah lama terjalin. Langkah ini dinilai relevan karena hubungan Amerika Serikat dengan Eropa disebut tengah berada di bawah tekanan.

Pada hari yang sama, Presiden AS Donald Trump kembali mengkritik Perdana Menteri Inggris Keir Starmer dalam pernyataan publik. Di tengah situasi itu, penghormatan di memorial tampil sebagai penanda bahwa kedekatan kedua negara tetap dijaga melalui simbol, ingatan sejarah, dan diplomasi.

Sehari sebelumnya, Charles juga menyinggung serangan 11 September 2001 dalam pidatonya di Kongres AS. Ia menyebut peristiwa itu sebagai momen pertama ketika Pasal 5 NATO diaktifkan dan mengingatkan bahwa Inggris ikut membela Amerika pada saat itu.

“The commitment and expertise of the United States Armed Forces and its allies lie at the heart of NATO,” ujar Charles. Ia menambahkan bahwa aliansi itu dibentuk untuk saling membela, melindungi warga, dan menjaga keamanan Amerika Utara serta Eropa.

Agenda lain di New York

Setelah dari memorial, Charles kemudian bertemu sejumlah pejabat terpilih di New York. Salah satu yang hadir adalah Wali Kota Zohran Mamdani, yang sebelumnya mengatakan akan meminta Charles mengembalikan berlian Koh-i-Noor ke India bila diberi kesempatan berbicara langsung.

Gubernur New York Kathy Hochul dan Gubernur New Jersey Mikie Sherrill juga ikut dalam pertemuan tersebut. Kehadiran para pejabat itu menunjukkan bahwa rangkaian kunjungan ini bergerak di wilayah simbolik sekaligus politik, tidak berhenti pada upacara penghormatan saja.

Charles ke Harlem, Camilla ke perpustakaan

Di luar agenda bersama, Charles dan Camilla menjalani kegiatan terpisah sepanjang sebagian besar siang hari. Charles menuju Harlem untuk mengunjungi Harlem Grown, organisasi nirlaba yang mengubah lahan kosong di perkotaan menjadi kebun berkelanjutan.

Kunjungan itu sejalan dengan perhatian Charles terhadap isu lingkungan dan keberlanjutan. Ia bahkan sempat membantu anak-anak memberi makan ayam di kandang, sebuah momen yang membuat lawatannya tampak lebih ringan dan dekat dengan kegiatan komunitas.

Camilla memilih menghadiri acara sastra di New York Public Library. Ia bertemu sejumlah tokoh di dunia buku, termasuk Sarah Jessica Parker, Anna Wintour, dan penulis Min Jin Lee.

Dalam kesempatan itu, Camilla juga membawa hadiah berupa boneka Roo baru untuk melengkapi koleksi mainan yang menginspirasi kisah Winnie-the-Pooh karya A.A. Milne. Replika tersebut akan bergabung dengan Pooh, Eeyore, Piglet, Tigger, dan Kanga yang telah lama disimpan di perpustakaan hampir 40 tahun lalu.

Rangkaian kegiatan di New York memperlihatkan bagaimana penghormatan sejarah, diplomasi, budaya, dan perhatian pada isu sosial dapat berjalan dalam satu kunjungan. Dari Memorial 9/11 hingga Harlem dan New York Public Library, Charles dan Camilla membawa pesan yang sama: solidaritas antara Inggris dan Amerika Serikat ingin terus dipertahankan.

Baca Juga

Back to top button