Di balik film horor-aksi yang mengandalkan ledakan gore, ada satu adegan yang justru menyedot waktu produksi paling lama. Momen wajah tokoh utama disobek di Badut Gendong digarap selama sekitar 10 bulan karena tim ingin hasilnya tampil meyakinkan dan tetap terasa ngeri saat masuk layar lebar.
Sutradara Charles Gozali menempatkan adegan itu sebagai salah satu bagian teknis paling berat dalam film produksi MAGMA Entertainment tersebut. Ia menegaskan bahwa prosesnya tidak dikerjakan secara terburu-buru, melainkan disusun perlahan dengan presisi tinggi agar detail visualnya benar-benar kuat.
Fokus besar pada detail visual
Tantangan terbesar ada pada adegan merobek wajah, yang menurut Charles menjadi bagian paling sulit selama pengerjaan. Detailnya harus terlihat sempurna, sementara efek yang diincar juga menuntut kesan brutal yang kuat.
Untuk mempertegas rasa ngeri, adegan itu dibuat dalam gerakan lambat. Pilihan ini membuat proses Computer-Generated Imagery atau CGI menjadi jauh lebih rumit dibanding banyak adegan serupa di film lain.
Pengerjaan visual untuk satu adegan tersebut berlangsung sangat panjang. Charles menyebut prosesnya memakan waktu sekitar 10 bulan hingga hasilnya sesuai dengan yang diinginkan tim produksi.
Dikerjakan tim khusus sejak awal
MAGMA Entertainment tidak menyerahkan adegan ini ke tim biasa. Mereka membentuk dedicated team khusus untuk menangani unsur gore, lalu menggandeng vendor efek visual Dalang Digital yang dipimpin Gaga Nugraha.
Persiapan CGI bahkan sudah dimulai sejak masa syuting. Charles menjelaskan bahwa tahap pre-production untuk adegan muka disobek saja berlangsung sekitar 6 bulan sebelum masuk ke penyempurnaan visual berikutnya.
Pendekatan itu menunjukkan bahwa adegan brutal ini diperlakukan sebagai elemen penting sejak awal produksi. Tim ingin memastikan hasil akhirnya tetap konsisten ketika ditonton di bioskop.
Menjadi adegan terakhir yang rampung
Proses teknis yang panjang itu berlanjut sampai menjelang distribusi film. Charles mengatakan adegan tersebut justru menjadi yang paling terakhir selesai sebelum film dicetak ke format Digital Cinema Package atau DCP.
Fakta itu memperlihatkan betapa rumitnya pengerjaan visual pada bagian tersebut dibanding banyak adegan lain. Produksi harus menjaga detail tetap rapi agar efek ngeri yang dituju tidak hilang saat tampil di layar besar.
Di balik sorotan pada gore, Badut Gendong membawa cerita yang gelap dan tragis. Film ini mengikuti Darso, pengamen jalanan yang hidupnya hancur setelah istri dan calon bayinya tewas akibat kebiadaban sekelompok preman.
Dalam kondisi duka dan kegilaan mendalam, Darso menyembunyikan jasad istrinya ke dalam boneka badut gendong miliknya. Ia lalu pulang ke kampung halaman dan mendapati desanya sudah dikuasai developer jahat.
Masalah di desa makin kacau saat seorang dukun memanggil kutukan dan entitas kejam. Situasi itu memicu amuk massa berdarah dan menyeret Darso ke pusaran dendam, kekerasan, serta kekuatan gelap.
Marthino Lio memerankan Darso dalam film ini. Sejumlah nama lain yang ikut tampil antara lain Clara Bernadeth, Dayinta Melira, Iskak Khivano, Totos Rasiti, Akbar Kobar, Vonny Anggraini, dan Jose Rizal Manua.
Badut Gendong dijadwalkan tayang di bioskop tanah air mulai 27 Mei 2026. Film ini hadir bertepatan dengan momen libur Lebaran Idul Adha dan ditujukan untuk penonton yang mencari horor-aksi dengan sajian visual gore yang digarap serius.
Source: www.medcom.id