Bagi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, penghentian sementara Car Free Day di Jalan HR Rasuna Said bukan tanda mundur, melainkan langkah untuk merapikan banyak detail yang belum siap. Koridor baru itu masih dinilai menyimpan sejumlah masalah kecil di lapangan, sehingga pelaksanaannya belum bisa langsung berjalan rutin.
Uji coba perdana HBKB di kawasan tersebut pada 10 Mei 2026 memang menunjukkan potensi besar. Namun, dari kegiatan itu juga muncul catatan teknis yang membuat Pemprov DKI memilih memberi jeda sebelum agenda tersebut digelar lagi secara mingguan.
Masih ada pekerjaan lapangan yang harus dibereskan
Dinas Perhubungan DKI Jakarta menargetkan CFD Rasuna Said dapat kembali digelar setiap Minggu pukul 05.30-09.00 WIB setelah penataan selesai. Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Syafrin Liputo menyebut pembenahan perlu menyentuh fasilitas pendukung, pengaturan lalu lintas, dan penataan aktivitas masyarakat.
Langkah itu dinilai penting agar kegiatan warga tidak justru memunculkan gangguan baru bagi arus kendaraan dan transportasi umum. Karena itu, penghentian sementara dipakai untuk memberi ruang evaluasi sebelum koridor tersebut dibuka lebih luas secara rutin.
Sejumlah catatan muncul dari uji coba perdana
Salah satu persoalan yang ditemukan adalah belum adanya titik putar kendaraan di sisi timur dan barat koridor. Kondisi ini ikut memengaruhi kelancaran lalu lintas di sekitar kawasan ketika sebagian ruas dipakai untuk kegiatan CFD.
Dishub DKI juga mencatat pembatas jalur Transjakarta belum terpasang sepenuhnya. Di titik lain, petugas masih menemukan parkir liar selama kegiatan berlangsung.
Penataan pelaku UMKM pun masuk daftar evaluasi. Aktivitas pedagang disebut belum tertib karena meluas hingga badan jalan dan mengganggu ruang gerak pengguna koridor.
Dampak ke arus lalu lintas dan kenyamanan pengguna jalan
Masalah lain datang dari pekerjaan jalan di jalur alternatif yang masih berjalan. Situasi itu ikut memicu kemacetan di sekitar lokasi saat rekayasa lalu lintas diterapkan.
Dishub DKI juga menyoroti perbedaan level ketinggian jalan setelah pembongkaran tiang monorel. Kondisi tersebut dinilai berpotensi mengganggu kenyamanan pengguna jalan saat CFD digelar.
Penumpukan aktivitas masyarakat di kawasan Plaza Festival turut menjadi perhatian. Dalam kondisi itu, sebagian pelari dan pesepeda tercatat menggunakan lajur bus Transjakarta.
Tetap dipertahankan sebagai ruang publik baru
Meski ada jeda, Pemprov DKI Jakarta masih melihat HBKB di Rasuna Said sebagai ruang publik yang bermanfaat. Koridor ini dianggap memberi alternatif area olahraga dan ruang berkegiatan baru bagi warga ibu kota.
Manfaat lain juga terlihat dari kualitas udara di sekitar lokasi. Syafrin menyampaikan hasil pengukuran menunjukkan udara saat HBKB lebih baik dibandingkan hari kerja biasa.
Kehadiran CFD di Rasuna Said juga dinilai membantu mengurangi kepadatan pengunjung di kawasan Sudirman-Thamrin. Pemerintah melihat pemerataan keramaian sebagai alasan penting untuk tetap mempertahankan koridor baru itu setelah evaluasi selesai.
Data Dishub DKI menunjukkan jumlah pengunjung HBKB tingkat provinsi di koridor Sudirman-MH Thamrin turun dari 29.256 orang pada 3 Mei 2026 menjadi 13.759 orang pada 10 Mei 2026. Penurunan itu setara sekitar 52,97 persen.
Angka tersebut dibaca sebagai tanda bahwa aktivitas warga mulai tersebar ke titik lain. Dengan begitu, beban penumpukan di lokasi CFD utama dapat berkurang ketika koridor alternatif seperti Rasuna Said dibuka.
Pemprov DKI menegaskan jeda sementara ini bukan akhir dari pengembangan CFD di kawasan tersebut. Jika pembenahan berjalan sesuai rencana, warga kembali bisa memanfaatkan Jalan HR Rasuna Said sebagai ruang berolahraga pada Juni 2026 dengan tata kelola yang lebih rapi daripada uji coba pertama.
Source: otomotif.kompas.com




