Serangan siber di sektor keuangan tidak lagi hanya soal kebocoran data. Di perbankan dan layanan keuangan, celah kecil pada alur bisnis dapat berubah menjadi kerugian finansial yang langsung terasa.
Karena itu, anggaran keamanan siber dinilai tidak layak dipangkas meski sebagian pelaku industri sedang meninjau ulang belanja teknologi informasi. Bagi perusahaan keuangan, pertahanan digital kini berkaitan langsung dengan perlindungan aset dan kelangsungan operasional.
Owner & Managing Director Spentera Group, Thomas Gregory, menegaskan bahwa biaya untuk keamanan siber bukan lagi pos tambahan. Menurut dia, nilai kerugian dari insiden siber justru bisa jauh lebih besar dibanding biaya pengujian keamanan.
Ancaman terbesar tidak selalu datang dari kode program yang bocor. Spentera melihat titik rawan justru sering muncul pada business logic, terutama pada alur transaksi, persetujuan, dan otorisasi yang lemah.
Di area itu, manipulasi limit atau saldo menjadi contoh risiko yang dapat memunculkan rugi langsung. Thomas menilai kondisi tersebut membuat serangan digital di jasa keuangan berbeda dari gangguan teknis biasa karena dampaknya bisa segera menyentuh nilai uang.
Tekanan untuk menjaga anggaran keamanan juga datang dari regulasi. Otoritas Jasa Keuangan dan Bank Indonesia menuntut sistem keamanan yang kuat di sektor finansial, sehingga alokasi dana untuk keamanan siber tetap harus tersedia.
Di tengah kebutuhan itu, Spentera meluncurkan Wolvesight sebagai platform aplikasi keamanan siber berbasis kecerdasan buatan buatan anak bangsa. Solusi ini ditujukan untuk perbankan, keuangan digital, fintech, asuransi, dan perusahaan strategis lain yang membutuhkan penetration testing.
Thomas menjelaskan bahwa Wolvesight hadir untuk mempercepat proses pengujian, termasuk saat antrean pengujian menumpuk dan tidak semua aplikasi bisa diuji bersamaan. Ia juga menilai platform ini dapat membantu meng-cover aplikasi yang belum sempat diuji keamanan.
Selama ini, pengujian di area business logic masih banyak dilakukan secara manual. Proses itu dapat memakan waktu berminggu-minggu, sehingga kebutuhan industri terhadap alat bantu yang lebih efisien tetap tinggi.
Spentera mencoba menjawab kebutuhan tersebut dengan memadukan kecerdasan buatan dan tenaga ahli. Perusahaan itu ingin mengubah pola kerja penetration testing agar tidak hanya bertumpu pada keahlian manual, tetapi juga lebih cepat dan akurat.
Pendekatan Wolvesight memakai multi-agent AI untuk menyusun skenario serangan dan simulasi eksploitasi secara terkontrol. Namun, validasi akhirnya tetap diawasi senior pentester berpengalaman di sektor perbankan.
Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya juga menyoroti keamanan siber sebagai fondasi transformasi digital Indonesia. Ia menilai penguatan keamanan digital harus berjalan agar transformasi tetap berkelanjutan, aman, dan inklusif sesuai visi Presiden Prabowo Subianto pada World Governments Summit 2025.
Teuku menyebut Wolvesight menunjukkan kemampuan Indonesia menghadirkan solusi digital yang kompetitif. Menurut dia, platform ini berbeda dari vulnerability scanner konvensional yang umumnya hanya mendeteksi celah teknis seperti SQL Injection atau Cross-Site Scripting.
Fokus Wolvesight berada pada keamanan alur bisnis yang dapat dimanfaatkan pelaku untuk memanipulasi nominal transaksi atau membypass persetujuan berjenjang. Kombinasi kebutuhan regulasi, risiko kerugian langsung, dan tuntutan operasional membuat anggaran keamanan siber tetap sulit untuk disisihkan dari prioritas perbankan.
Source: teknologi.bisnis.com