Di tengah meningkatnya kebutuhan keluarga urban terhadap asisten rumah tangga, pengasuh anak, dan caregiver, persoalan terbesar justru masih berada pada cara rekrutmen yang dipakai. Jalur yang terlalu tradisional dan minim verifikasi membuat proses masuknya pekerja ke rumah tidak selalu memberi rasa aman bagi keluarga.
Risikonya tidak hanya soal uang atau barang hilang. Saat pekerja rumah tangga langsung masuk ke ruang privat yang berisi anak-anak, lansia, dan aset berharga, potensi kekerasan fisik maupun psikologis ikut terbuka jika penyaringan sejak awal tidak dilakukan dengan baik.
Masalah utama di sektor tenaga kerja domestik Indonesia ada pada rekrutmen informal yang masih dominan. Sistem seperti ini kerap berjalan tanpa pengawasan memadai dan tanpa ikatan hukum yang jelas antara pemberi kerja dan pekerja.
Kondisi tersebut membuat berbagai masalah lebih mudah muncul, mulai dari pemalsuan identitas, penggelapan dana kerja, sampai tindakan membawa kabur barang milik majikan. Dalam banyak kasus, pemberi kerja baru mengetahui ada masalah setelah kerugian terjadi.
Lemahnya proses seleksi juga berarti watak asli atau gangguan perilaku calon pekerja tidak selalu terdeteksi sejak awal. Akibatnya, keluarga harus menanggung risiko yang sebenarnya bisa ditekan bila pemeriksaan dilakukan lebih ketat.
Ancaman itu menjadi jauh lebih serius ketika pekerja yang tidak tersaring dengan baik berinteraksi langsung dengan anggota keluarga yang rentan. Anak-anak dan lansia menjadi kelompok yang paling berisiko dalam situasi seperti ini.
Kasus kekerasan di ranah domestik pun sering baru terungkap setelah ada rekaman kamera pengawas atau ketika korban sudah mengalami dampak serius. Situasi semacam ini meninggalkan trauma panjang dan memperlihatkan bahwa seleksi yang longgar dapat menimbulkan kerugian lebih besar daripada sekadar kerugian finansial.
Ketiadaan lembaga resmi yang menelusuri latar belakang kandidat secara mendalam ikut memperbesar ketidakpastian. Saat orang asing masuk ke ruang privat keluarga tanpa verifikasi kuat, beban risikonya menjadi semakin tinggi.
Upaya menghadirkan jalur yang lebih terstruktur
Merespons celah tersebut, Cicana hadir sejak 2019 sebagai platform digital yang menawarkan rekrutmen tenaga kerja rumah tangga yang lebih aman, transparan, dan terstruktur. Platform ini menggabungkan proses seleksi, pelatihan, dan pencocokan pekerja dalam satu ekosistem digital.
Cicana mengklaim telah melayani lebih dari 6.000 pelanggan dan menarik lebih dari 1 juta pengunjung melalui situs resminya. Platform ini juga mencatat rata-rata pertumbuhan 2.367 prospek konsumen baru setiap bulan.
Validitas operasionalnya disebut telah diakui melalui sertifikasi resmi dari OSS dan Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia. Hal ini menjadi pembeda penting dibandingkan pola rekrutmen tradisional yang serba informal.
Seleksi berlapis untuk menekan risiko
Untuk mengurangi potensi masalah di rumah pengguna, Cicana menerapkan protokol seleksi tujuh lapis berbasis data. Dari data internal perusahaan pada 2025, rata-rata 3.249 pekerja mendaftar setiap bulan, tetapi hanya 40,71 persen yang lolos registrasi awal.
Setelah tahap itu, kandidat masih harus melewati background checking dan verifikasi final sebelum masuk proses berikutnya. Dari kandidat yang tersisa, hanya sebagian yang akhirnya lolos hingga sekitar 1.000 kandidat terbaik masuk ke sistem pencocokan untuk ditempatkan ke rumah pengguna.
Tahapan seleksi tersebut mencakup validasi dokumen administratif, verifikasi rekam jejak pekerja, pengecekan jejak digital, wawancara verifikasi data profil, Behavioral Event Interview atau BEI, verifikasi kontak darurat, dan placement conference. Metode BEI digunakan untuk menilai pengalaman nyata dan perilaku konkret yang pernah ditunjukkan kandidat.
Pendekatan itu membantu tim mengukur stabilitas emosi, tingkat kejujuran, dan kecocokan karakter dengan kebutuhan keluarga pemberi kerja. Di sektor yang sangat dekat dengan ruang privat rumah tangga, lapisan verifikasi seperti ini menjadi penentu penting bagi rasa aman pengguna.
Teknologi, pelatihan, dan kontrak yang lebih jelas
Founder Cicana, Bagus Dwi Prasetyo, menekankan bahwa teknologi dan sumber daya manusia yang terukur dibutuhkan agar proses rekrutmen lebih modern. Ia menyebut proses berbasis data bisa membuat pencocokan antara pemberi kerja dan pekerja rumah tangga lebih aman, mudah, dan efektif.
CEO & Co-Founder Cicana, Annisa Kartika, juga menegaskan bahwa sistem seleksi ketat tidak hanya ditujukan untuk menyaring kandidat. Menurutnya, pendekatan itu juga menjaga keseimbangan ekspektasi antara keluarga pemberi kerja dan pekerja rumah tangga sebagai profesi yang bermartabat.
Cicana kemudian melengkapi ekosistemnya dengan Learning Management System bernama Cicana School of ART. Wadah ini dirancang untuk meningkatkan kompetensi, tata krama, dan kemampuan teknis pekerja secara berkelanjutan.
Layanan Cicana saat ini mencakup ART, babysitter, caregiver, hingga driver. Pengguna juga bisa memilih sistem kerja sesuai kebutuhan, mulai dari live-in, live-out, hingga paket infal.
Seluruh operasional rekrutmen dijalankan secara daring dengan kontrak hukum yang jelas dan transparansi biaya. Platform ini juga menyatakan tidak menerapkan potongan gaji sepihak yang merugikan pekerja.
Di tengah tingginya kebutuhan keluarga terhadap ART dan caregiver, proses rekrutmen yang terstandar menjadi faktor penting untuk menjaga keamanan rumah tangga. Pada saat yang sama, mekanisme yang lebih rapi juga memberi perlindungan bagi pekerja agar tidak terjebak dalam sistem yang merugikan.
Source: www.suara.com