Radify Metals sedang mencoba membuka jalur baru dalam produksi logam tanah jarang dengan mengandalkan reaktor plasma. Fokusnya bukan pada penambangan, melainkan pada tahap yang sering luput dibahas: mengubah metal oksida menjadi logam murni yang kemudian dipakai untuk magnet, elektronik, dan berbagai material industri.
Pendekatan ini muncul di tengah dominasi China yang masih sangat kuat di pasar logam tanah jarang. Banyak negara memang sudah bergerak membangun tambang dan fasilitas produksi baru, tetapi jaringan industri yang sudah lama terbentuk di China membuat persaingan tetap sulit ditembus.
Mencari celah di tahapan yang sering diabaikan
Menurut Zach Detweiler, salah satu pendiri sekaligus CEO Radify Metals, hambatan terbesar tidak selalu berada di sisi hulu atau hilir. Ia menilai ada “missing middle” yang selama ini kurang diperhatikan, yaitu proses pemurnian metal oksida menjadi logam murni.
Tahap ini penting karena kualitas logam murni sangat menentukan hasil akhir paduan logam. Jika material yang dihasilkan lebih murni, maka ia lebih mudah diolah menjadi magnet yang lebih kuat dan elektronik yang lebih efisien.
Selama ini, industri umumnya memakai panas atau air bersama unsur lain untuk melepaskan oksigen dari metal oksida. Cara itu sudah terbukti efektif, tetapi juga menghasilkan limbah yang menimbulkan masalah lingkungan.
Plasma sebagai jalur alternatif
Radify menawarkan proses berbeda dengan memanfaatkan plasma, yaitu campuran partikel yang sangat panas dan sangat energik. Dalam sistem ini, oksigen dipisahkan dari metal oksida, sementara limbah utamanya hanya berupa uap air.
Metode plasma sendiri bukan gagasan baru dalam dunia industri. Namun, selama bertahun-tahun pendekatan ini dianggap terlalu mahal untuk diterapkan secara komersial.
Radify mengklaim berhasil menurunkan hambatan biaya tersebut lewat elektronik daya yang lebih efisien serta rekayasa khusus untuk menangani bubuk logam. Perusahaan juga memberi akses eksklusif kepada TechCrunch untuk melihat teknologinya secara langsung.
Fokus awal pada dysprosium dan samarium
Saat ini, reaktor Radify diarahkan untuk dua unsur tanah jarang, yakni dysprosium dan samarium. Keduanya penting untuk magnet dan perangkat elektronik yang membutuhkan performa tinggi.
Cara kerjanya dimulai dengan memanaskan hidrogen hingga berubah menjadi plasma. Setelah itu, bubuk metal oksida disemprotkan ke ruang reaktor, lalu oksigen yang terikat pada logam dipisahkan hingga tersisa logam murni di sisi lain reaktor.
Sistem ini dirancang agar parameternya bisa disesuaikan untuk menghasilkan logam yang berbeda dengan perangkat yang sama. Dengan begitu, satu reaktor tidak hanya bergantung pada satu jenis output saja.
Ukuran lebih kecil, ruang gerak lebih besar
Radify menyebut reaktornya dapat dibuat lebih kecil dibanding mesin besar yang lazim digunakan di industri saat ini. Desain yang lebih ringkas seperti ini berpotensi menekan biaya manufaktur sekaligus memberi fleksibilitas produksi yang lebih tinggi.
Fleksibilitas itu menjadi penting ketika pasar bergerak tidak stabil. Detweiler mencontohkan situasi saat China menekan harga dysprosium sangat rendah untuk menekan para pesaing di luar negeri.
“Kalau China menurunkan harga dysprosium dan menjualnya seharga satu dolar per kilogram karena ingin mematikan banyak bisnis di luar sana, kami tidak mati karena bisa beralih ke titanium atau zirconium,” kata Detweiler.
Masih di tahap laboratorium
Tim Radify saat ini hanya berjumlah lima orang dan masih menyempurnakan teknologinya di laboratorium mereka di Campbell, California. Perusahaan menargetkan dapat memproduksi beberapa kilogram logam murni per hari pada akhir tahun.
Dalam beberapa bulan ke depan, Radify juga berencana mencari pendanaan tambahan untuk membangun reaktor percontohan. Fasilitas itu ditargetkan mampu menghasilkan hingga 100 kilogram per hari.
Dari sisi modal, Radify sudah menghimpun dana sedikit di bawah US$3 juta dari Overture, Founders Inc., Mana Ventures, dan Acequia Capital. Dana ini menjadi bekal untuk mendorong pengembangan teknologi ke tahap berikutnya.
Menatap pasar yang masih dikuasai China
Jika hasil laboratorium bisa diulang dalam skala yang lebih besar, Radify berpeluang menjadi pesaing yang lebih serius bagi produsen China. Saat ini, rare-earth di luar China disebut dijual beberapa kali lebih mahal dibanding harga di China.
Detweiler memperkirakan Radify bisa memproduksi rare-earth dengan biaya sekitar 50% lebih mahal dari harga China dalam jangka pendek. Ia juga menilai harga spot China bisa naik, sementara setelah skala produksi membesar, Radify menargetkan biaya yang setara atau bahkan lebih rendah.
Di luar rare-earth, perusahaan juga meneliti logam lain seperti hafnium, uranium, scandium, dan titanium. Material-material itu dipakai di sektor elektronik, dirgantara, dan industri material berperforma tinggi.
Radify juga melihat peluang pada logam yang lebih umum seperti besi dan aluminium, meski efisiensi teknologinya belum cukup untuk menyaingi pemain mapan di pasar tersebut. Bila plasma nantinya bisa digunakan secara ekonomis untuk lebih banyak logam, cara produksi logam global bisa berubah secara mendasar.





