Kekhawatiran terbesar soal komputasi kuantum terhadap aset digital kini bukan lagi sekadar skenario jauh di depan. Citi menilai kemajuan riset terbaru telah memangkas jarak menuju serangan kuantum yang praktis, dan di antara jaringan besar, Bitcoin dinilai lebih terbuka dibanding Ethereum.
Pembedaan itu terutama terlihat dari cara masing-masing jaringan bereaksi terhadap ancaman baru. Citi menilai Ethereum dan jaringan proof-of-stake lain punya ruang manuver yang lebih fleksibel, sementara Bitcoin dinilai akan lebih lambat bergerak karena perubahan protokolnya sangat bergantung pada konsensus luas.
Dalam catatan riset pekan ini, analis Citi melihat bahwa kesiapan blockchain terhadap kriptografi tahan kuantum tidak akan datang serentak. Bitcoin berada di posisi yang lebih sulit karena desain dasarnya membuat pembaruan besar memerlukan proses panjang, pengujian luas, dan kemungkinan hard fork yang tidak mudah disepakati.
Salah satu perhatian utama ada pada cara transaksi Bitcoin bekerja. Citi menyoroti bahwa public key pengirim terlihat di jaringan sampai transaksi terkonfirmasi, sehingga secara teoretis memberi celah bagi penyerang kuantum untuk menurunkan private key dan memindahkan dana.
Masalah itu menjadi lebih sensitif karena tata kelola Bitcoin dikenal bergerak lambat. Model yang konservatif memang mendukung kredibilitas jaringan, tetapi pada saat yang sama membuat perubahan cepat terhadap ancaman baru menjadi rumit dan penuh perdebatan.
Di sisi lain, Ethereum dipandang lebih lentur karena riwayat pembaruan protokolnya lebih rutin. Citi menilai karakter ini membuat Ethereum dan jaringan proof-of-stake lain berada pada posisi yang lebih siap saat tekanan untuk beradaptasi semakin besar.
Meski begitu, Ethereum tidak dianggap kebal. Analis Citi menyebut penyerang yang memanfaatkan komputasi kuantum secara teoretis bisa mengumpulkan cukup private key untuk menguasai sekitar 33% aset yang dipertaruhkan di jaringan, yang pada akhirnya dapat mengganggu finalitas blok atau operasi jaringan.
Ancaman kuantum juga dinilai terus mendekat dari sisi teknis. Riset terbaru Google disebut memperkirakan mesin 500.000 qubit dapat memecahkan enkripsi tersebut dalam hitungan menit, meski perangkat seperti itu belum ada saat ini.
Google menempatkan estimasi Q-Day, yaitu momen ketika komputer kuantum cukup kuat untuk memecahkan kriptografi saat ini, pada 2032. Sejumlah peneliti lain bahkan menilai peristiwa itu bisa terjadi seawal 2030.
Citi juga menyorot skala masalah koin tidur di Bitcoin. Diperkirakan ada 6,7 juta hingga 7 juta BTC di dompet yang public key-nya sudah terekspos, sehingga menjadi target yang terkonsentrasi.
Dari jumlah itu, sekitar 1 juta Bitcoin yang diyakini ditambang oleh Satoshi Nakamoto belum tersentuh. Koin tersebut berada di format alamat awal yang dinilai sangat rentan, dengan nilai sekitar $82 miliar pada harga saat ini.
Karena itu, Citi menilai daya tahan jangka panjang lebih ditentukan oleh kemampuan beradaptasi daripada desain yang ada sekarang. Mereka menyorot BIP-360 dan BIP-361 sebagai proposal upgrade yang layak dipantau untuk kesiapan kuantum Bitcoin.
Pandangan tersebut sejalan dengan komentar Fireblocks CEO Michael Shaulov di Financial Times Digital Asset Summit. Ia menyebut tantangan kuantum Bitcoin pada dasarnya adalah persoalan koordinasi bagi komunitas Bitcoin, bukan semata-mata masalah teknis.





