Aroma sedap daging kurban sering membuat orang ingin segera memasaknya, tetapi keamanan pangan tetap harus jadi perhatian utama. Yang menentukan bukan hanya hewan kurbannya sehat, melainkan juga cara daging ditangani sejak dipotong, disimpan, sampai akhirnya matang di panci.
Wakil Ketua Lembaga Kesehatan MUI, Dr. dr. Bayu Wahyudi, menegaskan bahwa mutu daging kurban sangat bergantung pada disiplin kebersihan di setiap tahap. Mulai dari hewan, alat, lokasi penyembelihan, penyimpanan, hingga pemasakan, semuanya punya peran yang sama penting.
Di banyak rumah tangga, stok daging sapi, kambing, atau domba biasanya menumpuk setelah Iduladha. Kondisi ini membuat cara penyimpanan tidak boleh asal, karena daging yang dibiarkan tanpa pengaturan suhu bisa lebih cepat turun kualitasnya.
Sebelum sampai ke dapur, perhatian utama justru perlu diberikan sejak awal proses penyembelihan. Hewan kurban harus sehat, tidak cacat fisik, dan bebas dari penyakit menular agar daging yang dihasilkan layak dikonsumsi.
Tempat penyembelihan juga tidak kalah penting. Lokasi harus bersih dan memiliki saluran pembuangan limbah yang memadai supaya lingkungan sekitar tidak tercemar dan mutu daging tetap terjaga.
Setelah hewan dipotong, alat yang dipakai harus dijaga benar-benar bersih. Dr. Bayu menekankan bahwa pisau atau alat pemotong daging harus tajam dan steril, sementara tangan petugas juga perlu tetap higienis.
Ada satu hal yang sering diabaikan, yaitu pemisahan alat. Alat untuk memotong daging sebaiknya tidak dipakai bergantian dengan alat yang digunakan untuk isi perut atau darah, karena risiko kontaminasi silang bisa muncul dari sana.
Begitu daging selesai dipotong, pencucian juga perlu dilakukan dengan cara yang tepat. Daging cukup dibilas dengan air bersih yang mengalir, tanpa perlu direndam terlalu lama dalam wadah berisi air.
Soal wadah, pilihan penyimpanan juga harus diperhatikan. Daging sebaiknya dimasukkan ke dalam wadah bersih dan tertutup rapat, bukan kantong plastik hitam kresek karena jenis plastik itu disebut mengandung senyawa kimia berbahaya yang dapat berpindah ke daging.
Jika daging belum langsung dimasak, lama tunggu dan suhu simpan perlu disesuaikan dengan rencana pengolahan. Daging boleh dibiarkan di suhu ruang hanya bila waktu memasaknya kurang dari dua jam.
Untuk simpan lebih lama, lemari es dan freezer punya batas masing-masing. Daging yang akan dimasak dalam 1 hingga 2 hari sebaiknya disimpan pada suhu 4°C, sedangkan penyimpanan sampai 3 bulan memerlukan freezer dengan suhu -18°C.
Pengaturan suhu ini bukan sekadar soal awet atau tidak. Langkah tersebut membantu menekan pertumbuhan mikroba sekaligus menjaga kualitas daging agar keluarga bisa mengolahnya bertahap tanpa harus memasak semuanya sekaligus.
Tahap paling akhir tetap tidak boleh disepelekan, yaitu pemasakan. Daging kurban harus dimasak sampai benar-benar matang dengan suhu internal minimal 70°C agar bakteri atau mikroba berbahaya mati.
Dr. Bayu juga mengingatkan agar olahan daging tidak dibuat terlalu berat dengan minyak atau santan berlebihan. Dengan penanganan yang higienis sejak awal dan pemasakan yang tepat, daging kurban tetap aman dinikmati sampai habis di meja makan.
Source: www.medcom.id