Dorongan agar anak menerima imunisasi lengkap kini tidak lagi hanya bertumpu pada imbauan. Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono sedang menyiapkan skema insentif untuk membuat lebih banyak orang tua terdorong membawa anak mereka ke layanan imunisasi.
Langkah itu muncul karena cakupan imunisasi nasional masih berada di angka 80,2%, sementara target pemerintah masih 90%. Dalam kunjungan kerja ke Banda Aceh, Dante menilai pendekatan yang selama ini digunakan belum cukup kuat untuk mengejar selisih tersebut.
Selama ini, penghargaan bagi anak yang sudah mendapatkan imunisasi lengkap masih sebatas sertifikat. Pemerintah kini menimbang bentuk apresiasi lain yang dinilai lebih menarik agar minat keluarga ikut meningkat.
Dante menyebut insentif yang akan diusulkan bisa berupa makanan tambahan atau sekolah gratis bagi anak yang mau imunisasi. Gagasan itu diarahkan untuk memperkuat upaya menaikkan cakupan imunisasi, terutama di daerah yang tertinggal.
Fokus perhatian besar tertuju ke Banda Aceh karena cakupan imunisasi anak di wilayah itu baru sekitar 33%. Angka tersebut jauh di bawah capaian nasional dan menunjukkan masih besarnya pekerjaan rumah yang harus dikejar.
Dante mengingatkan bahwa sebelum pandemi Covid-19, cakupan imunisasi di ibu kota Provinsi Aceh itu sempat mencapai 83%. Setelah pandemi, angkanya terus menurun dan ikut memunculkan risiko penularan penyakit yang lebih besar.
Ia juga menyinggung kemunculan kasus campak di tengah turunnya cakupan imunisasi. Menurut Dante, dengan cakupan 33%, jumlah anak yang terkena campak di Provinsi Aceh mencapai 263 kasus, sedangkan di Kota Banda Aceh tercatat 24 kasus.
Dari sisi pemerintah daerah, Wali Kota Banda Aceh Illiza Sa’aduddin Djamal menyampaikan bahwa sekitar 63% anak di kota itu masih berstatus zero dose atau belum pernah mendapat imunisasi sama sekali. Kondisi ini berkaitan dengan temuan 119 kasus campak di Banda Aceh.
Illiza juga menyebut angka tuberculosis di wilayah tersebut sudah mencapai 1.600 lebih. Ia menilai situasi itu menjadi peringatan serius karena rendahnya imunisasi berdampak langsung pada penyebaran penyakit di masyarakat.
Untuk mengejar ketertinggalan, Pemerintah Kota Banda Aceh menyiapkan sejumlah langkah yang menyasar layanan dan pendataan. Penguatan layanan primer lewat Puskesmas dan Posyandu menjadi strategi awal agar akses masyarakat lebih mudah.
Langkah berikutnya adalah pemetaan hingga tingkat gampong atau desa supaya data anak yang belum imunisasi lebih akurat. Pemerintah kota juga menyiapkan gerakan jemput bola karena sebagian keluarga dinilai bukan menolak imunisasi, melainkan belum mendapatkan informasi yang utuh.
Pendekatan persuasif dan manusiawi kepada orang tua juga menjadi bagian dari strategi daerah. Dengan cara itu, pemerintah berharap lebih banyak keluarga bersedia membawa anak mereka untuk imunisasi lengkap, terutama di wilayah dengan angka zero dose yang masih tinggi.
Dorongan insentif dari pemerintah pusat dan upaya jemput bola dari daerah sama-sama diarahkan pada tujuan yang sama. Cakupan imunisasi diharapkan naik, sementara risiko penularan penyakit pada anak bisa ditekan lebih cepat.
Source: lifestyle.bisnis.com