Peningkatan kewaspadaan terhadap campak kini tidak hanya menyasar anak-anak, tetapi juga orang dewasa yang punya risiko paparan lebih tinggi. BPOM menilai perlindungan perlu diperkuat segera setelah mencatat 10 kematian akibat campak di Indonesia selama 2026, karena temuan itu menunjukkan penularan masih berlangsung aktif.
Situasi ini menjadi lebih mengkhawatirkan karena sekitar 8 persen kasus tercatat terjadi pada kelompok usia dewasa di atas 18 tahun. Artinya, celah imunisasi tidak lagi bisa dipandang sebagai persoalan satu kelompok usia saja, melainkan isu kesehatan lintas usia yang membutuhkan respons lebih cepat.
Cakupan imunisasi belum mencapai batas aman
Di tengah masih beredarnya campak, Kementerian Kesehatan mencatat cakupan imunisasi campak-rubela atau MR pada 2024 baru mencapai 92 persen untuk dosis pertama. Untuk dosis kedua, angkanya masih 82,3 persen, jauh dari ambang minimal 95 persen yang dibutuhkan untuk membentuk kekebalan kelompok.
Selama angka itu belum tercapai, rantai penularan tetap terbuka di masyarakat. Kondisi tersebut membuat upaya pengendalian campak belum bisa dianggap aman meski program imunisasi sudah berjalan.
Risiko campak tetap serius
Campak dikenal sangat mudah menular dan dapat berujung pada komplikasi berat. Penyakit ini bisa memicu pneumonia, ensefalitis, hingga subacute sclerosing panencephalitis atau SSPE yang dapat berakibat fatal.
Karena itu, setiap kekurangan dalam perlindungan imunisasi memiliki dampak besar. Saat cakupan belum merata, virus masih berpeluang menyebar di berbagai kelompok masyarakat.
Perlindungan juga penting bagi orang dewasa
BPOM menekankan bahwa pencegahan campak tidak berhenti pada anak-anak. Tenaga kesehatan, pelaku perjalanan internasional, dan orang yang sering berkontak dengan pasien imunokompromais juga perlu memperhatikan status imunisasinya.
Temuan kasus pada dewasa memperlihatkan bahwa perlindungan di luar kelompok anak masih belum sepenuhnya kuat. Pada kelompok dengan paparan tinggi, vaksinasi dan konsultasi medis menjadi langkah yang relevan untuk menekan risiko.
Vaksin MMR dipercepat untuk memperkuat pertahanan
Di tengah meningkatnya kewaspadaan itu, BPOM memberikan izin edar untuk vaksin MMR yang melindungi dari campak, gondongan, dan rubela. Langkah ini ditujukan untuk memperkuat perlindungan masyarakat sekaligus membantu menekan penyebaran penyakit menular.
Country Medical Director Calvin Kwan menegaskan bahwa pencegahan penyakit menular membutuhkan keterlibatan banyak pihak. Ia menyebut pencegahan sebagai tanggung jawab bersama, dan setiap individu yang terlindungi menjadi langkah menuju masyarakat yang lebih kuat dan sehat.
Respons cepat dinilai penting
Director of Market Access and CGA Reswita Dery Gisriani mengapresiasi percepatan persetujuan vaksin di tengah meningkatnya kasus campak. Menurutnya, respons cepat regulator penting untuk memperkuat ketahanan kesehatan nasional dan melindungi kelompok rentan, terutama anak-anak.
Di sisi lain, standar perlindungan global juga menempatkan ketepatan waktu sebagai bagian penting dari imunisasi. World Health Organization merekomendasikan dosis pertama vaksin campak pada usia sekitar sembilan bulan di wilayah berisiko tinggi, lalu dosis kedua pada usia 15 hingga 18 bulan agar perlindungan lebih optimal.
Dengan masih adanya kematian dan munculnya kasus pada kelompok dewasa, perhatian terhadap imunisasi campak menjadi semakin mendesak. Ketersediaan vaksin dan kepatuhan melengkapi jadwal imunisasi tetap menjadi dua kunci utama untuk menekan penularan di Indonesia.
Source: www.suara.com