Burung Kerak Hitam Di Indonesia Ternyata Punya Banyak Wajah, Dari Yang Berani Hingga Bisa Meniru Suara Manusia

Di antara burung kerak hitam yang hidup di Indonesia, ada satu hal yang paling menonjol: kemampuannya beradaptasi dengan lingkungan yang sangat beragam. Sebagian bisa tampil berani di sekitar manusia, sementara yang lain justru dikenal vokal dan bahkan mampu meniru suara manusia.

Kelompok ini tidak hanya terdiri dari satu jenis, melainkan mencakup kerak kerbau, kerak sulawesi, kerak besar, kerak ungu, dan kerak jambul. Perbedaan bentuk tubuh, sebaran wilayah, serta kebiasaan hidupnya menunjukkan betapa kayanya keragaman fauna Indonesia dari kelompok burung ini.

Kerak jambul dan kerak ungu menonjol karena perilaku unik

Di antara lima jenis tersebut, kerak jambul menjadi yang paling menarik perhatian karena sifatnya yang sangat vokal. iNaturalist menyebut burung ini memiliki beberapa jenis suara, mulai dari siulan, kicauan, hingga cekikian, dan masing-masing dipakai untuk fungsi yang berbeda, termasuk mengusir predator serta berkomunikasi.

Kerak jambul juga dikenal mampu meniru suara manusia. Burung pemakan segala ini hidup di Asia, terutama di area hangat yang dipenuhi rerumputan atau pepohonan, dan pada masa lalu juga populer sebagai burung peliharaan.

Sementara itu, kerak ungu menunjukkan sisi sosial yang kuat. Burung ini hidup hampir di seluruh wilayah tropis dunia, kecuali Amerika Selatan, dengan habitat yang mencakup area hangat, hutan, kebun, lahan pertanian, hingga kota yang padat aktivitas manusia.

Kerak ungu cenderung hidup dalam kelompok kecil dan menghindari area yang terlalu rapat. Animal Diversity Web menyebut burung ini mencapai kematangan seksual pada usia 1 tahun, lalu betina dapat menghasilkan hingga lima telur saat musim kawin.

Ada jenis yang sebarannya luas, ada pula yang lebih terbatas

Kerak kerbau atau Acridotheres javanicus termasuk jenis yang mudah dikenali dari tubuh hitam dengan paruh dan kaki kuning yang mencolok. Sebarannya cukup luas, mencakup Thailand, Jawa, Bali, Malaysia, Taiwan, Nepal, hingga Jepang.

Menurut Thai National Parks, kerak kerbau tergolong omnivor. Makanannya meliputi nektar, biji-bijian, buah-buahan, serangga, sampai sampah buangan manusia.

Sifatnya yang berani membuat burung ini tidak takut pada manusia. Karena itu, kerak kerbau kerap terlihat di hutan, kebun, maupun area pemukiman.

Berbeda dari kerak kerbau, kerak sulawesi punya sebaran yang tidak sesederhana namanya. Acridotheres cinereus bukan hanya dijumpai di Sulawesi, tetapi juga tercatat di Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Timur, Sabah, dan Tawau menurut BirdLife DataZone.

Populasi di Nusa Tenggara Timur disebut memiliki asal-usul yang belum diketahui secara pasti. Dari ciri fisik, burung ini memiliki tubuh bagian atas hitam, perut abu-abu, paruh kuning, kaki kuning, dan mata jingga.

Kerak besar mudah dikenali dari jambulnya

Kerak besar atau Acridotheres grandis punya penanda visual yang paling mudah dilihat, yaitu jambul di kepala. Jambul itu terbentuk dari bulu yang menjulang tinggi sehingga membuat tampilannya berbeda dari jenis kerak lain.

Avibase mencatat sebaran kerak besar meliputi Nepal, India, Bangladesh, Indonesia, dan wilayah Asia Tenggara lainnya. Habitatnya juga cukup beragam, mulai dari hutan, semak-semak, kebun, pepohonan, hingga area pemukiman.

Spesies ini bahkan tercatat berada di kawasan konservasi. Avibase menyebut kerak besar dapat ditemukan di Taman Nasional Kaziranga dan Suaka Margasatwa Koshi Tappu.

Lima jenis kerak hitam ini memperlihatkan bahwa satu kelompok burung bisa memiliki wajah yang sangat berbeda. Dari kerak kerbau yang mudah beradaptasi, kerak sulawesi yang sebarannya menarik dicermati, hingga kerak jambul yang bisa meniru suara manusia, semuanya menjadi bagian dari kekayaan burung di Indonesia.

Source: www.idntimes.com

Baca Juga

Back to top button