Burung Kecil Ini Lebih Sering Terdengar Daripada Terlihat, Saat Hujan Mulai Mendekat

Di banyak wilayah terbuka, suara burung puyuh hujan sering lebih dulu terdengar sebelum tubuh kecilnya terlihat. Karena kebiasaannya bersembunyi di antara rerumputan, burung ini kerap luput dari pandangan meski kemunculannya mudah dikenali lewat suara.

Puyuh hujan atau rainquail memang dikenal sebagai burung yang sulit diamati. Nama ilmiahnya Coturnix coromandelica, dan sebarannya mencakup anak benua India hingga Asia Tenggara.

Mengapa burung ini begitu sering terdengar

Ciri paling menonjol dari puyuh hujan adalah perilakunya yang tidak suka menampakkan diri. Saat didekati, burung ini cenderung diam atau berlari di antara rerumputan, sehingga pengamatan langsung sering kali tidak mudah.

Kebiasaan itu membuatnya lebih sering dikenali dari suara dibandingkan dari penampakan fisik. Kamuflase tubuhnya juga membantu burung ini menyatu dengan lingkungan berumput di sekitarnya.

Habitatnya dekat dengan lahan terbuka

Puyuh hujan hidup di wilayah dengan vegetasi rendah. Habitat yang dipilihnya meliputi padang rumput, lahan bersemak terbuka, ladang tanam, tepi lahan basah, dan lahan yang tidak ditanami.

Sebarannya memang luas, tetapi burung ini tetap kerap tak terdeteksi. Wilayah temuan puyuh hujan mencakup India, Pakistan, Nepal, Sri Lanka, Bangladesh, Myanmar, Thailand, Kamboja, hingga Vietnam.

Ciri tubuh jantan dan betina berbeda

Seperti puyuh pada umumnya, tubuh puyuh hujan tergolong gemuk. Panjang tubuhnya sekitar 15—75 sentimeter dengan berat 64—71 gram.

Corak tubuhnya bergaris dan membantu fungsi kamuflase. Pada jantan, ada bercak bulu hitam di tenggorokan dengan batas putih yang khas, sedangkan betina tidak memilikinya dan cenderung berwarna krem dengan garis-garis yang lebih terang.

Ciri itulah yang membuat puyuh hujan juga disebut sebagai black-breasted quail atau burung puyuh dada hitam. Perbedaan warna antara jantan dan betina menjadi salah satu penanda penting saat burung ini berhasil diamati.

Kemunculannya erat dengan musim hujan

Julukan rainquail muncul karena burung ini mengikuti curah hujan dan ketersediaan makanan. Berbeda dari puyuh lain yang merancah jarak jauh, puyuh hujan cenderung berpindah tempat tinggal sesuai dengan kondisi hujan.

Karena itu, suara burung ini sering dikaitkan dengan datangnya musim hujan. Musim kawinnya dimulai setelah musim monsun barat daya pada bulan Juni, dan pada masa ini suaranya lebih sering terdengar, terutama pada pagi serta senja hari.

Nature Story Teller menyebut musim kawinnya dimulai saat musim hujan. Di beberapa bagian Rajasthan dan Gujarat, suara burung ini bahkan dipercaya sebagai pertanda hujan yang baik dan kesuburan tanaman.

Sarang sederhana dan pola asuh yang unik

Dalam urusan berkembang biak, puyuh hujan tidak membuat sarang yang rumit. Telurnya diletakkan di cekungan tanah atau kadang di tempat terbuka di bawah semak-semak.

Betina biasanya menghasilkan 4—6 butir telur dalam satu sarang. Dalam kondisi tertentu, beberapa betina bisa bertelur di sarang yang sama sehingga jumlahnya mencapai 16 butir.

Anak burung sudah bisa meninggalkan sarang setelah menetas. Meski begitu, mereka tetap ditemani kedua induknya selama delapan bulan berikutnya.

Perannya di padang rumput tidak kecil

Makanan puyuh hujan terdiri dari biji rerumputan, larva serangga, dan invertebrata kecil. Dari pola makan itu, burung ini ikut berperan sebagai penyebar biji-bijian sekaligus pengontrol populasi serangga dan invertebrata.

Ketersediaan mangsanya bisa terganggu oleh penggunaan pestisida. Karena itu, keberadaan puyuh hujan juga berkaitan erat dengan kondisi ekosistem padang rumput dan lahan terbuka yang masih sehat.

Source: www.idntimes.com

Baca Juga

Back to top button